Berita

Ilustrasi. (Foto: Genetare AI)

Bisnis

Rupiah Dibayangi Sentimen Negatif Imbas Konflik AS-Iran Memanas

SENIN, 31 AGUSTUS 2026 | 18:28 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin 31 Agustus 2026, di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.722 per dolar AS, melemah 29 poin atau 0,16 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan indeks dolar AS dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.


Pasukan AS diketahui menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, yang terletak di Selat Hormuz, pada Minggu waktu setempat. 

Serangan tersebut menjadi serangan pertama yang diketahui dilakukan AS terhadap wilayah Teluk sejak akhir Juli. 

Sebagai respons, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, sebagaimana dilaporkan media Iran.

"Negosiasi untuk mengakhiri konflik ini sedang menemui jalan buntu. Sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari," kata Ibrahim dalam risetnya.

Selain faktor geopolitik, pergerakan dolar AS juga dipengaruhi pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole.

Warsh menekankan pentingnya stabilitas harga sebagai fokus utama bank sentral AS. Menurutnya, The Fed masih perlu memastikan inflasi inti bergerak menuju target 2 persen. 

Ia juga menyebut kondisi keuangan saat ini belum dapat dikategorikan sebagai kondisi yang restriktif karena pasar kredit dan pinjaman hanya menunjukkan sedikit tanda pengetatan kebijakan moneter.

"Pernyataan tersebut mendorong pasar meningkatkan spekulasi mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September mendatang," kata Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, ketidakpastian global kembali menjadi tekanan terhadap Rupiah yang juga berpotensi berdampak terhadap kondisi fiskal negara.

"Dari dalam negeri ketidakpastian geopolitik global dan lonjakan harga energi berpotensi semakin membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)," kata Ibrahim.

Kondisi tersebut harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi dan melakukan reformasi terhadap skema subsidi dan kompensasi energi.

Hingga akhir Juni 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi tercatat sekitar Rp233 triliun. 

Nilai tersebut diperkirakan terus meningkat  hingga Rp526 triliun pada akhir tahun. 

Dengan demikian, terdapat potensi kenaikan hampir Rp200 triliun dibandingkan alokasi awal dalam APBN yang berada di kisaran Rp338 triliun. 

Menurutnya, besarnya risiko tersebut tidak terlepas dari harga energi global, nilai tukar Rupiah, serta tingkat konsumsi energi domestik.

"Pada saat yang sama, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga membuat biaya pengadaan energi menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi," kata Ibrahim.

Nasib IHSG

Pergerakan pasar saham domestik justru berada di zona positif. Indeks Harga Saham Gabungan alias IHSG menguat 7,36 poin atau 0,11 persen ke level 6.525,48.

Volume perdagangan mencapai 48,76 miliar saham dengan nilai transaksi Rp24,69 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,37 juta kali. Adapun kapitalisasi pasar mencapai Rp11.423 triliun.

Sebanyak 413 saham bergerak menguat, 245 saham melemah, dan 305 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Dari 11 indeks sektoral, sebanyak delapan sektor ditutup di zona hijau. Penguatan tertinggi terjadi pada sektor industri sebesar 1,46 persen, disusul sektor energi 1,12 persen dan sektor keuangan 0,67 persen.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya