Berita

Ketua Umum PBNU terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz. (Foto: Istimewa)

Politik

Gus Lilur Dukung Gus Kikin Susun PBNU Profesional dan Egaliter

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2026 | 13:12 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur mendukung Ketua Umum PBNU terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyusun kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara profesional, egaliter, dan representatif secara nasional.

Menurut Gus Lilur, ketua umum terpilih memiliki hak prerogatif sekaligus tanggung jawab untuk menentukan komposisi kepengurusan berdasarkan kapasitas dan rekam jejak kader. Dia menilai, penempatan figur dalam kepengurusan PBNU semestinya tidak didasarkan pada stigma masa lalu maupun afiliasi politik tertentu.

"Penyusunan kepengurusan PBNU harus bertumpu pada indikator profesionalisme dan meritokrasi. Sangat tidak rasional apabila dinamika internal dikerdilkan oleh prasangka politik sempit," ujar Gus Lilur dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 10 September 2026.


Dia mengatakan, PBNU membutuhkan jajaran pengurus dengan kapasitas kepemimpinan dan manajerial yang mampu menjawab tantangan organisasi ke depan. Terkait munculnya nama Lukman Edy dalam bursa Sekretaris Jenderal PBNU, Gus Lilur meminta publik tidak terburu-buru mengaitkannya dengan kepentingan politik tertentu.

Menurutnya, rekam jejak Lukman Edy di pemerintahan maupun organisasi dapat menjadi pertimbangan objektif dalam penyusunan kepengurusan.

"Kehadiran figur dengan portofolio kepemimpinan yang kuat, seperti mantan menteri atau sekretaris jenderal organisasi nasional, adalah bentuk pemanfaatan modal manusia yang rasional," katanya.

Gus Lilur menegaskan, kinerja dan komitmen terhadap khittah NU harus menjadi ukuran utama dalam menilai setiap figur yang masuk dalam jajaran PBNU.

"Sinergi antara Ketua Umum dan jajarannya harus dinilai dari efektivitas kerja serta komitmen terhadap khittah NU, bukan dari asumsi subjektif," tegasnya.

PBNU Bukan PWNU Jawa Timur

Selain profesionalisme, Gus Lilur mengingatkan pentingnya keterwakilan kader dari berbagai daerah dalam struktur PBNU. Dia menilai, sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia, PBNU tidak boleh hanya merepresentasikan satu wilayah tertentu.

"PBNU adalah artikulasi keberagaman Indonesia, bukan representasi PWNU Jawa Timur semata. Historisitas dan kontribusi Jawa Timur sangat substansial, namun tata kelola PBNU harus mencerminkan asas keberimbangan nasional," jelasnya.

Menurut Gus Lilur, kader-kader potensial dari berbagai wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, dan daerah lainnya harus mendapat ruang dalam kepengurusan.

"Distribusi kepemimpinan strategis wajib mengakomodasi kader-kader terbaik dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, hingga wilayah lainnya," sambungnya.

Dia meyakini, komposisi kepengurusan yang mencerminkan keberagaman daerah akan memperkuat legitimasi PBNU sekaligus memudahkan konsolidasi organisasi hingga ke tingkat bawah.

Gus Lilur juga mengajak seluruh elemen NU memberikan kesempatan kepada Gus Kikin untuk menjalankan mandat hasil muktamar tanpa dibebani polemik politik yang spekulatif.

"Saatnya PBNU melangkah ke fase konsolidasi strategis. Transisi kepemimpinan harus dikawal dengan pandangan yang futuristik dan ilmiah, bukan ditarik ke dalam pertarungan opini yang kontraproduktif," ujarnya.

Dia berharap Gus Kikin dapat membentuk kepengurusan yang solid, inklusif, dan mampu membawa PBNU menjawab tantangan organisasi ke depan.

"Mari berikan kepercayaan penuh kepada Gus Kikin untuk membina tim kerja yang solid, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan jam'iyah," tutupnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya