Berita

Pengurus DPP GMNI di Bareskrim Polri. (Foto: Istimewa)

Hukum

Tuding GMNI Sayap PKI, Pejabat Kemenag Dilaporkan ke Bareskrim

SELASA, 22 SEPTEMBER 2026 | 22:50 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) melaporkan pejabat Kementerian Agama (Kemenag) Koordinator Wilayah Jawa Timur ke Bareskrim Polri. 

Hal tersebut buntut beredarnya majalah yang disebut diproduksi Kemenag, yang isinya dianggap menyudutkan GMNI. 

Dalam sebuah artikel pada majalah bernama Mimbar Pembangunan Agama tersebut, GMNI disebutkan merupakan underbow atau organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI). 


Laporan polisi ini teregister dengan nomor: STTL/442/IX/2026/BARESKRIM. 

"Itu adalah bagian daripada upaya distorsi memutarbalikkan fakta dan sejarah, itu yang pertama. Yang kedua, agenda tersebut sangat keji. Karena itu dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan," ujar Ketua Umum DPP GMNI, Sujahri Somar dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 22 September 2026.

Menurut dia, Marhaenisme yang merupakan ideologi GMNI, itu berbeda dengan ideologi PKI yakni komunisme. Hal ini pun telah ditegaskan oleh Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno, selaku pencetus Marhaenisme. Menurut Bung Karno, lanjut Sujahri, salah satu nilai pada Marhaenisme ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. 

"Kami GMNI merasa dirugikan karena momentum ini keluar bertepatan dengan rekrutmen mahasiswa baru di berbagai kampus se-Indonesia. Sehingga kami merasa dirugikan atas narasi yang dibangun," tutur Sujahri. 

Pihaknya sudah mengirimkan somasi terhadap beredarnya artikel pada majalah itu. Namun, tuntutan dalam somasi tersebut dinilai GMNI belum terpenuhi. Karenanya jalur hukum pun ditempuh. 

Total tujuh pengacara mendampingi DPP GMNI dalam laporan ini. Salah satunya ialah Sudi Sumberta Simarmata, yang merupakan pelapor. Menurut Sudi, ada tiga orang yang dilaporkan dalam perkara ini. 

"Pertama, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur, yang kedua pimpinan redaksi majalah Mimbar Pembangunan Agama, yang ketiga penulis sendiri, yang menulis tema di dalam majalah ini di halaman 28-29 di rubrik Teropong dengan judul 'Awas Bahaya Laten Komunisme'," ujarnya. 

Ketiga orang tersebut, kata Sudi, dianggap GMNI bertanggung jawab atas beredarnya artikel yang menyudutkan organisasi. Mereka dijerat pasal dengan tentang ujaran kebencian dan berita hoaks. 

"Pasalnya 243 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang baru tentang ujaran kebencian terhadap satu golongan. Kemudian juncto Pasal 263 tentang berita palsu," jelas Sudi. 

"Dan kami juga sempat diskusikan bagaimana kemudian kemungkinan tentang (menjerat pelapor dengan) UU ITE tadi," imbuhnya. 

Adapun sebagai barang bukti, GMNI membawa salah satunya anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD-ART) organisasi, sebagai landasan yang menjelaskan bahwa GMNI berbeda dengan PKI atau komunisme. Barang bukti itu diserahkan saat pelaporan. 

Sudi menyesalkan adanya tulisan opini tersebut di majalah buatan Kemenag. Sebab selain informasi yang keliru, artikel itu menimbulkan perpecahan. 

"Ini peringatan serius bahwa tidak boleh kemudian instrumen negara yakni lembaga vertikal yang dibiayai oleh APBN ini, Kementerian Agama, harus hati-hati untuk memberikan (wadah bagi) tulisan dan opini," jelasnya lagi.

Lebih lanjut, GMNI meminta Menteri Agama melakukan evaluasi terhadap jajarannya yang bertanggung jawab atas permasalahan ini. Sebab, beredarnya artikel pada majalah Mimbar Pembangunan Agama justru bertentangan dengan semangat beragama, berbangsa dan bernegara. 

"Ini kan sangat berkontradiktif dengan spirit kebangsaan kita hari ini. Marilah kita sama-sama menyuarakan persatuan nasional, menjaga kekompakan, menjaga Indonesia dengan cara menjaga narasi kita untuk tidak membangun provokasi di tengah masyarakat," tandas Sujahri.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya