NDONESIA pernah melahirkan banyak tokoh yang kemudian dikenal karena kemampuannya berpidato atau berorasi. Ketika mereka berbicara di atas podium, ucapan-ucapan mereka mampu menggugah hasrat dan membakar semangat khalayak yang mendengarnya. Salah satu di antara orator itu adalah Ir. Soekarno atau Bung Karno.
Bung Karno dikenal sebagai salah satu orator andal Indonesia. Bahkan, beliau diakui sebagai orator ulung yang disegani di kancah internasional. Dunia juga mengakui kemampuan Bung Karno dalam memimpin ketika beliau menginisiasi terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.
Bukan hanya itu. Beliau adalah pahlawan nasional yang menjadi proklamator kemerdekaan sehingga disebut Bapak Proklamator. Setelah merdeka, Bung Karno pun memimpin Indonesia sebagai presiden pertama Republik Indonesia.
Beliau juga tokoh yang merumuskan Pancasila di awal kelahiran dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia itu, serta memimpin perjuangan melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.
Achmad SoekarnoSoekarno atau Bung Karno lahir di Peneleh, Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901. Ayahnya adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Ketika lahir, orangtua beliau memberi nama Koesno (Kusno) Sosrodihardjo.
Namun, semasa kecil, beliau sering sakit. Menurut budaya Jawa, jika anak kecil sering sakit-sakitan, itu diyakini karena namanya tidak cocok. Di dalam adat Jawa, hal itu disebut "keberatan nama" (istilah Jawa: “kabotan jeneng”). Maka, Raden Soekemi Sosrodihardjo lantas mengubah nama anaknya itu ketika berumur sebelas tahun menjadi Soekarno.
Nama Soekarno diambil dari nama seorang panglima perang dalam kisah pewayangan Bharatayudha, yaitu Karna. Di dalam bahasa Jawa, huruf "a" dilafalkan menjadi "o", sehingga ia disebut Adipati Karno. Kata Karno atau Karna di dalam Bahasa Jawa berarti telinga yang bermakna “mendengar”, sedangkan kata “soe” atau "su" berarti "baik/bagus/indah". Jadi, Sukarno atau Soekarno berarti “pendengar yang baik”.
Di kemudian hari, ketika menjadi Presiden Republik Indonesia, beliau mengganti penulisan ejaan nama Soekarno menjadi Sukarno.
Sebab, menurut beliau, penulisan nama “Soekarno” menggunakan ejaan penjajah (Belanda) sehingga tidak relevan lagi digunakan di masa kemerdekaan.
Tetapi beliau tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangan, karena menurut beliau tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum di dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sehingga tidak boleh diubah. Apalagi, juga tidak mudah untuk mengubah tanda tangan seseorang setelah berumur di atas 50 tahun.
Yang menarik, di beberapa negara Barat, nama Soekarno terkadang ditulis Achmed Soekarno. Nama lengkap “Achmad Soekarno” itu terjadi karena ketika pertama kali Bung Karno berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan waktu itu bertanya-tanya, "Siapa nama awal Soekarno?".
Pertanyaan itu muncul karena warga di dunia barat tidak mengerti kebiasaan atau sistem penamaan di Indonesia, terutama nama Jawa, yang kerap kali hanya menggunakan satu kata saja, atau tidak mencantumkan nama keluarga. Sedangkan di barat, seseorang biasanya memiliki minimal tiga kata dalam namanya (berturut-turut: first name, middle name, dan family name).
Ada sejumlah literatur yang menuliskan nama lengkap Bung Karno (setelah penggantian nama oleh orangtua beliau) sebagai “Koesno Sosro Soekarno”.
Bung Karno sendiri di dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” menjelaskan bahwa nama beliau hanya "Sukarno" saja, karena memang di dalam masyarakat Indonesia bukan hal yang tidak biasa untuk seseorang memiliki nama yang hanya terdiri dari satu kata.
Tentang nama Achmad Soekarno, Bung Karno menyebut, nama “Achmed” beliau dapat ketika menunaikan ibadah haji di tanah suci.
