Berita

Para terdakwa korupsi kuota haji di Pengadilan Tipikor Jakarta. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Hukum

Eks Dirbhinus Kemenag Ungkap Draf MoU Haji 50:50 Diajukan Indonesia ke Arab Saudi

JUMAT, 04 SEPTEMBER 2026 | 20:48 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kembali menggelar sidang perkara dugaan korupsi pengalihan kuota tambahan haji periode 2023-2024, Jumat, 4 September 2026.

Dalam persidangan tersebut, mantan Direktur Bina Haji Khusus Kementerian Agama (Kemenag), Jaja Jaelani mengungkapkan fakta baru terkait pengajuan draf Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) penyelenggaraan ibadah haji kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Jaja menyebut draf MoU yang menyodorkan skema pembagian kuota haji tambahan 50:50 untuk haji reguler dan haji khusus ternyata disiapkan dan diajukan oleh pihak Kemenag sendiri.


Fakta tersebut terkuak saat majelis hakim mencecar Jaja mengenai proses penyusunan draf MoU dan pengalihan kuota dari kesepakatan awal dengan DPR RI yang menetapkan porsi haji khusus hanya sebesar 8 persen.

"Draft MoU yang disodorkan oleh Kementerian Indonesia ke Kementerian Kerajaan Arab Saudi ini isinya apa? Menegaskan bahwa itu pembagiannya 50 persen 50 persen atau bagaimana, Pak?" cecar hakim di ruang sidang.

Jaja menjelaskan bahwa draf perjanjian memuat total kuota, kuota petugas, hingga skema pembagian jemaah.

"Yang pertama adalah kuota keseluruhan yang diberikan Arab Saudi, yang kedua kuota petugas, yang berikutnya adalah pembagian jemaah haji reguler dan haji khusus, itu, Pak," jawab Jaja.

"Yang intinya pembagian 50 persen 50 persen tadi ya, drafnya diajukan?" rekonfirmasi hakim.

"Iya," aku Jaja.

Lebih lanjut, Jaja meluruskan bahwa unit pengaju draf tersebut di internal Kemenag bukanlah Direktorat Bina Haji Khusus yang pernah dipimpinnya, melainkan Direktorat Pelayanan Haji Luar Negeri.

Majelis hakim lantas menegaskan bahwa Pemerintah Arab Saudi menerbitkan aturan dan menyetujui porsi 50:50 berdasarkan data serta draf yang disodorkan oleh pihak Indonesia.

"Berarti Pemerintah Arab Saudi itu memutuskan atas data-data yang diperoleh dari pihak sini? Kemudian dia mengambil kesimpulan menyetujuilah apa yang disodorkan dari pemerintah kita?" tanya hakim.

"Iya, Pak," pungkas Jaja.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya