DANANTARA menempatkan Pelindo sebagai salah satu BUMN yang disiapkan melakukan IPO (Initial Public Offering) atau penawaran umum perdana saham dalam enam hingga 12 bulan mendatang. Tujuannya sudah disampaikan secara terbuka: meningkatkan likuiditas dan memperdalam pasar modal Indonesia.
Pelindo memang mempunyai modal yang kuat untuk menjadi perusahaan publik. Kinerja operasional dan keuangannya menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Pada semester I 2026, Pelindo membukukan laba periode berjalan Rp2,57 triliun, tumbuh 60,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Arus peti kemas mencapai 9,96 juta TEUs (twenty-foot equivalent units) atau satuan setara peti kemas 20 kaki, naik 7 persen.
Kinerja 2025 juga menunjukkan skala bisnis yang besar. Pendapatan usaha mencapai Rp35,48 triliun atau tumbuh 9 persen, sementara arus peti kemas mencapai 19,8 juta TEUs, naik 5 persen. Kontribusi Pelindo kepada negara melalui pajak, dividen, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan konsesi mencapai Rp7,81 triliun.
Angka-angka tersebut menjelaskan mengapa Pelindo menarik bagi pasar modal. Tetapi justru karena Pelindo besar dan strategis, IPO-nya tidak cukup dilihat sebagai aksi korporasi biasa.
Pertanyaannya: apakah IPO Pelindo benar-benar akan memperdalam pasar modal, atau hanya menambah satu emiten besar?
Jawabannya sangat bergantung pada desain IPO.
Besar Tidak Otomatis Likuid
Pelindo memenuhi banyak kriteria sebagai calon emiten besar. Bisnisnya strategis, asetnya besar, jaringan pelabuhannya nasional, dan kinerjanya terus berkembang.
Tetapi perusahaan besar tidak otomatis menghasilkan saham yang likuid.
Likuiditas membutuhkan porsi saham publik yang cukup, basis investor yang luas, transaksi yang aktif, dan minat investor yang berkelanjutan.
Karena itu, persoalan penting bukan hanya berapa nilai Pelindo ketika masuk bursa, tetapi berapa bagian saham yang benar-benar dilepas dan tersedia untuk diperdagangkan publik.
Di sinilah kepentingan pasar modal dan kepentingan negara bertemu.
Negara tentu berkepentingan mempertahankan kendali atas perusahaan yang mengelola infrastruktur pelabuhan nasional. Pasar membutuhkan porsi saham publik yang cukup agar perdagangan saham berlangsung aktif.
Jika saham yang dilepas terlalu sedikit, nilai kapitalisasi Pelindo mungkin besar, tetapi perdagangan sahamnya belum tentu dalam. Sebaliknya, memperbesar porsi saham publik juga harus memperhitungkan kepentingan negara sebagai pemegang saham pengendali.
Karena itu, porsi saham publik bukan sekadar persoalan teknis IPO. Ini bagian dari desain kebijakan.
Belajar dari Anak UsahaPelindo sudah mempunyai pengalaman membawa perusahaan ke pasar modal melalui PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) dan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC).
Pengalaman kedua perusahaan tersebut memberikan pelajaran penting. Status sebagai perusahaan terbuka tidak otomatis menghasilkan saham yang likuid. Porsi saham publik, basis investor, ukuran perusahaan, dan aktivitas perdagangan tetap menentukan.
Pelindo tentu berbeda. Skala bisnisnya jauh lebih besar sehingga daya tariknya bagi investor juga lebih besar.
Namun, prinsip dasarnya sama: yang masuk ke bursa bukan hanya perusahaan, tetapi juga saham yang harus hidup di pasar.
Karena itu, keberhasilan IPO Pelindo tidak cukup diukur dari besarnya permintaan saat penawaran perdana atau besarnya kapitalisasi pasar pada hari pertama perdagangan.
Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya.
Apakah sahamnya aktif diperdagangkan? Apakah investor institusi masuk? Apakah basis investornya meluas? Apakah saham tersebut mampu menjadi salah satu saham utama di Bursa Efek Indonesia?
Jika tidak, jumlah emiten memang bertambah, tetapi kedalaman pasar belum tentu berubah.
Fungsi Strategis Tetap Harus DijagaAda dimensi lain yang tidak boleh dilupakan.
Pelindo bukan sekadar perusahaan dengan aset besar dan kinerja keuangan yang baik. Pelindo mengelola infrastruktur yang berkaitan langsung dengan perdagangan, logistik, dan konektivitas nasional.
Karena itu, tujuan memperdalam pasar modal tidak boleh mengabaikan fungsi strategis tersebut.
Pelindo memiliki pengalaman panjang menggabungkan kepentingan komersial dengan kepentingan strategis melalui berbagai bentuk kemitraan.
Di Surabaya, misalnya, Pelindo III pernah menggandeng DP World dalam pengelolaan Terminal Petikemas Surabaya (TPS). Kemitraan tersebut berlangsung sekitar 20 tahun sebelum berakhir pada 2019, dan Pelindo kemudian kembali mengambil alih pengelolaan TPS.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa struktur kerja sama dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis tanpa harus menghilangkan kendali atas aset strategis.
IPO holding mempunyai konsekuensi yang berbeda. Setelah sebagian saham dilepas kepada publik, keputusan korporasi harus memperhitungkan kepentingan pemegang saham publik selain kepentingan negara.
Ini bukan masalah sepanjang desainnya jelas sejak awal.
Yang harus dijaga adalah jangan sampai tujuan memperdalam pasar modal menghasilkan struktur kepemilikan yang menyulitkan Pelindo menjalankan fungsi strategisnya.
Jangan Ukur Keberhasilan dari Hari Pertama
IPO sering dinilai dari indikator yang mudah dilihat: apakah penawaran sahamnya sukses dan berapa besar valuasi yang diperoleh. Untuk Pelindo, ukuran itu terlalu pendek.
Kalau tujuan IPO memang memperdalam pasar modal, keberhasilannya harus dilihat dalam jangka lebih panjang.
Saham Pelindo harus memiliki porsi saham publik yang memadai, basis investor yang luas, transaksi yang aktif, dan daya tarik bagi investor institusi maupun ritel.
Dengan kinerja bisnis yang sudah kuat, Pelindo memiliki modal awal yang baik untuk menarik investor. Tantangannya sekarang adalah menerjemahkan kekuatan bisnis tersebut menjadi saham yang benar-benar hidup di pasar.
Ini juga akan menentukan apakah IPO BUMN berikutnya dapat memberikan efek yang sama. Jika beberapa BUMN besar masuk bursa tetapi sahamnya tidak aktif diperdagangkan, jumlah emiten memang bertambah, tetapi kedalaman pasar belum tentu berubah.
Sebaliknya, jika Pelindo berhasil menjadi saham yang likuid, efeknya bisa lebih besar. Pasar mendapatkan tambahan saham berkualitas, investor memperoleh pilihan baru, dan perusahaan negara mendapatkan mekanisme pengawasan pasar yang lebih kuat.
Pelindo Bukan Sekadar Emiten Baru
Danantara sudah menetapkan arah: IPO BUMN merupakan bagian dari upaya memperkuat pasar modal.
Pelindo bisa menjadi instrumen penting untuk tujuan tersebut. Kinerja bisnisnya memberikan fondasi yang kuat. Tetapi karena ukurannya besar dan fungsi strategisnya penting, desain IPO harus lebih dari sekadar menentukan valuasi dan jumlah saham yang dilepas.
Berapa porsi saham yang ideal untuk publik? Siapa investor yang ingin ditarik? Bagaimana menjaga agar saham tetap likuid? Bagaimana mempertahankan kendali negara? Dan apa indikator keberhasilannya setelah satu, tiga, atau lima tahun?
Pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab sebelum IPO dilakukan.
Pada akhirnya, keberhasilan IPO Pelindo bukan terletak pada seberapa besar perusahaan ini ketika masuk bursa.
Keberhasilannya terletak pada apakah setelah masuk bursa pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam, saham Pelindo menjadi lebih likuid, dan fungsi strategis Pelindo tetap terjaga.
Jika ketiganya tercapai, IPO Pelindo bukan sekadar aksi korporasi.
Pelindo tidak hanya menjadi perusahaan pelabuhan yang masuk bursa, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk membawa pasar modal Indonesia naik kelas.
Bambang SabektiPraktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional