PERTARUNGAN pemikiran ekonomi tidak pernah sekadar debat teori di ruang debat. Di balik perdebatan soal pasar, negara, utang, industri, perdagangan, dan distribusi, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang sebenarnya mengendalikan ekonomi, bagaimana kekuasaan bekerja di dalamnya, siapa yang menikmati manfaat, siapa yang menanggung risiko, dan untuk tujuan apa seluruh sistem itu dibangun.
Todd G. Buchholz dalam New Ideas from Dead Economists menunjukkan bahwa pemikiran ekonomi terus bergerak karena teori lama diuji oleh zaman, teknologi, institusi, dan pengalaman kebijakan yang berubah. Karena itu pertarungan ekonomi bukan sekadar lama melawan baru, melainkan pertarungan antara cara-cara berbeda dalam membaca realitas.
Adam Smith jadi titik tolak karena dia menunjukkan kekuatan koordinasi pasar, pembagian kerja, industri, dan kompetisi. Keynes lalu membuktikan bahwa pasar tidak pada ruang netral, terutama saat krisis dan pengangguran massal menghantam. Dari titik itu perdebatan bergerak ke wilayah yang harus dibelah menjadi kejeniusan pemikiran.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah pasar bekerja, tapi apakah pasar bekerja dengan informasi yang simetris, struktur kekuasaan yang seimbang, institusi yang kokoh, dan hasil distribusi yang bisa diterima secara sosial.
Di titik inilah Joseph Stiglitz mengubah arah perdebatan. Pasar bisa gagal ketika informasi timpang dan kekuatan pasar menumpuk di segelintir pihak. Dalam kondisi seperti itu hasil pasar tidak otomatis sama dengan hasil yang adil. Persoalannya jadi bukan lagi negara versus pasar secara sederhana, melainkan bagaimana institusi bisa mengoreksi kegagalan pasar tanpa mematikan kapasitas produktifnya sendiri.
Paul Krugman membawa pertarungan ini ke wilayah lain: struktur produksi, perdagangan, aglomerasi, geografi ekonomi. Ekonomi tidak tumbuh di ruang yang datar. Infrastruktur, konsentrasi industri, konektivitas, dan skala ekonomi bisa membuat modal dan aktivitas produksi menumpuk di wilayah tertentu saja. Maka pembangunan jalan, pelabuhan, energi, dan konektivitas bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dari konfigurasi produksi dan distribusi nilai tambah itu sendiri.
Kalau Stiglitz bertanya soal kegagalan informasi dan kekuatan pasar, dan Krugman melihat struktur ruang dan industri, Michael Hudson membawa pertarungan ke wilayah keuangan dan utang. Bagi Hudson, persoalan ekonomi tak bisa dilepaskan dari hubungan sektor produktif dan sektor finansial, apalagi ketika pendapatan ekonomi makin banyak tersedot untuk membayar beban utang dan rente. Pertanyaan tentang utang jadi bukan sekadar berapa besar jumlahnya, tapi untuk apa dipakai, siapa yang diuntungkan dari pembiayaan itu, siapa yang menanggung pembayarannya, dan apakah utang itu memperbesar kapasitas produktif atau justru mempersempit ruang gerak ekonomi.
Persoalan Struktur Ekonomi
Dari sinilah terlihat bahwa sebuah negara bisa saja tumbuh sekaligus menghadapi persoalan struktural yang serius. Investasi bisa naik, tapi kalau terkonsentrasi di sektor berteknologi rendah, nilai tambah domestiknya tetap terbatas. Kredit bisa tumbuh, tapi kalau pembiayaan lebih banyak lari ke aset dan spekulasi ketimbang produksi, ekspansi finansial itu tidak otomatis memperkuat sektor riil.
Perdagangan bisa meningkat, tapi kalau struktur ekspornya bertumpu pada komoditas mentah sementara impornya barang berteknologi tinggi, itu belum tentu berarti kedaulatan produksi ikut membaik. Pertarungan pemikiran ekonomi, pada akhirnya, selalu kembali pada satu hal: konfigurasi sistem. Konfigurasi sistem ini bisa dibaca lewat tiga lapis yang saling berkaitan, yang dalam kajian Noorsy disebut 7P, 7I, dan 7R.
7P adalah konstruksi sistem, fondasi yang seharusnya menopang ekonomi sejak awal: prosedur yang jelas, kehati-hatian atau prudent dalam mengelola sumber daya, proporsionalitas dalam membagi peran, profesionalisme kelembagaan, sampai keberpihakan pada kepentingan publik, manfaat publik, dan profit yang wajar. Tujuh unsur ini bukan sekadar daftar kebajikan administratif. Ia adalah kerangka bangunan yang menentukan apakah sebuah sistem ekonomi berdiri di atas fondasi yang kokoh atau rapuh sejak dari cara ia dikonstruksi.
Di titik inilah Stiglitz sebenarnya bicara hal yang sama dengan bahasa berbeda. Asimetri informasi dan monopoli yang dibahasnya adalah cerminan dari runtuhnya unsur prudent dan proporsional dalam konstruksi sistem. Ketika kekuatan pasar menumpuk di segelintir pihak, itu tandanya public interest dan public benefit sudah kalah oleh profit yang timpang. Begitu juga Krugman: ketimpangan wilayah dan lemahnya konektivitas adalah persoalan konstruksi yang gagal menegakkan proporsionalitas antarwilayah sejak awal.
Tapi konstruksi yang kokoh sekalipun bisa dirongrong dari luar, dan di sinilah 7I bekerja sebagai dekonstruksi sistem. Invasi, intervensi, infiltrasi, inferensi, indoktrinasi, inflasi, sampai impoverishment adalah tujuh cara sebuah sistem ekonomi bisa dibongkar dari dalam maupun didikte dari luar. Ketergantungan tidak selalu datang dalam bentuk penguasaan langsung. Ia bisa masuk lewat kepemilikan, pembiayaan, teknologi, rantai pasok, standar, data, atau ketergantungan pada pasar tertentu, yang pelan-pelan menggerus kedaulatan yang tadinya sudah dibangun lewat 7P.
Bagi Hudson, dekonstruksi lewat jalur utang dan keuangan ini paling berbahaya karena paling sulit dikenali. Utang tidak cukup dilihat sebagai angka dalam neraca negara. Ia harus dilihat dari struktur kewajibannya, arus pembayarannya, untuk apa dananya dipakai, dan bagaimana dampaknya pada kapasitas produksi. Pengalaman debt trap di banyak negara menunjukkan bahwa pembiayaan eksternal bisa menghasilkan manfaat pembangunan sekaligus jadi pintu dekonstruksi kalau struktur proyek, kontrak, dan kemampuan membayar tidak dikendalikan dengan memadai. Inflasi yang tak terkendali dan impoverishment yang menyertainya sering kali adalah hasil akhir dari rangkaian intervensi dan infiltrasi yang dibiarkan berjalan terlalu lama.
Menghadapi dekonstruksi seperti itu, sistem butuh 7R sebagai rekonstruksi. Reformulasi kebijakan, rekonstruksi kelembagaan, reposisi peran negara dan pasar, redistribusi hasil ekonomi, regulasi yang lebih tegas, reproduksi kapasitas produktif, sampai reorientasi arah pembangunan, semuanya adalah upaya membangun ulang apa yang sudah dirongrong oleh 7I, sambil menegakkan kembali fondasi 7P yang sempat retak.
Rekonstruksi bukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan pembenahan yang menyentuh struktur produksi, industri, pembiayaan, distribusi, kelembagaan, teknologi, dan hubungan ekonomi dengan dunia luar sekaligus.
Krugman memberi alasan kenapa rekonstruksi ini butuh kebijakan industri dan infrastruktur yang serius, karena industri tidak tumbuh sendiri secara merata di setiap wilayah. Infrastruktur dan konektivitas bisa mengubah struktur biaya, memperluas pasar, dan menciptakan keterkaitan produksi baru, sebuah bentuk reproduksi kapasitas dalam bahasa 7R.
Stiglitz menambahkan bahwa negara perlu membangun institusi yang mampu mengoreksi kegagalan pasar, semacam regulasi dan reposisi peran negara. Hudson menambah dimensi keuangan, bahwa rekonstruksi butuh sistem pembiayaan yang mendukung ekonomi produktif, bukan sekadar memperbesar beban rente, sebuah bentuk reformulasi yang menyentuh jantung sistem finansial itu sendiri.
Di titik inilah Noorsy membawa pertarungan pemikiran ekonomi ke tingkat yang lebih dasar dan menyeluruh. Sebuah sistem ekonomi tidak cukup dinilai dari satu kebijakan atau satu indikator saja. Ada rangkaian yang harus nyambung, dari nilai ke konstitusi, dari konstitusi ke kebijakan, dari kebijakan ke strategi, dari strategi ke fungsi, dari fungsi ke instrumentasi, dari instrumentasi ke aplikasi, sampai ke bukti dan konsistensi di lapangan.
Menyempurnakan Ekonomi Konstitusi
Konstitusi tidak bisa berdiri sendiri, ia harus tercermin dalam kebijakan dan hasil nyata. Bahkan Pasal 33 dalam kerangka ini ditenun bersama Pasal 23 soal fiskal, APBN, perpajakan, moneter, dan pemeriksaan keuangan negara, Pasal 27 soal pekerjaan dan penghidupan yang layak, Pasal 34 soal kesejahteraan sosial, sampai Pembukaan UUD 1945 sebagai visi dan fondasi bernegara.
Maka pertarungan antara Buchholz, Stiglitz, Hudson, Krugman, dan Noorsy sebenarnya bukan pertarungan untuk mencari satu pemenang. Buchholz membantu memahami bagaimana pertarungan pemikiran ekonomi berevolusi dari masa ke masa. Stiglitz memperlihatkan keterbatasan pasar ketika informasi dan kekuatan tidak seimbang. Krugman menunjukkan pentingnya struktur ruang, industri, dan konektivitas. Hudson membawa perhatian ke persoalan utang, keuangan, dan rente.
Sementara Noorsy membawa semua persoalan itu ke pertanyaan konfigurasi sistem dan konsistensi konstitusional, di mana pasar bahkan tidak diperlakukan sebagai satu mekanisme tunggal, karena produksi, sumber daya, distribusi, dan karakter komoditas ikut menentukan mekanisme mana yang sebenarnya sedang bekerja.
Sehingga 7P, 7I, dan 7R adalah satu kesatuan konfigurasi sistem yang tidak bisa dipisahkan. 7P membangun konstruksinya, 7I membongkarnya dari dalam dan luar, 7R merekonstruksinya kembali. Ketiganya bergerak dalam siklus yang sama, dan pertanyaan yang sebenarnya bukan lagi soal memilih pasar atau negara, kapitalisme atau sosialisme, utang atau tanpa utang, perdagangan bebas atau proteksi.
Pertanyaan yang sesungguhnya adalah apakah konstruksi sistem itu cukup kokoh untuk bertahan dari dekonstruksi, dan apakah rekonstruksinya mampu membangun produksi yang kuat, institusi yang berdaulat, distribusi yang adil, industri yang maju, sistem keuangan yang melayani sektor produktif, serta kebijakan yang konsisten dengan tujuan ekonomi nasional.
Agus Rizal
Ekonom Strukturalis