Berita

Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Alifia)

Politik

Purbaya Terlempar dari Kabinet Diduga Gegara Whoosh

SELASA, 15 SEPTEMBER 2026 | 19:17 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan tidak cukup dilihat sebagai pergantian personal di Kabinet Merah Putih.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai persoalan yang lebih penting adalah arah kebijakan fiskal dan hubungan antara kekuatan politik, pemodal, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), pemerintah, serta Bank Indonesia (BI).

Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026 memang mengganti Purbaya dengan Suahasil Nazara. Reuters melaporkan pergantian tersebut menjadi pergantian menteri keuangan ketiga Indonesia dalam waktu kurang dari dua tahun.


Amir menilai sejumlah kebijakan Purbaya selama menjabat menunjukkan adanya upaya menjaga agar beban tertentu tidak langsung dialihkan kepada APBN.

Salah satu contohnya adalah persoalan utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Purbaya sebelumnya berulang kali menyatakan penyelesaian utang Whoosh harus semaksimal mungkin tidak membebani APBN. 

Pada Juli 2026, Purbaya mengatakan penggunaan dana APBN untuk membayar kewajiban Whoosh akan diminimalkan dan pemerintah dapat menggunakan instrumen di luar APBN, termasuk Special Mission Vehicle (SMV).

Bahkan pada Oktober 2025, Purbaya pernah menyatakan pembayaran utang Whoosh semestinya menjadi tanggung jawab Danantara karena lembaga tersebut menerima dividen dari BUMN. 

Ia menyebut Danantara menerima dividen sekitar Rp80 triliun hingga Rp90 triliun, sementara kebutuhan pembayaran tahunan Whoosh sekitar Rp2 triliun.

Menurut Amir, sikap tersebut memperlihatkan adanya perbedaan cara pandang mengenai siapa yang harus menanggung beban finansial dari aset dan proyek BUMN.

“Kalau banyak kebijakan Purbaya tidak menguntungkan pihak pemodal, misalnya APBN menolak membiayai utang Whoosh, kemudian Purbaya meminta keuntungan Danantara diberikan kepada negara, tentu ini menjadi persoalan politik ekonomi yang harus dilihat lebih jauh,” kata Amir, dikutip Selasa 15 September 2026.

Amir juga menyoroti tuntutan Purbaya agar Danantara tidak melempar persoalan Whoosh kepada pemerintah melalui APBN.

Menurut dia, pernyataan Purbaya bahwa Danantara memiliki sumber dana sendiri menunjukkan adanya upaya menempatkan pengelolaan aset negara secara lebih bertanggung jawab.

“Danantara punya keuntungan, punya dividen dari BUMN. Kalau ada keuntungan, negara juga harus mendapatkan manfaat. Jangan ketika untung untuk mereka, tetapi ketika ada beban kemudian kembali kepada negara,” kata Amir.

Amir kemudian mengaitkan pergantian Purbaya dengan persoalan konsolidasi kekuasaan di sekitar Presiden Prabowo.

Ia mempertanyakan apakah pergantian menteri tersebut benar-benar membawa perubahan sistem atau justru mempertahankan pola lama di Kementerian Keuangan.

“Sejak awal ada tuntutan agar Prabowo tidak menggunakan orang-orang lama. Tetapi sekarang kelihatannya Prabowo tetap menggunakan mereka. Ini bagian dari konsolidasi,” kata Amir.

Suahasil Nazara sendiri bukan figur baru di Kementerian Keuangan. Reuters menyebut Suahasil sebelumnya merupakan Wakil Menteri Keuangan dan pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal. Ia juga dipandang sebagai teknokrat yang berpengalaman di kementerian tersebut.

Karena itu, menurut Amir, pergantian Purbaya perlu dibaca dalam kerangka yang lebih luas, bukan hanya persoalan pergantian pejabat.

“Yang harus diubah adalah sistemnya, bukan hanya mengganti orang. Kalau sistemnya tidak berubah, siapa pun yang menjadi Menteri Keuangan akan menghadapi persoalan yang sama,” kata Amir.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya