Berita

Kebersamaan Gibran Rakabuming Raka dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Foto: Istimewa)

Politik

Bukan Tidak Mungkin Poros Cikeas-Solo Besanan di 2029

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2026 | 15:08 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pengamat politik Nurul Fatta menilai hubungan politik antara poros Cikeas (SBY) dan Solo (Jokowi) tidak perlu dibaca dalam kerangka permusuhan yang berlebihan, termasuk jika pidato Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) soal kekuasaan yang tidak dimiliki seseorang untuk selamanya ditafsirkan ditujukan kepada Joko Widodo.

Menurut Fatta, tafsir tersebut bisa saja muncul lantaran trah politik Jokowi masih memiliki pengaruh melalui Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun, ia mengingatkan bahwa dinamika politik menuju 2029 masih sangat cair sehingga jika ada perseteruan politik antara kedua kubu sebaiknya tidak dipertajam.

“Kalaupun ternyata pidato AHY ditujukan ke Jokowi, karena trah Jokowi masih dikatakan berkuasa melalui Gibran, saya pikir jangan terlalu berlebihan permusuhan anak-anak Cikeas dan Solo ini. Sewajarnya saja,” kata Nurul Fatta kepada RMOL, Kamis, 10 September 2026.


Ia mengutip pemikiran filsuf dan penulis Eric Hoffer untuk menggambarkan bahwa hubungan politik dengan lawan tidak harus dibangun dalam kecintaan atau kebencian yang mutlak.

"Eric Hoffer bilang, we never love without reservation and never hate with all our being. Cinta dan benci ke lawan politik itu ada batasnya, jangan berlebihan,” ujarnya.

Fatta menilai sikap tersebut penting karena peta politik menuju Pilpres 2029 masih terbuka. Berbagai kemungkinan koalisi dan pasangan calon masih dapat berubah mengikuti perkembangan politik dalam beberapa tahun ke depan.

Termasuk kemungkinan AHY dan Gibran berada dalam satu kontestasi sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, meski saat ini skenario tersebut mungkin dinilai sulit secara kalkulasi politik.

“Karena peta politik 2029 masih cair. Termasuk AHY dan Gibran. Siapa tahu mereka jadi sepasang Capres-Cawapres. Meski kalkulasi politik banyak yang bilang itu mustahil,” katanya.

Menurutnya, politik memiliki dinamika yang sulit diprediksi. Karena itu, hubungan antara kelompok Cikeas dan Solo hari ini tidak seharusnya dipatok sebagai permusuhan permanen.

“Dalam politik anak-anak Cikeas dan Solo, nasib politiknya bergantung pada dua garis tangan. Pertama garis tangan bapaknya, kedua garis tangan Yang Maha Kuasa,” pungkasnya.



Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya