Berita

Dini Asmiatul. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Prophetic Leadership:

Menguji Relevansi Teladan Rasulullah di Tengah Krisis Etika Global

SELASA, 25 AGUSTUS 2026 | 22:40 WIB

DUNIA modern menghadapi krisis kepemimpinan dan degradasi moral yang ditandai korupsi, manipulasi informasi, penyalahgunaan kekuasaan, serta budaya serba cepat (fast-paced culture) dalam politik dan bisnis. Karena itu, Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi momentum reorientasi nilai melalui konsep Prophetic Leadership. Jauh sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai Al-Amin, sosok terpercaya karena integritas, kejujuran, dan keadilan dalam kehidupan sosial maupun bisnis (Kuntowijoyo, 2006). Keteladanan tersebut tercermin dalam empat pilar: Siddiq (kejujuran dan integritas), Amanah (tanggung jawab dan akuntabilitas), Tabligh (transparansi dan komunikasi), serta Fathanah (kecerdasan dan profesionalitas) (Kurniawan & Rahmawati, 2021).

Di tengah krisis kepercayaan terhadap pemimpin dan persoalan korporasi, nilai-nilai tersebut tetap relevan sebagai fondasi kepemimpinan modern. Prinsip keadilan (‘adl) dan kesejahteraan bersama (maslahah) dapat mendorong tata kelola yang transparan, adil, dan berkelanjutan (Beekun & Badawi, 2005; Lewis, 2010). Kepemimpinan Rasulullah menempatkan kekuasaan sebagai amanah untuk melayani (servant leadership), bukan alat dominasi. Namun, kemeriahan Maulid terkadang belum diikuti penerapan kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial. Pemimpin yang menghadiri perayaan keagamaan tetapi tersandung korupsi, maupun pelaku bisnis yang merayakan Maulid tetapi mengabaikan hak pekerja, menunjukkan kesenjangan antara simbol keagamaan dan perilaku etis (Nahar, 2022).

Karena itu, memperingati Maulid secara substantif berarti membumikan etika Prophetic Leadership dalam pemerintahan, pendidikan, organisasi, dan dunia profesional. Keteladanan Nabi tidak cukup dikutip di atas mimbar, tetapi harus diwujudkan melalui kejujuran, transparansi, keadilan, tanggung jawab, serta keberanian menolak korupsi dan manipulasi. Dengan menjadikan karakter Al-Amin sebagai kompas moral, Maulid dapat bertransformasi dari ritual tahunan menjadi gerakan pembentukan karakter dan tata kelola berintegritas, sekaligus pendekatan etis untuk menjawab krisis kepemimpinan di Indonesia dan dunia.


Tantangan Etika Moral di Tengah Arus Globalisasi

Derasnya arus globalisasi dan disrupsi teknologi digital melahirkan kompleksitas moral, terutama melalui globalisasi ekonomi, politik, informasi, dan budaya. Laporan Edelman Trust Barometer 2026 menunjukkan adanya “Crisis of Insularity”, ketika 70 persen masyarakat dunia merasa ragu mempercayai orang yang berbeda latar belakang, prinsip, maupun sumber fakta. 

Dalam konteks kepemimpinan, kondisi ini diperparah oleh keterbukaan ekonomi, pesatnya media sosial, dan persaingan politik yang dapat membuka peluang penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Di Indonesia, persoalan tersebut tercermin dalam kasus korupsi dan konflik kepentingan, sementara penggunaan media sosial oleh tokoh politik seperti Donald Trump menunjukkan bagaimana arus informasi dapat memperkuat polarisasi apabila tidak disertai tanggung jawab etis.

Persoalan serupa terlihat dalam konteks geopolitik melalui kepemimpinan Vladimir Putin dalam konflik Rusia-Ukraina, yang menunjukkan bagaimana kepentingan kekuasaan dan politik global dapat menghasilkan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang luas. Berbagai kasus tersebut menunjukkan bahwa globalisasi bukan penyebab langsung rendahnya moral pemimpin, melainkan lingkungan yang dapat memperbesar tekanan sekaligus peluang penyalahgunaan kekuasaan. 

Karena itu, kepemimpinan di era globalisasi membutuhkan integritas, kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan orientasi pada kepentingan masyarakat. Ketika keberhasilan hanya diukur dari pencapaian instan sementara integritas diabaikan, kepemimpinan kenabian dapat menjadi counter-culture atau penawar etis dengan menegaskan bahwa cara (means) mencapai tujuan sama pentingnya dengan hasil (ends).

Rekonstruksi Karakter Al-Amin dalam Ekosistem Kerja Modern

Dalam ekosistem kerja modern, termasuk ekonomi digital, industri e-commerce, dan gig economy, karakter Al-Amin (tepercaya) perlu ditransformasikan dari konsep historis menjadi prinsip operasional dalam kehidupan profesional. Nilai kejujuran (Siddiq) dan akuntabilitas (Amanah) tidak lagi hanya dimaknai sebagai tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, tetapi juga mencakup transparansi pengambilan keputusan, penggunaan algoritma secara bertanggung jawab, perlindungan privasi dan data pengguna, serta pemberian upah layak kepada pekerja. Dengan demikian, karakter Al-Amin menjadi landasan moral untuk menjawab persoalan etika akibat perkembangan teknologi dan perubahan pola kerja.

Rekonstruksi karakter Al-Amin dapat diwujudkan melalui budaya kerja yang menjunjung integritas, transparansi, tanggung jawab, dan keteladanan pemimpin. Pemimpin berkarakter Al-Amin tidak hanya berorientasi pada keuntungan dan target organisasi, tetapi memastikan pencapaiannya dilakukan secara jujur dan adil. Dalam konteks digital, nilai tersebut diterapkan dengan tidak memanipulasi informasi, menjaga keamanan data, menghindari konflik kepentingan, serta bertanggung jawab atas dampak keputusan organisasi. Pemimpin yang menerapkannya akan membangun trust-based culture, yaitu budaya organisasi yang bertumpu pada kepercayaan antara pemimpin, pekerja, konsumen, dan pemangku kepentingan.

Kajian mengenai kepemimpinan etis Islam (Islamic Ethical Leadership) menunjukkan pentingnya nilai kenabian dalam membangun tata kelola organisasi berintegritas. Penerapan nilai Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah dapat memperkuat kepercayaan, loyalitas pekerja, dan keberlanjutan organisasi apabila diterapkan konsisten. Oleh karena itu, Al-Amin tidak hanya relevan sebagai keteladanan sejarah Islam, tetapi juga sebagai prinsip kepemimpinan dan profesionalisme untuk menghadapi kompleksitas dunia kerja modern.

Menembus Kesalehan Simbolis: Dari Ritual Menuju Aksi Etika Sosial

Tantangan penghayatan keagamaan di Indonesia salah satunya adalah kesalehan simbolis, ketika nilai agama lebih banyak ditampilkan melalui ritual dan simbol, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam perilaku sosial dan profesional. Dalam konteks Maulid, hal ini terlihat ketika perayaan berlangsung meriah dan menghadirkan banyak tokoh, sementara pesan tentang kejujuran, amanah, keadilan, dan kepedulian terhadap kelompok lemah belum diwujudkan dalam tindakan nyata. Korupsi, suap, nepotisme, konflik kepentingan, hingga penyalahgunaan jabatan menjadi cermin kesenjangan antara kesalehan yang tampak di ruang publik dan etika dalam kehidupan sehari-hari. 

Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa kebajikan bukan sekadar bentuk formal, melainkan tindakan nyata kepada sesama (QS. Al-Baqarah: 177). Karena itu, Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum mengubah kesalehan simbolis menjadi kesalehan sosial, sebab keteladanan Rasulullah menunjukkan bahwa nilai agama harus hadir dalam hubungan sosial, perdagangan, kepemimpinan, dan keberpihakan kepada kelompok yang lemah (Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Iman; Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Iman).

Transformasi tersebut membutuhkan aksi yang konkret dan terukur, bukan sekadar seremonial. Program “Maulid Beraksi”, misalnya, dapat diwujudkan melalui santunan berkelanjutan bagi anak yatim dan keluarga kurang mampu, pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian makanan, gerakan kebersihan dan penanaman pohon, dengan pengelolaan dana secara transparan. Pada tingkat organisasi dan pemerintahan, nilai Maulid dapat diterjemahkan melalui komitmen antigratifikasi, transparansi anggaran, penolakan nepotisme, perlakuan adil terhadap pekerja, dan evaluasi etika kepemimpinan. 

Dengan demikian, keberhasilan Maulid tidak diukur dari kemegahan panggung atau jumlah peserta, tetapi dari seberapa jauh nilai kenabian melahirkan perubahan nyata. Prinsip ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Dengan menjadikan sebagai titik awal aksi etika sosial, peringatan kelahiran Nabi dapat bergerak dari ritual tahunan menuju gerakan membangun masyarakat yang jujur, adil, peduli, dan bertanggung jawab.

Dini Asmiatul
Ketua Bidang Pemberdayaan Umat PB HMI


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya