Berita

Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

SELASA, 22 SEPTEMBER 2026 | 21:21 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP Himmah) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil dan memeriksa Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid.

Ketua Umum PP Himmah, Abdul Razak Nasution menjelaskan Nusron sebagai Menteri ATR/BPN turut bertanggung jawab atas penyidikan dugaan suap dan gratifikasi dalam pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di Kabupaten Bogor terhadap Summarecon.

Desakan tersebut menyusul penetapan tersangka dalam perkara yang berkaitan dengan pengurusan HGB lahan Summarecon, yang sebelumnya KPK menyebut empat dari delapan tersangka dalam perkara tersebut diduga merupakan orang kepercayaan Nusron Wahid, yakni Erwin, Arif Sugiyanto, Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq, dan Muhammad Fakhry.


“Jangan biarkan perkara ini berkembang menjadi spekulasi liar di tengah masyarakat. KPK harus memanggil dan memeriksa Nusron Wahid untuk mendalami sejauh mana pengetahuan, kewenangan, komunikasi, dan kemungkinan keterkaitan beliau dengan perkara yang sedang disidik. Pemeriksaan bukan berarti seseorang telah bersalah, tetapi merupakan bagian dari proses hukum untuk mencari kebenaran dan memastikan perkara ini terang-benderang,” tegas Abdul Razak dalam keterangannya, Selasa, 22 September 2026.

Menurut dia, perkara dugaan suap dalam pengurusan HGB tersebut harus dibongkar secara menyeluruh, dan tidak berhenti hanya pada pihak-pihak yang telah terjaring operasi tangkap tangan (OTT). Pasalnya, KPK menyebut perkara tersebut berkaitan dengan dugaan suap untuk pembukaan blokir HGB lahan Summarecon di Kabupaten Bogor.

“Ini bukan semata-mata persoalan siapa yang sudah ditangkap. Pertanyaan publik sekarang adalah apakah seluruh pihak yang mengetahui, memerintahkan, menerima manfaat, atau memiliki hubungan dengan rangkaian perkara ini sudah diperiksa secara menyeluruh? KPK harus menjawabnya melalui proses hukum.” sambungnya menegaskan.

Razak juga menyoroti keterangan KPK mengenai empat tersangka yang disebut sebagai orang yang diduga merupakan orang kepercayaan Menteri ATR/BPN. Dalam perkara tersebut, lembaga antirasuah mengungkap Erwin diduga berperan sebagai penghubung dalam proses pengurusan HGB, sementara Arif Sugiyanto disebut sebagai pihak yang diduga mengumpulkan sejumlah penerimaan. KPK juga mendalami penerimaan lain yang berkaitan dengan layanan pertanahan.

“Keterangan KPK mengenai adanya empat orang yang disebut sebagai orang kepercayaan Menteri ATR/BPN harus menjadi pintu masuk untuk mengurai perkara ini. Jangan berhenti pada level pelaksana. Telusuri siapa yang mengetahui, siapa yang berkomunikasi, siapa yang memberikan arahan, dan ke mana aliran uang tersebut mengalir. Semua harus dibuktikan secara hukum,” tegasnya.

Razak juga meminta KPK mendalami seluruh aliran dana yang berkaitan dengan perkara tersebut, termasuk transaksi keuangan yang telah ditemukan penyidik, mengingat sebelumnya terungkap adanya setoran tunai senilai Rp10 miliar dalam mutasi rekening salah satu tersangka serta penerimaan lain yang masih didalami dalam perkara tersebut.

“Kami mendesak KPK melakukan tracing terhadap seluruh aliran dana, termasuk rekening pihak-pihak yang relevan berdasarkan bukti dan kewenangan penyidikan. Jangan sampai ada mata rantai yang terputus hanya karena berhenti pada orang-orang tertentu,” imbuh Razak.

Razak menegaskan bahwa PP Himmah tidak ingin mencampuri proses penyidikan KPK. Namun, menurutnya, publik berhak mendapatkan kepastian bahwa seluruh pihak yang memiliki informasi relevan akan dipanggil dan diperiksa berdasarkan kebutuhan penyidikan serta alat bukti.

“Kami tidak meminta KPK menghukum seseorang tanpa bukti. Kami meminta KPK bekerja profesional, independen, transparan, dan tidak tebang pilih. Kalau Nusron memiliki informasi penting mengenai perkara ini, panggil sebagai saksi. Kalau kemudian ditemukan bukti keterlibatan pidana, proses sesuai ketentuan hukum,” tegasnya lagi.

“KPK harus membongkar perkara ini sampai ke akar. Telusuri seluruh rangkaian peristiwa, komunikasi, peran masing-masing pihak, serta aliran uangnya. Jangan ada ruang bagi praktik korupsi untuk berlindung di balik struktur birokrasi,” demikian Razak menambahkan.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya