Kepala Badan Riset PDIP sekaligus Senior Advisor LAB 45 Andi Widjajanto (paling kanan) Foto: Dokumen PDIP)
Tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto disebut mengalami penurunan tajam.
Kepala Badan Riset PDIP sekaligus Senior Advisor LAB 45 Andi Widjajanto mengungkapkan, approval rating Prabowo yang sempat berada di atas 80 persen kini merosot hingga 28 persen.
Hal itu disampaikan Andi saat menjadi panelis utama dalam Session I: Anatomy of Democratic Backsliding in Southeast Asia pada CALD Conference 2026 di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.
Dalam forum tersebut, Andi membandingkan kemunduran demokrasi di Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Filipina. Menurut dia, Thailand menghadapi kudeta militer secara terbuka, sedangkan Filipina menghadapi personalisasi kekuasaan. Indonesia, kata Andi, menempuh jalur berbeda melalui apa yang disebut sebagai autocratic legalism.
Menurut Andi, pelemahan benteng demokrasi di Indonesia tidak dilakukan melalui pengerahan militer atau perebutan kekuasaan secara paksa, tetapi dilegalkan melalui instrumen hukum formal.
"Lihat jalur Indonesia: Lembaga anti-korupsi (KPK) dilemahkan lewat revisi UU pada 2019, Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan pencalonan 2023 dengan prosedurnya sendiri, dan UU Militer direvisi pada 2025 melalui legislasi normal. Pemilu tetap tepat waktu, partisipasi warga tinggi, dan pers bebas terbit. Tidak ada kekuasaan yang direbut secara paksa, everything was legalized. Hukum tidak lagi menjadi pembatas, melainkan alat kekuasaan," tegas Andi dalam keterangannya, dikutip Sabtu 5 September 2026.
Andi juga menyoroti kondisi perekonomian tanpa syarat (money without condition) di Asia Tenggara serta rasio pajak Indonesia yang masih rendah, yakni sekitar 10 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemerintah merasa tidak perlu mendengarkan aspirasi masyarakat.
Dalam sesi tanya jawab yang dimoderatori Strategic Advisor Viet Tan Vietnam Trinity Pham, Andi kemudian memaparkan dinamika koalisi politik pasca-Pemilu 2024 yang disebutnya sangat cair dan enigmatik.
Menurut Andi, meskipun terbentuk koalisi raksasa dengan PDIP menjadi satu-satunya penyeimbang, akumulasi kekuasaan yang besar tersebut justru mengalami anomali di mata publik.
"Ada teka-teki besar. Pada kurun Oktober 2024 hingga Agustus 2025, tingkat kepuasan (approval rating) kepresidenan Prabowo sangat tinggi di atas 80%. Namun pada survei Juli hingga Agustus 2026, tingkat kepuasan tersebut merosot tajam hingga menyentuh angka terendah 28%. Ini adalah penurunan tertajam bagi presiden petahana dalam dua tahun pertama," beber mantan Gubernur Lemhannas tersebut.
Andi menilai penurunan tersebut dipicu kerasnya penolakan publik terhadap sejumlah program prioritas pemerintah, seperti program makan siang gratis hingga Koperasi Desa Merah Putih.
Menjawab pertanyaan peneliti FISIP UGM Hafiz mengenai pentingnya literasi kewarganegaraan, Andi memaparkan munculnya dua "sekutu baru" yang dinilainya mengejutkan dalam menjaga resiliensi demokrasi di Indonesia.
Sekutu pertama adalah pasar global (global market). Andi menyoroti penurunan peringkat indeks tepercaya oleh lembaga seperti MSCI, FTSE, Moody's, dan S&P yang disebutnya terjadi akibat hilangnya kepercayaan investor terhadap proses pengambilan keputusan ekonomi pemerintah.
Kondisi itu, menurut Andi, memicu pendarahan modal (capital flight) ke negara-negara tetangga seperti Filipina dan India.
Sekutu kedua adalah fenomena "Swasembada Meme & Kecerdasan Buatan (AI)".
Andi menyoroti kegagalan pemerintah melakukan sensor digital yang diimbangi dengan maraknya satire politik, meme, serta penggunaan kecerdasan buatan oleh masyarakat sipil sebagai bentuk perlawanan publik di media sosial.
Meski demikian, Andi menegaskan bahwa kekuatan utama untuk mempertahankan demokrasi tetap berada di dalam negeri, terutama pada kelompok masyarakat sipil.
"Demokrasi tidak bisa diselamatkan dari luar. Sumber kekuatan utama untuk mengkonsolidasikan resiliensi demokrasi kita dari dalam terletak pada dua kelompok utama, yakni Perempuan dan Generasi Muda atau Youth," pungkas Andi.