Berita

Ilustrasi Pemilu 2024. (Foto: RMOL)

Politik

Pencalonan Presiden Berbasis Fraksi Langgar Konstitusi?

MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026 | 22:37 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Wacana mensyaratkan dukungan minimal dua fraksi DPR dalam pencalonan presiden berpotensi kembali menghadirkan pembatasan serupa presidential threshold yang telah dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK).

Pengamat politik Citra Institute, Efriza mengatakan, DPR bersama pemerintah memang memiliki kewenangan menyusun desain baru pencalonan presiden melalui revisi UU Pemilu. Namun, aturan tersebut harus tetap selaras dengan UUD 1945 dan Putusan MK Nomor 62/PUU-XXII/2024.

“DPR tidak tepat jika sekadar mengganti presidential threshold dengan fraksi threshold,” ujar Efriza kepada Kantor Berita Ekonomi dan Politik RMOL, Minggu, 27 September 2026.


Dalam Putusan Nomor 62/PUU-XXII/2024, MK pada 2 Januari 2025 menyatakan Pasal 222 UU 7/2017 tentang Pemilu yang mengatur ambang batas pencalonan presiden bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

MK juga menegaskan persoalan konstitusionalnya bukan semata pada besaran persentase, melainkan rezim ambang batas pengusulan pasangan capres-cawapres.

Karena itu, Efriza menilai perubahan nomenklatur dari presidential threshold menjadi fraksi threshold tidak serta-merta menyelesaikan persoalan apabila mekanismenya tetap membatasi partai politik dalam mengusulkan pasangan calon.

“Ini menunjukkan, MK mengarahkan kepada DPR bahwa DPR boleh melakukan rekayasa atau desain hukum baru untuk mengatur pencalonan, tetapi bukan dengan menghidupkan kembali pembatasan yang secara substansi sama hanya berbeda dari nama atau mekanismenya saja,” tuturnya.

Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 sendiri mengatur pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu.

Menurut Efriza, mekanisme minimal dua fraksi berpotensi digunakan untuk membatasi jumlah pasangan calon sekaligus mengendalikan fragmentasi politik di parlemen.

Namun, ia menilai desain tersebut dapat menimbulkan persoalan baru dalam sistem presidensial apabila keputusan mengenai siapa yang dapat maju semakin bergantung pada konfigurasi fraksi di DPR.

“Malah yang juga terjadi adalah bukannya kita memperkuat pemerintahan, tetapi kita melemahkan posisi presiden sekaligus mengubah ayunan bandul condong kembali ke sistem parlementer,” ucapnya.

Efriza menilai penguatan posisi parlemen dalam menentukan pasangan calon presiden perlu dikaji secara hati-hati agar tidak menggeser prinsip bahwa Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat.

“Dengan mekanisme memperkuat parlemen dalam menentukan siapa yang boleh maju sebagai calon Presiden, ini menunjukkan pasangan calon presiden dan wakil presiden ditentukan oleh rekomendasi dari fraksi. Ini keliru, semestinya tidak dilanjutkan wacana ini,” demikian Efriza.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya