Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (Foto: X)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak seruan untuk menggelar pemilu di tengah perang melawan Rusia.
Menurutnya, pelaksanaan pemungutan suara dalam kondisi perang justru berisiko memperuncing ketegangan politik dan memecah belah Ukraina.
"Saya yakin bahwa dalam perang seperti ini, penyelenggaraan pemilu merupakan risiko yang sangat besar. Pemilu saat ini ibarat tsunami bagi negara ini yang akan memecah belah Ukraina, ujarnya dalam sebuah pernyataan, dikutip Senin, 24 Agustus 2026.
“Jika kita ingin menghancurkan negara, maka kita bisa bergerak ke arah penyelenggaraan pemilu di masa perang ini,” tambahnya.
Ukraina saat ini menangguhkan pelaksanaan pemilu selama pemberlakuan darurat militer. Kebijakan tersebut masih mendapat dukungan luas dari masyarakat.
Namun, Zelensky sebelumnya juga menghadapi tekanan dari Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyerukan agar Kyiv menggelar pemungutan suara, meski Rusia masih melancarkan serangan rudal dan drone hampir setiap hari.
Desakan pemilu kembali mengemuka setelah mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov, yang diberhentikan Zelensky, menyerukan agar dicari cara untuk menggelar pemilu.
Fedorov tidak secara terbuka menyatakan ingin menantang Zelensky, namun langkah tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan dirinya menjadi rival politik Presiden Ukraina.
Sejumlah kendala besar membuat pelaksanaan pemilu di tengah perang tidak mudah. Pemerintah harus menentukan mekanisme pemungutan suara bagi para tentara yang berada di medan perang, jutaan warga Ukraina yang mengungsi ke luar negeri, serta masyarakat yang tinggal di wilayah yang diduduki Rusia.
Ancaman campur tangan hingga serangan fisik dari Rusia juga menjadi kekhawatiran. Jajak pendapat menunjukkan hanya 15 persen warga Ukraina yang menilai pemilu perlu digelar sebelum perang berakhir.
Di tengah polemik tersebut, Zelensky berupaya mempertahankan dukungan pertahanan dari negara-negara Eropa. Dalam pertemuan Nordic-Baltic di Kyiv, ia mengumumkan kesepakatan drone baru dengan Norwegia untuk memperkuat kerja sama sektor pertahanan.
Pada saat bersamaan, Rusia meningkatkan serangan menggunakan rudal balistik yang sulit dicegat, sementara Zelensky menyebut pengiriman rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot dari Amerika Serikat telah berkurang setengah dibandingkan 2023.