Berita

Ilustrasi Apa Itu Ubi Bombing untuk Padamkan Karhutla (Sumber: Gemini Generated Image)

Nusantara

Apa Itu Ubi Bombing? Jadi Alternatif untuk Padamkan Api Karhutla

SELASA, 25 AGUSTUS 2026 | 19:43 WIB | OLEH: TIFANI

Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya menguji metode pemadaman kebakaran menggunakan bahan berbasis tepung ubi atau singkong. Metode yang disebut “ubi bombing” tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026). Dalam kesempatan itu, Prabowo menanyakan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mengenai kemungkinan penggunaan bahan kimia alternatif yang lebih efektif untuk menutup atau meredam api dibandingkan air.

Apa Itu Ubi Bombing?


Dikutip dari laman resmi Presiden RI, ubi bombing merupakan inovasi pemadaman api yang memanfaatkan tepung berbahan dasar singkong. Bahan tersebut dapat dibentuk menjadi bola-bola kecil yang kemudian digunakan untuk membantu meredam api.

Selain dalam bentuk bola, bahan berbasis tepung ubi tersebut juga dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan, menyerupai mekanisme alat pemadam api ringan (APAR). Inovasi ini sebelumnya telah digunakan untuk menangani kebakaran dalam skala kecil. 

Dalam rapat tersebut, metode serupa juga dibahas sebagai salah satu alternatif untuk penanganan karhutla dengan area yang lebih luas. Penggunaan ubi bombing dalam skala besar tetap bergantung pada luas wilayah yang terbakar, ukuran area, serta volume tepung yang tersedia. Semakin luas lahan yang terbakar, semakin besar pula kebutuhan bahan yang diperlukan untuk pemadaman.

Selain untuk memadamkan api, inovasi tersebut disebut berpotensi membantu mencegah munculnya kembali api. Bahan tersebut dapat digunakan untuk meredam suatu objek sehingga tidak mudah terbakar.

Inovasi ubi bombing ini merupakan hasil temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Namun, kapasitas produksinya hingga kini masih terbatas.

Prabowo meminta agar efektivitas bahan berbasis tepung tersebut segera diuji. Pengujian tidak hanya dilakukan untuk mengetahui kemampuan bahan dalam memadamkan api, tetapi juga kemungkinan penggunaannya dalam jumlah besar.

Presiden bahkan menanyakan kemungkinan membawa bahan tersebut menggunakan helikopter atau pesawat untuk menjangkau wilayah karhutla yang sulit diakses dari darat. Prabowo juga menanyakan apakah pesawat M17 dapat digunakan untuk membawa inovasi tersebut dalam operasi pemadaman kebakaran.

Pengujian dalam skala besar diperlukan untuk mengetahui sejauh mana ubi bombing dapat diterapkan pada kondisi karhutla yang meliputi area luas.

Pemadaman Karhutla Masih Mengandalkan Water Bombing

Sebelumnya, pemerintah terus mengerahkan helikopter water bombing untuk memadamkan karhutla di Sumatera Selatan. Berdasarkan paparan dalam rapat tersebut, satu helikopter melakukan sekitar dua sorti penerbangan dalam sehari. 

Setiap sorti berlangsung sekitar 3-4 jam dan dapat melakukan 30-40 kali water bombing. Dalam setiap operasi pemadaman, helikopter rata-rata membawa sekitar 4 ton air. 

Operasi tersebut menggunakan helikopter Black Hawk dan Mi-8 yang masing-masing memiliki kemampuan membawa sekitar 4 ton air. Dalam paparan disebutkan, lebih dari 300 kali water bombing dilakukan setiap hari selama 90 hari.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo meminta seluruh jajaran terus mengevaluasi kebutuhan penanganan karhutla di lapangan. Apabila terdapat kekurangan sumber daya atau peralatan, pemerintah daerah diminta segera mengajukan tambahan bantuan.

Penggunaan metode alternatif seperti ubi bombing diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mencari solusi pemadaman karhutla, terutama ketika kebakaran terjadi di wilayah yang luas dan sulit dijangkau.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya