Berita

Foto ilustrasi pencari kerja. (Foto: media sosial)

Politik

Pemuda Nganggur adalah Hasil Salah Kebijakan

JUMAT, 04 SEPTEMBER 2026 | 22:40 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto menilai melejitnya angka pengangguran usia muda di Indonesia bukan semata-mata karena persoalan kualitas individu, melainkan dampak dari kekeliruan struktural dan ego sektoral dalam kebijakan pemerintah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia muda tercatat mencapai 17,37 persen, melompat jauh di atas rata-rata TPT nasional sebesar 4,65 persen.

"Pasokan angkatan kerja kita bertambah besar setiap tahun. Tetapi lapangan kerjanya tidak ada," ujar Pulung dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat, 4 September 2026.


Politikus PDIP ini menyoroti paradoks pasar kerja di tanah air. Di satu sisi jutaan anak muda kesulitan mencari kerja, namun di sisi lain pelaku industri mengeluhkan minimnya tenaga terampil yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Kondisi tersebut, kata Pulung, memperlihatkan jurang pemisah (mismatch) antara dunia pendidikan dan sektor industri.

"Ini alarm serius. Kebijakan pendidikan dan desain kebijakan industri seperti dua dunia yang terpisah. Yang menjadi korban adalah anak-anak muda kita akibat ego sektoral yang tidak pernah selesai," tegasnya.

Ia mengkritik narasi yang kerap mempojokkan anak muda sebagai pihak yang enggan beradaptasi atau kurang berpengalaman saat melamar kerja. Menurutnya, pemerintah harus mengevaluasi total desain kebijakan nasional ketimbang menyalahkan lulusan sekolah maupun perguruan tinggi.

"Anak-anak muda kita dididik dalam sistem pendidikan nasional yang dirancang pemerintah. Kalau lulus lalu sulit dapat kerja, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Yang harus dievaluasi adalah desain kebijakannya," kata Pulung.

Lebih lanjut, Pulung mengingatkan ancaman serius jika bonus demografi gagal dikelola dengan baik. Melimpahnya penduduk usia produktif tanpa ketersediaan lapangan kerja yang layak berpotensi memicu gelombang keresahan sosial.

"Bonus demografi itu tidak mungkin berulang. Kalau momentum ini gagal kita manfaatkan, berarti kita melewatkan satu peluang emas untuk membangun masa depan Indonesia," tutupnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya