Berita

Forum Fikom Unpad Connection bertajuk “E-Voting untuk Memilih Pejabat Negara: Seberapa Siap Indonesia?” (Foto: RMOL)

Politik

Banyak DNA Copet, Bagaimana Cara Awasi E-Voting?

RABU, 26 AGUSTUS 2026 | 11:42 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wacana penerapan electronic voting (e-voting) dalam Pemilu Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. Sistem tersebut harus dipersiapkan secara matang, termasuk memastikan kesiapan kelembagaan dan mencegah potensi penyalahgunaan anggaran.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengingatkan bahwa persoalan utama bukan hanya terletak pada sistem, tetapi juga pada manusia yang menjalankannya.

“DNA kita banyak copet,” kata Agus dalam forum Fikom Unpad Connection bertajuk “E-Voting untuk Memilih Pejabat Negara: Seberapa Siap Indonesia?” di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 26 Agustus 2026.


Menurutnya, e-voting pada dasarnya merupakan sistem yang baik. Namun, penerapannya harus didahului dengan penyusunan roadmap yang jelas dan matang.

“Sistem bagus, tapi dimatangkan dulu roadmap-nya,” ujarnya.

Agus mencontohkan penerapan e-government yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya berhasil. Menurutnya, digitalisasi pemerintahan tidak otomatis membuat tata kelola menjadi lebih baik.

Ia juga mengingatkan adanya potensi kepentingan politik dalam penerapan sistem digital pemerintahan maupun pemilu. Agus menyoroti kemungkinan adanya “titipan” dari partai politik dalam proses pengadaan atau penentuan sistem.

Karena itu, Agus meminta pemerintah tidak terburu-buru menggelontorkan anggaran besar untuk penerapan e-voting sebelum seluruh aspek dipastikan matang.

“Jangan hamburkan anggaran yang besar,” katanya.

Agus juga mengingatkan potensi persaingan antarpihak yang menawarkan sistem e-voting. Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi agar penerapan teknologi tidak justru menjadi ladang kepentingan bisnis.

“Nanti yang nawarin sistem berebutan itu. Jadi hati-hati,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah menyoroti kesiapan kelembagaan apabila e-voting benar-benar diterapkan. Ia mempertanyakan mekanisme pengawasan terhadap proses pemungutan suara elektronik, termasuk kesiapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Trubus mempertanyakan bagaimana pengawasan terhadap e-voting dapat dilakukan secara efektif apabila sistem tersebut diterapkan secara luas.

“E-voting ngawasin piye? Apakah lembaga KPU, Bawaslu siap?” ujarnya.

Selain kesiapan lembaga penyelenggara pemilu, Trubus juga mempertanyakan kondisi di daerah. Menurutnya, penerapan e-voting tidak bisa hanya melihat kesiapan pusat karena kondisi infrastruktur dan sumber daya manusia di setiap daerah berbeda.

Trubus juga mengingatkan potensi adanya akal-akalan dalam mekanisme dan prosedur penerapan e-voting. Karena itu, ia menilai wacana tersebut semestinya tidak hanya dilihat sebagai penggantian metode pemungutan suara, tetapi menjadi momentum untuk membenahi persoalan mendasar dalam sistem pemilu.

“Entry point buat membenahi kebobrokan,” pungkasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya