Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara. (Foto: RMOL)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 1,69 persen ke level 6.277 pada perdagangan Selasa, 22 September 2026. Tekanan pasar juga tercermin dari pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG merosot 107 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sebanyak 533 saham melemah, 139 saham menguat, sementara 118 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume mencapai 33 miliar saham dan nilai transaksi Rp14 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 2,1 juta kali. Kapitalisasi pasar turun menjadi Rp10.998 triliun.
Tekanan juga terjadi di pasar valuta asing. Mengutip data
Bloomberg, Rupiah ditutup pada level Rp17.884 per Dolar AS, melemah 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan pasar domestik masih dibayangi sejumlah sentimen global dan domestik. Salah satunya adalah pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara.
"Pergantian Menteri Keuangan masih memengaruhi sentimen mata uang, sementara kenaikan harga minyak menambah tekanan bagi negara-negara pengimpor energi," kata Ibrahim dalam risetnya.
Pergantian tersebut terjadi pada 14 September 2026, ketika Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Suahasil sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan.
Selain pergantian Menteri Keuangan, pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan fiskal, termasuk kemungkinan pelebaran defisit dalam revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
"Para pembuat kebijakan memperdebatkan revisi UU 17/2003 yang dapat memungkinkan defisit anggaran lebih tinggi guna mendanai program sosial dan kesejahteraan," ujar Ibrahim.
Sementara itu, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pembahasan mengenai batas atas defisit sebesar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) harus dilakukan secara konstruktif. Batas rasio utang sebesar 60 persen dari PDB juga tetap menjadi bagian dalam pengelolaan APBN.
Dari eksternal, penguatan indeks Dolar AS turut dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah dan peluang diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Presiden AS Donald Trump disebut menyatakan kesediaannya bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Perkembangan tersebut memunculkan harapan adanya jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Pasar juga mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan China, termasuk rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Isu perdagangan dan geopolitik menjadi bagian yang diperhatikan investor.
"Tiongkok merupakan importir minyak terbesar di dunia, sehingga prospek ekonomi dan hubungan perdagangannya menjadi faktor penting bagi permintaan minyak mentah," jelas Ibrahim.
Di sisi lain, ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) juga menjadi perhatian pasar. Prospek kebijakan moneter yang lebih ketat dinilai dapat menopang Dolar AS sekaligus menjaga imbal hasil obligasi Treasury tetap tinggi.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan Rupiah masih fluktuatif pada perdagangan Rabu, 23 September 2026. Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.880 hingga Rp17.930 per Dolar AS.