Berita

Salah satu pegawai SPPG Banjarharjo II di Kalurahan Muntuk, Bantul, DI Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Publika

Pegawai SPPG Langsung Dipecat Gegara Olok-Olok Siswi Keracunan MBG

SELASA, 22 SEPTEMBER 2026 | 05:05 WIB

BUKANNYA empati, siswi keracunan malah jadi bahan olok-olok. Yang membuat geram dan ingin nonjok mukanya, diolok oleh pegawai SPPG. Untungnya, si jagoan itu sudah dipecat. 

Seorang pegawai SPPG di Muntuk, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, akhirnya dipecat. Itu setelah video dirinya mengolok-olok siswi korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, viral di media sosial.

Awalnya mungkin dia mengira video 40 detik itu cuma guyonan. Ternyata 40 detik bisa berubah menjadi 40 ribu detik kalau internet sudah ikut campur. Dalam video, seorang pria berkacamata dan mengenakan kaus hitam terlihat makan chicken katsu.


Lalu mulutnya mulai bekerja. “BTW, gue makan chicken katsu masakan kemarin. Apakah masih enak? Hmmm... Oh tidak. Ingatanku hilang 70 persen.”

Lalu tertawa. Tertawa pula! Waduh. Ini yang membuat publik garuk-garuk kepala. Anak-anak mengalami masalah kesehatan, kok malah dijadikan bahan konten? Kalau mau bikin lawakan, kenapa tidak lawakkan untuk Nusron? Kenapa tidak lawakkan Dewan Mempawah yang bakar lahan? Kenapa tidak lawakkan garong yang merampok uang rakyat? Kenapa harus penderitaan orang?

Panewu Dlingo Marjihidayat membenarkan, pria dalam video tersebut merupakan salah satu pegawai SPPG Banjarharjo II di Kalurahan Muntuk. Pihak SPPG kemudian memberikan teguran keras.

Tetapi persoalan ternyata belum berhenti di teguran. Koordinator Regional BGN DIY Wirandita Gagat Widyatmoko menyampaikan, setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, pegawai bersangkutan diberhentikan.

Jabatan pegawai tersebut diketahui sebagai pengawas keuangan. Pengawas keuangan mestinya sibuk mengawasi angka. Ini malah membuat publik sibuk mengawasi kelakuan.

BGN menyatakan keamanan pangan merupakan perhatian utama. Ketika masyarakat diduga terdampak, yang harus muncul adalah empati, sensitivitas dan rasa saling menghormati.

Bukan tawa. Bukan ejekan. Bukan konten. Apalagi konten sambil makan chicken katsu. Kita tidak sedang memperdebatkan apakah video itu lucu atau tidak. 

Sebab bagi keluarga yang anaknya sakit, tidak ada bagian lucunya. Bagi orang tua cemas menunggu anaknya pulih, tidak ada punchline. Bagi anak yang menjadi korban, tidak ada panggung komedi.

Yang ada cuma satu pertanyaan, kenapa penderitaan kami dijadikan bahan tertawaan?

BGN kemudian mengingatkan seluruh jajaran SPPG agar menjaga etika komunikasi dan bijak menggunakan media sosial. 

Mulai koordinator wilayah, koordinator kecamatan, kepala SPPG, pengawas gizi, pengawas keuangan hingga petugas lapangan diminta memahami bahwa setiap ucapan di ruang publik bisa berdampak terhadap kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.

Betul sekali. Karena bekerja untuk program publik bukan cuma soal bisa menjalankan SOP. Harus tahu kapan bercanda, kapan diam, kapan menjelaskan, dan kapan menunjukkan empati.

Media sosial juga bukan tong sampah digital tempat semua pikiran dilempar begitu saja. Sekali unggah, publik bisa melihat. Sekali viral, jejaknya ke mana-mana. Sekali salah ngomong, klarifikasi bisa kalah cepat dengan screenshot.

Pelajaran dari kasus ini sebenarnya sederhana. MBG membutuhkan makanan bergizi, tetapi petugasnya juga harus punya akal sehat dan hati yang bergizi. 

Jangan sampai makanan yang hendak diberikan kepada anak-anak sudah memenuhi standar gizi, tetapi perilaku orang melayaninya justru kekurangan empati.

Ironisnya kebangetan. Programnya bernama Makanan Bergizi Gratis. Jangan sampai yang gratis bukan cuma makanannya, tetapi juga etikanya. Kalau ada dugaan masalah keamanan pangan, periksa. Kalau ada korban, bantu. 

Tetapi kalau penderitaan anak malah dijadikan bahan olok-olok? Ya jangan heran kalau kursi kerja akhirnya ikut “hilang 70 persen”. Bedanya, kali ini bukan ingatan hilang. Pegawainya benar-benar hilang dari daftar personel SPPG. 

“Ada model pegawai macam itu. Boleh kita sebut pegawai goblok, Bang.”

“Duh, jangan ikutan ngatain goblok dong, wak!” Ups

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya