Berita

Pemimpin Redaksi RMOL.id, Azis Husaini dalam forum Fikom Unpad Connection bertajuk “E-Voting untuk Memilih Pejabat Negara: Seberapa Siap Indonesia?” di Menteng, Jakarta Pusat. (Foto: RMOL)

Politik

Azis Husaini:

E-Voting Adalah Keniscayaan

RABU, 26 AGUSTUS 2026 | 11:53 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Penerapan electronic voting (e-voting) dalam sistem pemilu Indonesia merupakan sebuah keniscayaan seiring perkembangan teknologi dan perubahan karakteristik pemilih.

Menurut Pemimpin Redaksi RMOL.id, Azis Husaini, digitalisasi saat ini telah masuk ke berbagai sektor, termasuk industri media. Perubahan tersebut tidak mungkin dibendung sehingga sektor pemilu juga perlu mulai mempersiapkan diri menghadapi transformasi digital.

“E-voting ini keniscayaan,” kata Azis dalam forum Fikom Unpad Connection bertajuk “E-Voting untuk Memilih Pejabat Negara: Seberapa Siap Indonesia?” di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 26 Agustus 2026.


Ia mencontohkan, digitalisasi sedang mengubah industri media secara signifikan. Media konvensional pun secara bertahap bergeser menuju platform berbasis teknologi.

“Digitalisasi sedang menimpa industri media. Digitalisasi tidak bisa dibendung,” ujarnya.

Menurut Azis, wacana e-voting juga tidak terlepas dari kondisi demografi Indonesia. Jumlah pemilih dari kalangan milenial dan Gen Z yang semakin besar menjadi salah satu faktor pendukung transformasi sistem pemilu menuju teknologi digital.

Ia menilai penguasaan terhadap kelompok generasi tersebut akan menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika politik ke depan.

“Kalau Anda menguasai generasi ini, pasti Anda akan menang,” ujarnya.

Azis mengatakan, generasi yang lebih tua juga memiliki peran penting dalam membangun sistem yang dapat menjembatani perubahan tersebut. Ia memperkirakan penerapan e-voting secara penuh mungkin belum terjadi dalam waktu dekat, tetapi bukan tidak mungkin mulai diwujudkan pada Pemilu 2034.

Dia membeberkan transformasi yang terjadi di industri media. Menurutnya, perubahan dari sistem konvensional menuju teknologi bukan hanya sekadar wacana, tetapi sudah dijalankan dalam praktik.

Karena itu, menurut Azis, pembahasan e-voting harus mulai diarahkan pada bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara bertahap, termasuk bagaimana media berperan mengkomunikasikan sistem tersebut kepada masyarakat.

Ia juga menyoroti pentingnya peran Kementerian Hukum dalam menyiapkan landasan regulasi apabila e-voting akan diterapkan. Produk hukum yang nantinya masuk dalam Undang-Undang Pemilu harus mampu mengakomodasi perkembangan teknologi sekaligus menjamin keamanan sistem.

Menurut Azis, penerapan e-voting tidak harus langsung dilakukan pada pemilu nasional. Tahap awal dapat diuji melalui pemilihan kepala daerah sebagai bagian dari proses evaluasi.

“Untuk tahapan awal bisa dimulai dari pilkada,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Strategi Kebijakan Kementerian Hukum RI, Andry Indrady, menyoroti aspek kepercayaan publik dalam penerapan teknologi e-voting.

Menurut Andry, persoalan trust menjadi faktor penting karena teknologi baru akan dapat diterima apabila masyarakat memiliki kepercayaan terhadap sistem tersebut.

“Soal trust, sosio-culture teknologi. Teknologi akan dipercaya ketika publik percaya,” kata Andry.

Karena itu, menurutnya, penerapan e-voting harus disertai penjelasan yang transparan kepada masyarakat. Publik perlu memahami latar belakang, tujuan, mekanisme, hingga alasan teknologi tersebut digunakan dalam sistem pemilu.

Andry menambahkan, evaluasi juga harus menjadi bagian penting dalam setiap tahapan penerapan teknologi. Tidak cukup hanya melihat apakah sistem berjalan, tetapi juga harus mengukur hasil yang dicapai.

“Roadmap evaluasi itu penting,” pungkasnya.


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya