Berita

Presiden Prabowo Subianto menerima Duta Besar Amerika Serikat untuk ASEAN Kevin Kim dan Kuasa Usaha ad interim (Chargé d’affaires ad interim) US Mission to ASEAN Joy M. Sakurai di kediaman pribadinya di Hambalang, Jawa Barat. (Foto: Setneg)

Politik

Washington Tak Ingin Kehilangan Indonesia

SENIN, 07 SEPTEMBER 2026 | 05:40 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan pejabat diplomatik Amerika Serikat (AS) di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu 5 September 2026, menjadi perhatian di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tajam.

Pertemuan tersebut berlangsung hanya satu hari setelah Prabowo kembali dari Rusia, tempat kepala negara menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia sebagai tamu kehormatan utama atas undangan Presiden Vladimir Putin.

Presiden Prabowo menerima Duta Besar AS untuk ASEAN Kevin Kim dan Kuasa Usaha ad interim (Chargé d’affaires ad interim) US Mission to ASEAN Joy M. Sakurai. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo didampingi Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.


Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan dan kemitraan strategis Indonesia-Amerika Serikat.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah melihat pertemuan tersebut memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas jika ditempatkan dalam konteks kunjungan Prabowo ke Rusia.

Menurut Amir, waktu pertemuan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Prabowo baru saja melakukan pertemuan bilateral dengan Putin dan tampil sebagai tamu kehormatan utama dalam forum ekonomi yang menjadi salah satu panggung penting Rusia untuk menunjukkan hubungan dengan negara-negara mitranya.

“Pertemuan dengan Dubes AS tidak bisa dilepaskan dari kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia. Terlihat AS menginginkan Indonesia tidak condong ke Rusia,” kata Amir, dikutip Senin 7 September 2026.

Prabowo memang menegaskan bahwa Indonesia terbuka bekerja sama dengan semua negara dan kekuatan besar dunia. Di Vladivostok, Prabowo bahkan menegaskan kembali politik Indonesia yang terbuka serta tidak menutup diri terhadap berbagai kekuatan global.

Dalam pertemuan dengan Putin pada Kamis 3 September 2026, kedua pemimpin juga menegaskan pentingnya hubungan strategis Indonesia-Rusia. Putin menyebut intensitas komunikasi kedua pemimpin sebagai cerminan sifat strategis hubungan kedua negara.

Bagi Amir, posisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sedang memainkan peran penting di tengah kompetisi kekuatan besar.

Indonesia tidak berada dalam posisi sebagai negara yang harus memilih Washington atau Moskow. Sebaliknya, Jakarta memiliki kepentingan untuk menjaga ruang manuver strategis dengan tetap membangun hubungan dengan Amerika Serikat, Rusia, China, Jepang, India, dan kekuatan lainnya.

“Indonesia punya kepentingan nasional sendiri. Karena itu, pendekatan yang paling rasional adalah tidak masuk ke dalam blok kekuatan tertentu,” kata Amir.

Menurut dia, justru posisi Indonesia sebagai negara besar di Asia Tenggara membuat setiap langkah Presiden Prabowo akan dibaca oleh negara-negara besar sebagai bagian dari konfigurasi geopolitik kawasan.

Amir mengatakan, Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis yang sangat besar terhadap Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat penting karena berada di jalur perdagangan dan pelayaran internasional serta berdekatan dengan kawasan Indo-Pasifik yang kini menjadi salah satu arena utama persaingan kekuatan besar.

Karena itu, kata Amir, Washington berkepentingan memastikan Indonesia tetap memiliki hubungan yang kuat dengan AS dan tidak bergerak terlalu jauh ke dalam orbit Rusia maupun China.

“Indonesia adalah negara besar di ASEAN. Kalau Indonesia terlalu dekat dengan Rusia atau China, tentu itu menjadi perhatian Amerika Serikat,” kata Amir.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Ditunggu Sayembara Mencari Silfester Matutina

Senin, 07 September 2026 | 02:30

TK-SD-SMP di Kota Bogor Berlakukan PJJ

Senin, 07 September 2026 | 02:03

Ujian KPK terkait Paulus Tannos: Jangan cuma Nangkap, tapi Kembalikan Aset

Senin, 07 September 2026 | 01:40

Water Mist Disemprot di Jalanan Jakarta Gegara Abu Vulkanik

Senin, 07 September 2026 | 01:15

Dedi Mulyadi Izinkan Sekolah Terapkan PJJ Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau

Senin, 07 September 2026 | 01:01

Dalam Tiga Hari, Hampir 2.000 Orang Keracunan MBG

Senin, 07 September 2026 | 00:44

Fahira Idris Sodorkan Enam Rekomendasi untuk MBG

Senin, 07 September 2026 | 00:16

Pemadam Semprot Abu Vulkanik

Senin, 07 September 2026 | 00:03

GMNI Desak Presiden Prabowo Evaluasi Menhan Sjafrie, Ini Sebabnya

Minggu, 06 September 2026 | 23:52

Likuiditas Bank Masih Terjaga

Minggu, 06 September 2026 | 23:40

Selengkapnya