Berita

Daging sapi di pasar tradisional. (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Bisnis

Kuota Impor Dikuasai, Pengusaha Bongkar Penyebab Harga Daging Tetap Mahal

RABU, 26 AGUSTUS 2026 | 13:20 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Harga daging sapi di pasar domestik masih dinilai terlalu tinggi. Pengusaha daging menyebut salah satu persoalannya adalah konsentrasi penguasaan kuota impor yang membuat pilihan pasokan menjadi terbatas.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI) Marina Ratna DK mengatakan kenaikan harga terlihat pada daging knuckle asal India yang banyak digunakan untuk kebutuhan rendang.

Saat ini, harga daging tersebut mencapai sekitar Rp128.000 per kilogram di tingkat distributor, naik dari Rp114.000 per kilogram pada Maret 2026.


"Kenaikan harga berkisar 10-11 persen. Itu untuk daging knuckle India biasanya buat rendang, Maret Rp114.000, sekarang Rp128.000 di tingkat distributor anak perusahaan yang ditunjuk BUMN," kata Rina kepada RMOL, Rabu 26 Agustus 2026.

Menurut Rina, tingginya harga tidak terlepas dari penguasaan kuota impor daging dari negara-negara pemasok utama. Ia menyebut seluruh kuota daging India dan Brasil dikuasai BUMN.

"Daging India 100 persen dikuasai BUMN kuotanya. Daging Brasil 100 persen juga sama dikuasai BUMN. Kalau kuotanya sudah dikuasai, otomatis harga pasar dikuasai mereka," jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut Rina, membuat pelaku usaha kesulitan mencari alternatif pasokan ketika harga dari pemasok utama meningkat.

Sejumlah negara seperti Australia, Selandia Baru (NZ), Amerika Serikat (USA), dan Spanyol sebenarnya masih menjadi pilihan. Namun, menurut Rina, sebagian besar kuotanya juga telah dialokasikan kepada pihak tertentu.

"Alternatif dari Australia, NZ, USA, Spanyol, tapi itupun dikuasai BUMN 84 persen yang diberikan ke perusahaan tersebut. 16 persen atau 30.000 ton diberikan kepada 105 perusahaan importir," jelasnya.

Rina menilai kondisi tersebut membuat persaingan pasokan daging menjadi tidak leluasa. Terbatasnya akses importir terhadap kuota membuat alternatif pemasok di pasar praktis semakin sempit.

"Alternatif tersebut hampir tidak ada peluang, karena mereka secara sistematis telah berkoordinasi agar harga daging dikuasainya," kata Rina.

Ia bahkan memperkirakan harga daging sapi saat ini berada sekitar 20-25 persen di atas harga yang dinilainya objektif. Menurutnya, selisih tersebut berpotensi ditekan apabila perdagangan daging berlangsung dengan mekanisme pasar yang lebih kompetitif.

"Diperkirakan harga selisih 20-25 persen lebih tinggi dibandingkan harga obyektif jika pasar diserahkan dengan mekanisme pasar," tandasnya.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya