Berita

Banjir bandang di Nepal (Foto: X)

Dunia

Bukan Gempa, Banjir Bandang Nepal-Tibet Dipicu Runtuhnya Gletser

KAMIS, 27 AGUSTUS 2026 | 11:54 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Banjir bandang dahsyat yang menerjang wilayah Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026, ternyata bukan dipicu gempa bumi. 

US Geological Survey (USGS) mengungkap bencana yang menewaskan sedikitnya 160 orang itu terjadi akibat runtuhnya gletser dan longsoran batu serta es dalam skala besar.

Aktivitas seismik yang semula tercatat sebagai gempa berkekuatan 4,4 magnitudo ternyata dihasilkan oleh longsoran batu dan es. USGS kemudian mencatat peristiwa longsoran tersebut berkekuatan 5,2 magnitudo. 


Runtuhan itu memicu aliran material bercampur puing yang bergerak deras ke lembah, khususnya di Sungai Lhende, sekitar 20 kilometer dari perlintasan Rasuwagadhi.

Penelitian USGS yang juga merupakan Ahli geologi di Universitas Calgary, Daniel Shugar, memperkirakan bagian gletser yang terlepas memiliki lebar sekitar 2.000 kaki dan jatuh dari ketinggian 17.000 kaki atau lebih dari 5.000 meter. 

"Sepertinya gletser di daerah itu pada dasarnya patah," kata Shugar, dikutip dari The New York Times.

Shugar juga memperkirakan besarnya volume air yang dihasilkan dari peristiwa tersebut menunjukkan kemungkinan adanya faktor lain. 

Sementara ahli glasiologi University of Dundee, Simon Cook, menggambarkan besarnya energi yang tersimpan di dalam bongkahan es tersebut. 

“Ini adalah bongkahan besar es yang tersimpan di ketinggian tinggi di gunung, dengan potensi energi yang sangat besar,” kata dia.

Instrumen seismik mendeteksi pergerakan besar ke arah bawah sekitar pukul 08.40 waktu setempat, yang kemudian segera diikuti sinyal aliran air bergerak cepat. 

Analisis citra satelit oleh International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) dan lembaga mitra menunjukkan volume besar batuan dan es masuk ke sungai sehingga menghasilkan gelombang deras ke arah hilir.

Banjir menghancurkan jembatan, merendam desa, serta merusak jalan dan proyek pembangkit listrik tenaga air di sepanjang sistem Sungai Bhote Koshi dan Trishuli. 

Lebih dari 400 wisatawan masih dilaporkan hilang di wilayah terdampak. 

Para ahli juga mengingatkan potensi gelombang susulan apabila material longsoran masih menyumbat aliran sungai, sementara perubahan iklim dan meningkatnya suhu di Himalaya disebut berpotensi memperbesar risiko runtuhnya gletser.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya