Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Konflik Geopolitik dan Suku Bunga Tinggi Hantam Pasar Emas Global

SELASA, 22 SEPTEMBER 2026 | 07:28 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar logam mulia mengalami tekanan berat seiring menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve. 

Sentimen hawkish dari sejumlah bank sentral utama turut menjadi katalis utama yang mendorong penguatan nilai tukar Dolar AS dan menekan pergerakan komoditas.

Harga emas spot tercatat turun 0,6 persen menjadi 4.349,94 Dolar AS per ons pada Selasa dini hari, menurut laporan Reuters. 


Penurunan tersebut terjadi setelah emas sempat anjlok lebih dari 1 persen ke level terendah sesi di posisi 4.322,19 Dolar AS per ons. 

Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk kontrak pengiriman Desember ditutup melemah 0,9 persen ke level 4.383,90 Dolar AS per ons.

Indeks Dolar AS atau Indeks DXY bergerak menguat terhadap enam mata uang utama dunia, melanjutkan tren apresiasi setelah keputusan The Fed menaikkan suku bunga membuat greenback melompat lebih dari 1 persen pada pekan lalu. 

Penguatan Dolar secara langsung membuat harga emas menjadi jauh lebih mahal bagi para investor yang memegang mata uang selain Dolar AS.

Sementara itu, pergerakan pada logam mulia lainnya menunjukkan hasil yang bervariasi. Harga perak spot tercatat turun 0,4 persen menjadi 65,99 Dolar AS per ons. Di sisi lain, platinum justru mengalami kenaikan sebesar 0,3 persen ke posisi 1.805,83 Dolar AS per ons, dan paladium menguat 0,4 persen menjadi 1.307,33 Dolar AS per ons.

Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 88 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang. Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, menegaskan bahwa tingkat inflasi masih terlalu tinggi di seluruh sektor perekonomian Amerika dan bukan sekadar dipicu oleh kenaikan harga minyak.

Meskipun secara tradisional emas diandalkan sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya cenderung meredup ketika suku bunga berada di level tinggi karena aset berbasis imbal hasil menjadi jauh lebih menarik bagi investor. 

Di tengah situasi ini, konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran turut mendongkrak harga energi, yang kemudian memicu kekhawatiran inflasi sekaligus memperkuat sikap kebijakan moneter ketat bank sentral. 

Akibat dinamika tersebut, harga emas saat ini berada di kisaran 17 persen di bawah level tertingginya yang tercatat pada 27 Februari.

Kendati demikian, analis dari TD Securities memperkirakan tekanan jangka pendek pada pasar logam mulia akan cenderung terbatas. Pelemahan yang terjadi dalam waktu dekat dinilai hanya akan memicu aksi jual moderat dari Commodity Trading Advisor, dan selanjutnya justru berpeluang dipandang oleh para pelaku pasar sebagai momen yang tepat untuk kembali melakukan pembelian.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya