PM Spanyol Pedro Sanchez (Foto: X)
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez membantah tudingan bahwa dirinya mendapat tekanan dari Maroko terkait penanganan gelombang migran yang masuk ke wilayah Spanyol di Afrika Utara, Ceuta.
Tudingan tersebut muncul di tengah krisis migran yang terjadi pada akhir Juli. Lebih dari 70.000 migran masuk ke Ceuta dari arah Maroko pada 30 dan 31 Juli, memicu tekanan politik terhadap pemerintah Sanchez.
Hingga kini, Sanchez tetap menyatakan belum memiliki bukti kuat yang menunjukkan Rabat berada di balik gelombang migrasi tersebut.
Partai oposisi sayap kanan, Partai Popular (PP), bersama pemimpinnya Alberto Nuñez Feijoo, mempertanyakan sikap Sanchez terhadap Maroko.
Mereka menduga Sanchez enggan mengambil langkah tegas karena kemungkinan mendapat tekanan melalui informasi yang diperoleh dari peretasan salah satu telepon selulernya.
Sanchez menepis spekulasi tersebut dan menegaskan hubungan antarnegara, terutama dengan negara tetangga, harus dibangun berdasarkan fakta serta rasa saling menghormati.
“Hubungan antarnegara, khususnya dengan negara-negara tetangga, harus didasarkan pada rasa saling menghormati dan fakta, bukan pada spekulasi liar atau sikap meremehkan," kata Sanchez, dikutip Selasa, 15 September 2026.
Dia juga menanggapi isu mengenai telepon selulernya yang disebut menjadi alat tekanan dengan menyebut tudingan tersebut lebih cocok menjadi cerita fiksi.
“Laporan-laporan keliru yang beredar mengenai ponsel atau hal-hal lainnya itu.. yah, mungkin itu bagus untuk serial Netflix, tetapi kenyataan harus dibangun di atas fakta, bukan berita palsu,” ujarnya.
Sanchez menegaskan pemerintah Spanyol tetap akan merespons tegas apabila nantinya terbukti Maroko berada di balik gelombang migran tersebut.
“Saya tidak pernah mengatakan bahwa kami tidak akan menanggapi Maroko dengan tegas jika terbukti bahwa Maroko... berada di balik peristiwa tanggal 30 dan 31 Juli,” tegas Sanchez.
Namun, Sanchez kembali menekankan bahwa hingga saat ini belum terdapat informasi yang secara kuat membuktikan keterlibatan Maroko.
“Namun hingga saat ini... tidak ada informasi yang secara kuat memastikan tanggung jawab Maroko atas gelombang yang kami hadapi pada 31 Juli,” kata dia.
Sebagian besar migran yang memasuki Ceuta pada 30 dan 31 Juli telah kembali ke Maroko dalam hitungan jam.
Namun, beberapa ribu orang masih bertahan di Ceuta, sementara situasi di wilayah tersebut memburuk dengan munculnya kekerasan dan demonstrasi warga hampir setiap hari.
Pemerintah Spanyol juga masih melakukan identifikasi terhadap para migran untuk menentukan hak mereka atas suaka, sedangkan anak-anak tanpa pendamping tidak dapat langsung dideportasi.