Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)
Pasar logam mulia mengalami tekanan berat seiring menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve.
Sentimen hawkish dari sejumlah bank sentral utama turut menjadi katalis utama yang mendorong penguatan nilai tukar Dolar AS dan menekan pergerakan komoditas.
Harga emas spot tercatat turun 0,6 persen menjadi 4.349,94 Dolar AS per ons pada Selasa dini hari, menurut laporan Reuters.
Penurunan tersebut terjadi setelah emas sempat anjlok lebih dari 1 persen ke level terendah sesi di posisi 4.322,19 Dolar AS per ons.
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk kontrak pengiriman Desember ditutup melemah 0,9 persen ke level 4.383,90 Dolar AS per ons.
Indeks Dolar AS atau Indeks DXY bergerak menguat terhadap enam mata uang utama dunia, melanjutkan tren apresiasi setelah keputusan The Fed menaikkan suku bunga membuat greenback melompat lebih dari 1 persen pada pekan lalu.
Penguatan Dolar secara langsung membuat harga emas menjadi jauh lebih mahal bagi para investor yang memegang mata uang selain Dolar AS.
Sementara itu, pergerakan pada logam mulia lainnya menunjukkan hasil yang bervariasi. Harga perak spot tercatat turun 0,4 persen menjadi 65,99 Dolar AS per ons. Di sisi lain, platinum justru mengalami kenaikan sebesar 0,3 persen ke posisi 1.805,83 Dolar AS per ons, dan paladium menguat 0,4 persen menjadi 1.307,33 Dolar AS per ons.
Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 88 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang. Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, menegaskan bahwa tingkat inflasi masih terlalu tinggi di seluruh sektor perekonomian Amerika dan bukan sekadar dipicu oleh kenaikan harga minyak.
Meskipun secara tradisional emas diandalkan sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya cenderung meredup ketika suku bunga berada di level tinggi karena aset berbasis imbal hasil menjadi jauh lebih menarik bagi investor.
Di tengah situasi ini, konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran turut mendongkrak harga energi, yang kemudian memicu kekhawatiran inflasi sekaligus memperkuat sikap kebijakan moneter ketat bank sentral.
Akibat dinamika tersebut, harga emas saat ini berada di kisaran 17 persen di bawah level tertingginya yang tercatat pada 27 Februari.
Kendati demikian, analis dari TD Securities memperkirakan tekanan jangka pendek pada pasar logam mulia akan cenderung terbatas. Pelemahan yang terjadi dalam waktu dekat dinilai hanya akan memicu aksi jual moderat dari Commodity Trading Advisor, dan selanjutnya justru berpeluang dipandang oleh para pelaku pasar sebagai momen yang tepat untuk kembali melakukan pembelian.