Di dalam beberapa versi yang lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Soekarno itu dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab. Ketika memperkenalkan nama presiden Indonesia, mereka menyebut nama Achmad Soekarno.
Kedekatan Istimewa dengan Muhammadiyah
Bung Karno disebut-sebut memiliki kedekatan istimewa dengan Muhammadiyah. Hal itu dituturkan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Menurut Haedar seperti dikutip muhammadiyah.or.id, Bung Karno tercatat menjadi kader Muhammadiyah sejak masa perang kemerdekaan. Bahkan turut beliau pernah menjadi guru di lembaga pendidikan Muhammadiyah.
“Sejak menimba ilmu dan mengajar di rumah Hos Cokroaminoto, Bung Karno tertarik pada pikiran-pikiran Kiai Ahmad Dahlan yang menghadirkan kemajuan. Setelah itu, Bung Karno resmi menjadi anggota Muhammadiyah,” tutur Haedar Nashir.
Haedar berkisah, Bung Karno resmi menjadi anggota dan pengurus pendidikan Muhammadiyah pada tahun 1938 saat dibuang ke Bengkulu oleh kolonial Belanda.
Ketika diasingkan di Ende (Nusa Tenggara Timur), kata Haedar, Bung Karno memperkenalkan pemikiran-pemikiran Islam yang progresif dan mengutarakan alasan beliau bergabung ke Muhammadiyah.
Dengan tegas, Bung Karno menuturkan bahwa Muhammadiyah sejalan dengan alam pikirinnya, yaitu menghadirkan Islam yang progresif, dan Kiai Ahmad Dahlan beliau sebut menghadirkan regeneration dan redifination atau peremajaan pemikiran Islam dan gerakan Islam.
Selepas diasingkan dan menjadi Presiden Indonesia, kata Haedar, Bung Karno tetap merawat identitas kemuhammadiyahannya. Bahkan, tahun 1962 ketika berlangsung Muktamar Muhammadiyah di usia organisasi itu yang ke-50 tahun, Bung Karno meminta namanya tetap dicatat sebagai kader dan ketika meninggal dikafani bendera Muhammadiyah.
Memimpin IndonesiaDi tahun 1926, Bung Karno memperoleh gelar Insinyur (Ir) dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB atau Institut Teknologi Bandung).
Beliau aktif berorganisasi dan giat dalam banyak organisasi pergerakan nasional untuk melawan penjajahan Belanda. Tahun 1927, Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).
Di dalam sidang pertama BPUPKI tanggal 29 Mei 1945, Muhammad Yamin berpidato, mengusulkan dasar negara berupa Peri Kebangsaan; Peri Kemanusiaan; Peri Ketuhanan; Peri Kerakyatan; serta Kesejahteraan Rakyat.
Pada 31 Mei 1945, Soepomo tampil menyampaikan usul. Menurut dia, negara Indonesia merdeka adalah negara yang dapat mempersatukan semua golongan, paham perseorangan, serta mempersatukan diri dengan berbagai lapisan rakyat. Ia juga mengemukakan dasar negara, yaitu Persatuan (Unitarisme); Kekeluargaan; Keseimbangan lahir dan batin; Musyawarah; dan Keadilan rakyat.
Dan pada 1 Juni 1945, Bung Karno menyatakan gagasan tentang dasar negara yang dinamakan Pancasila. Panca artinya lima, sila artinya prinsip atau asas.
Ketika itu, Bung Karno menyampaikan gagasan terkait Pancasila. Yaitu lima dasar untuk negara Indonesia. Sila pertama "Kebangsaan"; sila kedua "Internasionalisme atau Perikemanusiaan"; sila ketiga "Demokrasi"; sila keempat "Keadilan Sosial"; dan sila kelima "Ketuhanan". Momen itulah yang ditetapkan sebagai tanggal kelahiran Pancasila.
Pada 17 Agustus 1945, Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia bersama Mohammad Hatta. Sebelumnya, pada 16 Agustus 1945 malam, dilakukan perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Bung Karno menuliskan konsep atau draf teks proklamasi didiktekan oleh Mohammad Hatta atau Bung Hatta. Bung Hatta juga memberikan ide dan menyempurnakan kalimat pada teks proklamasi, khususnya di bagian Pernyataan/Paragraf kedua mengenai pemindahan kekuasaan.
Ahmad Soebardjo turut dalam perumusan teks proklamasi itu serta memberikan gagasan dan menyusun kalimat pada alinea pertama teks proklamasi yang berisi pernyataan kemerdekaan.
Setelah naskah itu selesai, Bung Karno membacakannya agar disepakati. Di dalam konsep Proklamasi Kemerdekaan tulisan tangan Bung Karno, tercantum "Wakil-wakil Rakjat Indonesia, Soekarno - Hatta."
Sukarni, mewakili golongan muda, mengusulkan agar teks proklamasi tersebut ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Setelah naskah proklamasi disepakati, Sayoeti Melik mengetik naskah tersebut didampingi B.M. Diah.
Di dalam naskah proklamasi hasil ketikan Sayoeti Melik yang lalu dibacakan Bung Karno disaksikan Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945 itu, kalimat terakhirnya berbunyi "Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta."
Keesokan harinya, 17 Agustus 1945, naskah proklamasi yang telah selesai disusun itu dibacakan oleh Bung Karno didampingi Bung Hatta, di halaman rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Pembacaan teks proklamasi dilakukan dalam upacara yang sederhana mulai pukul 10.00 pagi. Setelah teks proklamasi dibacakan, dilakukan pengibaran bendera pusaka Sang Merah Putih.
Pembacaan teks proklamasi dilakukan pukul 10.00 di halaman rumah Soekarno karena pertimbangan keamanan pada saat itu. Sebab, ketika itu pihak Jepang sudah mengetahui bahwa proklamasi akan dibacakan dengan rencana lokasi di Lapangan Ikada.
Para
founding fathers ketika itu menimbang, jika proklamasi tetap dibacakan di Lapangan Ikada, dikhawatirkan tentara Jepang akan menghentikannya dan kemungkinannya bisa terjadi kekacauan, bahkan pertumpahan darah.
Para
founding fathers memilih rumah sebagai lokasi strategis untuk merumuskan dan membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, karena rumah dipandang sebagai tempat yang privat dan jauh dari hiruk pikuk kegiatan warga kota, sehingga mereka tak terlalu khawatir akan dicurigai pihak Jepang, dan proses perumusan kemerdekaan dapat dilakukan dengan tenang.
Setelah pembacaan Proklamasi dilakukan, secara aklamasi Soekarno dipilih menjadi Presiden pertama Republik Indonesia dan Mohammad Hatta dipilih sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.
Setelah proklamasi, sebagai Presiden Republik Indonesia, Bung Karno memimpin perlawanan bangsa Indonesia terhadap upaya Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, melalui cara diplomatik dan militer hingga dicapailah pengakuan Belanda atas kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949.
Perkembangan selanjutnya, Indonesia mengalami banyak dinamika dalam kehidupan sosial politiknya. Di antaranya sempat terjadi era Demokrasi Liberal Indonesia atau demokrasi parlementer.
Di tahun 1959, Soekarno mendirikan sistem otokrasi yang disebut "Demokrasi Terpimpin". Awal tahun 1960-an, Soekarno memulai serangkaian kebijakan luar negeri yang agresif dengan tajuk “anti imperialisme dan kolonialisme” serta secara pribadi memperjuangkan Gerakan Non-Blok.
Hal itu menyebabkan meningkatnya ketegangan Indonesia dengan dunia barat dan terjalinnya hubungan yang lebih dekat dengan Uni Soviet. Ketika itu, blok barat yang dipimpin Amerika Serikat memang sedang terlibat perang dingin dengan blok timur yang dipimpin Uni Soviet.
Setelah meletus peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965, Jenderal TNI Soeharto mengambil alih kepemimpinan negara Republik Indonesia.
Di tahun 1967, Soeharto resmi memangku jabatan Presiden Republik Indonesia, menggantikan Soekarno. Pada 21 Juni 1970, Soekarno atau Bung Karno wafat di Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
Yogi W UtomoWartawan senior