Ketua Pengurus YESI Julia Rezeki (Foto: Istimewa)
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya ancaman digital mendorong kebutuhan tenaga profesional yang tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga memahami cara kerja, keamanan, dan penerapannya.
Menjawab kebutuhan tersebut, Yayasan Edukasi Siber Indonesia (YESI) tengah mempersiapkan pendirian Politeknik Siber Indonesia (PSI) dengan tiga bidang pendidikan sarjana terapan, yakni Kecerdasan Buatan dan Robotik, Sistem Siber Fisik, serta Rekayasa Keamanan Siber.
Ketua Pengurus YESI Julia Rezeki mengatakan, pendidikan vokasi di bidang teknologi perlu menitikberatkan pada keterampilan praktis, pengalaman laboratorium, dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Bagi YESI, pengembangan pendidikan kecerdasan buatan harus dilaksanakan secara terencana, terukur, dan bertanggung jawab. Kita tidak cukup hanya menambah program studi, tetapi harus memastikan pendidikan yang diselenggarakan mampu menghasilkan kompetensi nyata,” kata Julia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat 9 Oktober 2026.
Tiga bidang yang disiapkan tersebut memiliki fokus berbeda. Kecerdasan Buatan dan Robotik diarahkan pada pengembangan sistem cerdas dan otomatisasi. Sistem Siber Fisik mempelajari integrasi komputasi, sensor, komunikasi, dan proses fisik, termasuk untuk kebutuhan industri. Sementara itu, Rekayasa Keamanan Siber berfokus pada kemampuan menguji, melindungi, dan memperkuat ketahanan sistem digital.
Menurut Julia, ketiga bidang itu perlu dikembangkan secara terintegrasi. AI, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari keamanan siber, pengelolaan data, rekayasa perangkat lunak, dan sistem komputasi.
“Kecerdasan buatan tidak seharusnya dipisahkan sepenuhnya dari keamanan siber, rekayasa perangkat lunak, pengelolaan data, dan sistem komputasi. Integrasi keilmuan inilah yang perlu diperhatikan ketika perguruan tinggi merancang kurikulum, konsentrasi pembelajaran, maupun program studi baru,” ujarnya.
Di sisi lain, perkembangan AI juga membawa risiko. Teknologi ini dapat membantu mendeteksi ancaman dan mengotomatisasi pertahanan digital, tetapi berpotensi dimanfaatkan untuk memperluas serangan siber, memanipulasi informasi, dan menyalahgunakan identitas.
Karena itu, Julia menilai mahasiswa perlu dibekali bukan hanya kemampuan teknis, melainkan juga pemahaman keamanan sistem dan etika penggunaan teknologi.
Meski demikian, pendirian PSI masih dalam tahap persiapan. YESI masih perlu memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari kurikulum, ketersediaan dosen dan laboratorium, pembiayaan, hingga perizinan pembukaan program studi.
“Rancangan tersebut akan terus dikembangkan melalui kajian akademik, persiapan kelembagaan, dan pemenuhan persyaratan perizinan. Kami memandang proses penilaian pemerintah sebagai bagian penting untuk memastikan bahwa pendidikan yang kelak diselenggarakan memiliki kualitas dan keberlanjutan yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Julia.
Ia menambahkan, kemandirian teknologi nasional tidak cukup dibangun dengan menambah kampus dan fasilitas komputasi, tetapi juga membutuhkan kualitas pengajar, kemampuan mahasiswa, riset, serta pembiayaan yang berkelanjutan.