PT Vale Indonesia Tbk menyiapkan investasi sekitar Rp127,08 triliun untuk mengembangkan tiga proyek hilirisasi nikel di Morowali, Pomalaa, dan Sorowako.
Investasi tersebut terdiri dari Rp33,535 triliun untuk Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, Rp56,48 triliun untuk IGP Pomalaa, dan Rp37,065 triliun untuk IGP Sorowako.
Head of Strategy and Business Development Vale Indonesia, Mateus Sigit Hari Sulistya, mengatakan ekspansi tersebut menandai perubahan signifikan dalam model operasi perusahaan.
Selama puluhan tahun, Vale hanya menjalankan operasi terintegrasi di Sorowako, Sulawesi Selatan. Kini, perusahaan mengarah pada tiga wilayah operasi melalui pengembangan proyek di Morowali, Pomalaa, dan Sorowako.
“Jadi dari satu operasi yang sekarang kami jalankan, kita sekarang mengarah ke tiga operasi. Jadi kita bilang bahwa kita menuju platform pertumbuhan multi wilayah,” kata Mateus dalam sosialisasi MediaMIND di Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Untuk proyek Morowali atau Bahodopi, investasi sekitar Rp33,535 triliun mencakup pengembangan tambang dan fasilitas pengolahan. Vale menggandeng GEM dan EcoPro sebagai mitra dalam pengembangan fasilitas tersebut.
Proyek Morowali ditargetkan mencapai first mechanical completion pada akhir 2026 dan full mechanical completion pada kuartal I 2027.
Sementara itu, proyek Pomalaa menjadi proyek dengan nilai investasi terbesar, yakni sekitar Rp56,48 triliun. Investasi tersebut mencakup pengembangan tambang dan fasilitas pengolahan, dengan HUAYOU sebagai mitra teknologi dan FORGE sebagai OEM maker di Eropa.
Proyek Pomalaa saat ini menjadi yang paling maju. Vale menargetkan pengujian dan komisioning salah satu fasilitas pada kuartal III atau IV 2026, sebelum menuju operasi penuh pada awal 2027.
Adapun IGP Sorowako mendapat alokasi investasi sekitar Rp37,065 triliun.
Berbeda dengan dua proyek lainnya, Sorowako masih berada pada tahap awal. Vale menargetkan proyek tersebut dapat beroperasi penuh pada 2028.
Pengembangan tiga proyek tersebut sekaligus mengubah posisi Sorowako yang selama ini menjadi satu-satunya basis operasi Vale. Ketiga wilayah nantinya dikembangkan sebagai bagian dari platform pertumbuhan multiwilayah dengan skema kerja sama bersama mitra.
Mateus mengatakan investasi tersebut tidak hanya mencakup aktivitas pertambangan, tetapi juga pengembangan fasilitas pengolahan sebagai bagian dari rantai nilai hilirisasi nikel.
“Ini merupakan satu perubahan yang cukup signifikan dari sisi PT Vale dari single operation base menjadi multisite growth platform di mana nanti kita akan bekerja sama dengan partner kami,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya Vale membangun rantai nilai terintegrasi, mulai dari penambangan hingga pengolahan produk antara. Ke depan, perusahaan masih membuka peluang pengembangan lebih lanjut bersama mitra menuju tahapan hilirisasi berikutnya.
Mateus menegaskan proyek-proyek tersebut juga menjadi bagian dari pemenuhan komitmen Vale terhadap IUPK yang dimandatkan pemerintah, sekaligus upaya membangun industri di Indonesia.