Berita

Pejuang Houthi. (Foto: Istimewa)

Publika

Yaman Bukan cuma Houthi

SENIN, 21 SEPTEMBER 2026 | 06:45 WIB

KALAU mendengar Yaman, jangan sampai otak langsung menggambar Houthi, rudal, drone, perang, lalu selesai. Itu seperti melihat Indonesia hanya dari MBG dan Kopdes. Negara sebesar itu tentu lebih rumit dari perang Iran vs Amerika.

Yaman punya wajah lain. Hadhramaut. Wilayah inilah memiliki hubungan historis sangat kuat dengan diaspora Arab di Indonesia. Termasuk keluarga-keluarga keturunan Nabi yang dalam tradisi Indonesia banyak dikenal sebagai Habib.

Migrasi Hadhrami ke Nusantara berlangsung berabad-abad dan meningkat pada abad ke-19 karena perdagangan, mobilitas ekonomi, serta pencarian kehidupan baru.


Mereka datang membawa kapal. Sebagian kemudian membawa kitab. Sebagian membawa jaringan perdagangan. Sebagian membangun pesantren, masjid, dan komunitas.

Ada paradoks luar biasa. Dari tanah yang hari ini dikenal karena perang, pernah mengalir manusia yang ikut membentuk sejarah Islam Nusantara.

Hadhramaut melahirkan jalur migrasi jejaknya bisa ditemukan dalam banyak keluarga Arab-Indonesia, dengan marga seperti Assegaf, Al-Attas, Al-Jufri, Shihab, dan Al-Habsyi.

Namun perlu dibedakan, Hadhramaut bukan seluruh Yaman. Ini penting. Sebab menyebut seluruh Yaman sebagai “kampung halaman para Habib” terlalu menyederhanakan sejarah. Yang secara khusus memiliki hubungan kuat dengan diaspora Hadhrami adalah kawasan Hadhramaut.

Jejak hubungan Yaman dengan sejarah Islam Indonesia sering dikaitkan dengan tradisi Wali Songo, meskipun berbagai silsilah dan klaim genealogis mengenai tokoh-tokoh tertentu tetap menjadi wilayah yang diperdebatkan dalam kajian sejarah.

Sekarang kembali ke Houthi. Mereka bukan sekadar “Syiah yang dikendalikan Iran”. Iran memang memberikan dukungan kepada Houthi. Tetapi berbagai kajian menunjukkan hubungan tersebut tidak sesederhana hubungan atasan dan bawahan. Houthi memiliki kepentingan lokal, sejarah sendiri, struktur suku, serta kepemimpinan relatif otonom.

Kalau ada yang mengatakan, “Houthi itu Iran!” Sejarah menjawab, “Pelan-pelan, wak. Jangan semua punya rudal langsung dicari nomor telepon Teherannya.”

Houthi adalah gabungan panjang antara kebangkitan Zaidi, politik Yaman, jaringan keluarga al-Houthi, struktur suku, perang saudara, intervensi Saudi, dukungan Iran, dan pengalaman tempur. Nama resminya pun bukan Houthi. Mereka menyebut diri Ansar Allah, Pembela Allah.

Nama Houthi berasal dari keluarga pendirinya. Pemimpin utamanya kini adalah Abdul-Malik al-Houthi. Jadi, siapa Houthi? Mereka adalah gerakan politik-militer tumbuh dari sejarah Yaman utara dan kemudian berkembang menjadi aktor regional.

Mereka menguasai Sana'a dan wilayah luas di utara. Mereka memiliki kemampuan rudal dan drone. Mereka mempunyai jaringan mobilisasi yang besar. Posisi mereka di sekitar Bab el-Mandeb membuat pengaruhnya melampaui ukuran wilayah yang mereka kuasai.

Sementara itu, kontroversi terbaru mengenai Makkah harus dibaca hati-hati. Saudi menuduh ada drone yang diarahkan menuju Makkah. Houthi membantah. Iran malah menuduh Israel di belakang itu semua. Jangan langsung menjadi hakim internasional sambil ngopi tiga teguk.

Klaim tetap klaim. Bantahan tetap bantahan. Fakta harus menunggu bukti. Tetapi ada satu ironi besar. Yaman punya kopi dahulu menjadi komoditas berharga dunia. Saudi punya minyak menggerakkan ekonomi dunia. Kini dari kawasan yang sama, dunia sibuk menghitung rudal, drone, kapal, dan selat.

Dari gunung Yaman sampai gurun Saudi, sejarah seperti sedang memberi kuliah geopolitik gratis. Negara boleh kaya, kelompok boleh bersenjata, kerajaan boleh megah, tetapi ketika negara melemah dan konflik dibiarkan terlalu lama, gunung pun bisa belajar mengetuk pintu dunia.

Kalau pintu itu bernama Bab el-Mandeb? Wah, bukan cuma tuan rumah yang bangun. Satu dunia ikut terjaga. Begitulah cerita Houthi. Banyak musuhnya, tapi banyak juga pembelanya. Seandainya Yaman itu sepenuhnya dikuasai Houthi, bukan tidak mungkin nama Yaman berganti Republik Houthi. Mirip Kerajaan Saudi juga, ups. Cukup sekian, nantikan kisah menarik lainnya.

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya