Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Rupiah ditutup berlawanan arah pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.118, menguat 81 poin atau 1,36 persen dari perdagangan sebelumnya.
Sebanyak 526 saham menguat, 153 saham melemah dan 114 saham lainnya stagnan. Pele
Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan volume mencapai 40 miliar saham. Nilai transaksi tercatat Rp9,9 triliun dengan frekuensi 1,6 juta kali transaksi.
Sejalan dengan penguatan indeks, kapitalisasi pasar BEI meningkat menjadi Rp10.778 triliun.
Namun, penguatan pasar saham tidak diikuti pergerakan Rupiah. Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup di level Rp17.917 per Dolar AS, melemah 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap Rupiah masih dibayangi ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.
"Sejak konflik Timur Tengah bergejolak, Indonesia telah kehilangan 25 persen sumber pasokan impor bahan bakar. Sehingga pemerintah harus mencari sumber minyak dari negara lain guna untuk menjaga pasokan bahan bakar minyak (BBM) tetap aman," kata Ibrahim dalam risetnya.
Menurutnya, pemerintah kini tengah melakukan hunting atau pencarian langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok BBM.
Ibrahim menyebut pemerintah kini memiliki dua prioritas utama untuk menjaga ketahanan pasokan nasional.
"Ada dua prioritas pemerintah dalam menghadapi kondisi tersebut. Pertama, menjaga harga BBM subsidi, khususnya solar dan bensin, agar tetap tidak mengalami kenaikan. Kedua, Pemerintah tetap menjaga ketahanan stok BBM nasional pada level 18–20 hari," tegasnya.
Ia pun memprediksi Rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.910 - Rp17.960 pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026.
Sementara dalam perdagangan pekan depan ini berada direntang Rp17.750 - Rp18.050 per Dolar AS.