Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Bursa Eropa Pulih di Tengah Tekanan Saham Barang Mewah

JUMAT, 04 SEPTEMBER 2026 | 07:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa saham Eropa kembali menguat setelah melemah selama tiga hari berturut-turut. Meredanya tekanan di pasar obligasi membantu investor kembali masuk ke pasar saham.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 3 September 2026, waktu setempat, indeks STOXX 600 naik 0,5 persen menjadi 649. Penguatan ini membawa indeks menjauh dari level terendah dalam satu bulan yang tercatat pada Selasa. Sebagian besar bursa saham utama Eropa juga berakhir di zona hijau.

Di Prancis, indeks CAC 40 naik tipis 0,02 persen atau 1 poin ke level 8.282. Penguatan terutama ditopang saham Capgemini yang melonjak 4,66 persen, Stellantis naik 4,04 persen, dan Publicis menguat 3,87 persen.


Namun, sejumlah saham menjadi pemberat CAC 40. Hermes turun 3,10 persen, Essilor melemah 3,09 persen, sedangkan LVMH terkoreksi 2,22 persen.

Sementara itu, indeks DAX Jerman menguat 0,63 persen atau 164 poin ke level 26.003. Kenaikan dipimpin Volkswagen yang naik 3,38 persen, Porsche Automobil menguat 2,68 persen, dan Vonovia bertambah 2,46 persen.

Di sisi lain, Rheinmetall turun 2,07 persen, Fresenius Medical Care melemah 1,93 persen, dan Qiagen terkoreksi 1,85 persen.

Salah satu penggerak utama bursa Eropa adalah saham Soitec yang melonjak 10,3 persen. Saham perusahaan pembuat chip asal Prancis itu menguat setelah menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan kuartal II 2027 menjadi 50 persen secara tahunan, dari perkiraan sebelumnya 30 persen.

Sektor barang mewah justru menjadi salah satu pemberat pasar setelah turun 2 persen. Saham LVMH merosot 1,8 persen, Hermes turun sekitar 2 persen, sementara Kering, pemilik Gucci, melemah sekitar 3 persen.

Tekanan terhadap bursa Eropa sebelumnya meningkat akibat ketegangan perang Iran yang mendorong harga minyak dan kembali memicu kekhawatiran inflasi. Investor juga mencermati kenaikan utang pemerintah yang berpotensi membuat suku bunga bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama.

Namun, harga minyak turun pada Kamis meski masih berada di atas 95 Dolar AS per barel. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi zona euro turun dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini membantu meredakan tekanan di pasar saham.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya