Presiden RI Prabowo Subianto dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan jajarannya. (Foto: RMOL)
Candaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan soal dirinya dan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang tidak berniat maju sebagai calon presiden, sementara Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin masih “pikir-pikir”, dinilai memiliki konteks politik yang menarik untuk Pilpres 2029.
Pengamat politik Adi Prayitno mengatakan, candaan Zulhas tersebut menarik karena memperlihatkan adanya perbedaan sikap di antara partai-partai pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Memang ada candaan yang menarik dari Zulkifli Hasan yaitu soal kesamaan PAN, Golkar, dan PKB yang sama-sama pendukung secara penuh gagasan yang dimiliki Presiden Prabowo Subianto,” kata Adi, Rabu, 23 Septeber 2026.
Namun, menurut Adi, Zulhas sekaligus memberikan pembeda. PAN dan Golkar disebut tidak memiliki keinginan untuk mengusung ketua umumnya sebagai calon presiden, sementara PKB masih membuka ruang untuk kemungkinan tersebut.
“Bedanya, Zulhas dan Bahlil tidak punya keinginan atau mimpi untuk menjadi presiden, cukup Prabowo saja yang menjadi presiden. Agak berbeda dengan PKB yang mungkin mencari peluang atau celah untuk berkontestasi di 2029,” ujarnya.
Adi menilai pernyataan tersebut memang disampaikan dalam suasana bercanda. Namun, secara faktual, konfigurasi politik menuju Pilpres 2029 masih sangat terbuka. Sebaliknya, PAN dan Golkar sejauh ini menunjukkan sikap yang lebih tegak lurus bersama Prabowo dalam konteks Pilpres 2029.
“PAN dan Golkar rasa-rasanya untuk Pilpres tegak lurus bersama Prabowo Subianto,” tuturnya.
Direktur Parameter Politik Indonesia itu menegaskan, partai-partai yang ada di parlemen sebenarnya sudah punya tiket untuk bisa maju setelah Mahkamah Konstitusi menghapus ketentuan presidential threshold.
Dengan putusan itu, ketentuan ambang batas pencalonan presiden yang sebelumnya mensyaratkan persentase tertentu kursi DPR atau suara sah nasional tidak lagi berlaku. Kondisi tersebut membuat partai politik memiliki ruang lebih besar untuk menentukan langkah politiknya menuju 2029.
Selain PAN, Golkar, dan PKB, Zulhas juga sempat melontarkan candaan terkait PKS. Ia menyebut kecil kemungkinan PKS mengincar kursi presiden karena ketua umumnya sudah disebut sebagai “Presiden PKS”.
Sementara itu, Adi mencermati Demokrat dan NasDem tidak menjadi bagian dari candaan Zulhas. Menurutnya, hal tersebut menarik jika dikaitkan dengan konfigurasi Pilpres 2029.
“Mungkin karena ketua umumnya tidak hadir, karena yang selalu dikaitkan dengan Pilpres itu biasanya ketua umumnya,” jelasnya.
Adi kemudian menyinggung pernyataan Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengenai kekuasaan yang memiliki batas dan tidak melekat pada orang tertentu.
“Beberapa waktu lalu ketika ulang tahun Demokrat, AHY bicara soal kekuasaan bahwa kekuasaan ada batasnya, kekuasaan tidak melekat kepada orang tertentu. Itu dianggap suatu sinyal kemungkinan poros Cikeas akan memajukan AHY sebagai salah satu kontestan di 2029,” katanya.
Karena itu, menurut Adi, dinamika menuju Pilpres 2029 masih akan sangat cair. Yang menarik untuk diamati bukan hanya partai mana yang akan mengusung calon sendiri, tetapi juga siapa yang tetap konsisten berada di belakang Prabowo.
“Kita tunggu siapa partai di koalisi pemerintah hari ini yang mau maju sendiri dan akan head to head dengan Prabowo, termasuk juga akan dilihat siapa yang istiqomah dan konsisten terus bersama Prabowo,” tandasnya.