Berita

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Bisnis

BI Beberkan Biang Kerok Rupiah Tertekan, Ini Jurus Intervensinya

SENIN, 21 SEPTEMBER 2026 | 19:21 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Bank Indonesia (BI) merespons tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang kembali melemah ke level Rp17.847 per Dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 21 September 2026.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kondisi tersebut masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik global dan tingginya harga minyak dunia.

“Pelemahan nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 Dolar AS per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal,” kata Erwin dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi di Jakarta.


Selain faktor eksternal, tekanan terhadap Rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik.

“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” tegasnya.

Meski tertekan, BI menyebut pergerakan Rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), Rupiah tercatat menguat 0,37 persen.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi 146,5 miliar Dolar AS pada akhir Agustus 2026.

Untuk menjaga stabilitas Rupiah, Erwin memastikan BI akan terus hadir di pasar agar mekanisme pasar berjalan baik dan nilai tukar tetap terjaga sesuai fundamental ekonomi.

Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan memperkuat strategi operasi moneter pro-market.

“Memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif,” tuturnya.

BI, kata Erwin juga akan melanjutkan intervensi secara konsisten dan berkesinambungan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain melakukan intervensi di pasar, BI terus memperkuat koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk mendorong arus masuk modal asing.

“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT),” tandasnya.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya