Berita

Tentara Houthi. (Foto: Istimewa)

Publika

Houthi Bersiap Dikeroyok Saudi, Turki, dan Pakistan

RABU, 23 SEPTEMBER 2026 | 04:01 WIB

KITA kembali ke Timur Tengah. Perang antara Houthi vs Saudi semakin panas. Terkini, Houthi bersiap menghadapi gempuran aliansi Saudi, Turki, dan Pakistan. 

Menariknya, Houthi bilang “Siapa takut!” Nun jauh di sana, Amerika berkipas dolar sambil menikmati ngopi di teras White House. 

Saudi Arabia, Turki, dan Pakistan kini seperti tiga serangkai sepakat bikin arisan. Isinya bukan uang bulanan. Isinya pertahanan, drone, rudal, pesawat tempur, dan kemungkinan besar doa panjang sebelum berangkat.


Mereka membentuk klub mutual defense bernama “Mecca Defence Alliance.” Namanya sudah gagah. Tinggal logonya saja: Ka’bah dikelilingi rudal balistik, drone Bayraktar, F-35, lalu di bawahnya tulisan kecil: “Mohon Jangan Bikin Ribut.”

Saudi jelas punya urusan pribadi dengan Houthi. Bandara Riyadh sempat disiram asap hitam, fasilitas Aramco kena ciuman drone, sementara pasar di Dhubab disebut ikut dihajar.

Saudi pun belanja. Bukan beli sandal. Bukan beli kurma. Tapi 48 unit F-35 seharga 24,3 miliar dolar dari Amerika Serikat. Amerika tentu bilang kurang lebih, “Kami tidak ikut perang.”

Kalimat yang sangat menenangkan. Apalagi kalau disampaikan sambil melihat pesanan senjata bernilai puluhan miliar dolar masuk ke kas industri pertahanan. Lockheed Martin mungkin sudah senyum sampai telinga.

Lalu muncul Turki. Pesawat angkut A400M milik Turki sudah bolak-balik ke Riyadh membawa berbagai peralatan “teknis”. Pejabat Ankara menyebut mereka siap membantu “kebutuhan militer” Saudi.

Peralatan apa? Radar? Sistem anti-drone? Electronic warfare? Atau jangan-jangan satu kontainer kopi Turki supaya tentara Saudi tidak ngantuk menjaga langit?

Pakistan juga tidak mau kalah. 8.000 pasukan, satu skuadron JF-17, dua skuadron drone, serta sistem pertahanan udara HQ-9 sudah berada di tanah Saudi sejak bulan-bulan sebelumnya.

Juru bicara militer Pakistan mengatakan mereka siap pergi “sejauh apa pun”. Sejauh apa? Sampai depan markas Houthi sambil mengetuk pintu, “Assalamualaikum. Kami dari Pakistan. Jauh-jauh datang. Boleh ngobrol?”

Houthi sendiri tampaknya punya strategi unik. Kepada Amerika mereka mengatakan kapal-kapal Amerika aman. Masalah mereka cuma dengan Saudi. Ini seperti orang bilang, “Saya tidak suka berantem kok.” Lima menit kemudian dia berdiri sambil menggenggam batu di depan rumah tetangga.

Di sisi lain, Houthi tetap menguasai wilayah pesisir Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Situasinya seperti orang sedang berkata, “Saya cinta perdamaian,” sambil memegang remote peluncur drone.

Nah, di sinilah teori konspirasi mulai beranak-pinak. Amerika duduk di belakang layar seperti dalang wayang tidak perlu ikut berlari mengejar wayang. Saudi beli senjata mahal. Turki dapat proyek pertahanan. Pakistan dapat devisa sekaligus status sebagai penjaga dua kota suci.

Houthi dapat perhatian dunia. Iran mendapat panggung untuk mengatakan, “Tuh kan, kami masih relevan.”

Sementara rakyat Yaman? Mereka lagi-lagi menjadi penonton VIP tidak pernah membeli tiket. Bedanya, kursinya adalah pengungsian.

Mereka cuma bisa melihat perang awalnya urusan kawasan berubah menjadi festival geopolitik internasional. Rudal datang dari sana, drone terbang dari sini, pesawat dipindahkan, pasukan ditambah.

Houthi akhirnya bukan lagi berhadapan dengan satu kerajaan. Kini yang datang seperti rombongan keluarga besar kondangan, lengkap dengan kendaraan tempur.

So, pejuang Houthi, kalau malam-malam mendengar suara pesawat, jangan langsung berpikir itu tukang antar makanan. Bisa jadi itu A400M. Kalau terdengar dengungan dari langit, jangan berharap nyamuk. Bisa jadi drone. Kalau terlihat F-35, jangan melambaikan tangan. Nanti dikira target.

Sementara rudal, drone, pesawat tempur, serta pernyataan keras saling bersahutan, Amerika mungkin masih duduk manis di Washington. Secangkir kopi di tangan. Televisi menyala. Telepon berdering.

“Bos, pesanan F-35 24,3 miliar dolar sudah masuk.”

Amerika menoleh sebentar, lalu tersenyum.

“Bagus.”

Lalu seruput kopi lagi.

“Perangnya silakan lanjut.”

“Yang penting…”

“Invoice-nya jangan sampai nyasar.”

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya