Berita

Representative Image (Foto: AI)

Dunia

Perang Iran Kuras Amunisi dan Aset Militer AS, Kerugian Capai Rp590 Triliun

SELASA, 15 SEPTEMBER 2026 | 16:02 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran tidak hanya menguras persenjataan dan aset militer Washington, tetapi juga memicu kekurangan amunisi serta hambatan rantai pasok di Pentagon. 

Laporan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS mengungkap biaya kerugian akibat perang mencapai 33,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp590 triliun.

Disebutkan bahwa periode 28 Februari hingga 30 Juni 2026, sekitar 22,3 miliar dolar AS di antaranya digunakan untuk amunisi, 3,7 miliar dolar AS untuk kehilangan peralatan, dan 7,4 miliar dolar AS untuk pengeluaran lainnya. 


Namun, perhitungan tersebut belum mencakup biaya perbaikan fasilitas yang rusak, penggantian pesawat, maupun pengisian kembali persenjataan strategis.

Pengeluaran amunisi dalam jumlah besar disebut telah menyebabkan kekurangan stok strategis sekaligus memperlihatkan adanya hambatan pada industri pertahanan AS dalam memasok kembali persenjataan. 

Laporan NBC News, Selasa, 15 September 2026 menyebut Pentagon tengah berupaya mempercepat proses pengadaan dan produksi serta menimbun material, komponen, dan sejumlah amunisi penting untuk menghadapi kemungkinan konflik berikutnya.

Temuan tersebut berseberangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang sebelumnya membantah adanya kekurangan amunisi. 

Trump bahkan mengklaim AS memiliki persediaan amunisi yang hampir tak terbatas serta terus memproduksi dan mengirimkan persenjataan kepada pasukan di Timur Tengah.

Dampak perang juga terlihat dari kerusakan aset militer AS. Laporan mencatat sedikitnya 30 drone besar AS hancur, sementara sejumlah pesawat mengalami kerusakan atau kehilangan, termasuk F-15E, F-35A, A-10 Warthog, pesawat tanker KC-135, dan pesawat lainnya. 

Serangan Iran juga menyasar pusat logistik Angkatan Laut AS di Bahrain menggunakan drone dan rudal balistik.

Selain itu, lebih dari 20.000 personel militer dan diplomatik AS dilaporkan terdampak hingga harus dipindahkan. Pasukan AS juga melakukan hingga 5.000 penerbangan dari pangkalan di Eropa untuk mendukung operasi perang. 

Di tengah dampak besar tersebut, Trump pada akhir pekan lalu menyebut perang kemungkinan akan terus berlanjut hingga berakhirnya pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya