Berita

Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

Amran: Impor Pangan Ilegal Sangat Keterlaluan!

SELASA, 22 SEPTEMBER 2026 | 16:53 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengecam praktik impor pangan ilegal yang merugikan petani dan mengganggu tata niaga pangan nasional.

Amran menegaskan, dampak penyelundupan pangan tidak bisa hanya diukur dari jumlah barang yang masuk secara ilegal. Sebab, meski volumenya relatif kecil, dampaknya terhadap produksi dan pendapatan petani bisa sangat besar.

“Impor ilegal ini sudah sangat keterlaluan. Jangan melihat jumlahnya. Indonesia pernah kecolongan pada 2022 dan 2023, masuk daging hanya satu kontainer. Tetapi dampaknya sangat besar, merugikan petani sampai Rp40 triliun dan sekitar 2 juta sapi terdampak penyakit mulut dan kuku. Padahal hanya satu kontainer,” kata Amran dalam konferensi pers penindakan impor ilegal beras, garam, dan balpres di Kantor Bea dan Cukai, Jakarta Timur, pada Selasa, 22 September 2026.


Menurut Amran, praktik tersebut harus ditindak serius, terlebih Indonesia saat ini telah mencapai swasembada untuk delapan komoditas pangan.

Ia mengingatkan, kepentingan ekonomi sesaat tidak boleh mengorbankan kesejahteraan petani dalam negeri yang jumlahnya mencapai sekitar 115 juta orang.

“Jadi jangan lihat jumlah kecilnya. Ini menyangkut petani kita. Ada sekitar 115 juta petani yang harus kita lindungi. Kalau ada impor ilegal seperti ini, yang dirugikan bukan hanya negara, tetapi petani kita. Kita sudah swasembada, tetapi masih ada penyelundupan. Jangan sampai kepentingan ekonomi sesaat mengorbankan petani. Ini harus kita lawan bersama,” tegasnya.

Mentan sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Keuangan Suahasil Nazara beserta jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) atas penindakan impor ilegal tersebut.

“Kami mewakili petani Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Keuangan dan jajaran Bea Cukai. Ini bentuk kehadiran negara untuk melindungi petani dan menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.

Sebelumnya, DJBC mengungkap dugaan impor ilegal beras dan garam di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, serta Kawasan Berikat Bogor.

Di Pelabuhan Tanjung Perak, petugas memeriksa 15 kontainer dengan total berat 412,5 ton yang diberitahukan sebagai ammonium chloride. Hasil pemeriksaan menemukan sekitar 202,45 ton beras dan 211 ton garam.

Sementara di Kawasan Berikat Bogor, dari 15 kontainer dengan total berat 420 ton yang dilaporkan berisi bahan kimia untuk penyamakan kulit, ditemukan sekitar 194,9 ton beras dan 225,4 ton butiran putih yang masih dalam proses penelitian lebih lanjut.

Dari kedua lokasi tersebut, petugas menemukan sekitar 397,35 ton beras yang tidak sesuai dengan pemberitahuan dalam dokumen kepabeanan.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, praktik impor ilegal tersebut tidak hanya merugikan petani, tetapi juga konsumen karena kualitas dan keamanan beras yang masuk tidak dapat dipastikan.

“Tentunya yang dirugikan para petani kita, para konsumen, karena beras yang masuk itu tidak bisa kita pertanggungjawabkan penyimpanannya, pengirimannya, pengepakannya dan bagaimana kualitas beras tersebut,” ujar Suahasil.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya