Berita

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Bisnis

Rumor Akuisisi BYAN Perlu Dicermati dari Perspektif Keterbukaan Pasar Modal

SELASA, 18 AGUSTUS 2026 | 05:47 WIB | LAPORAN: ABDUL ROUF ADE SEGUN

Isu mengenai kemungkinan akuisisi sekitar 62 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi perhatian terutama berkaitan dengan pentingnya keterbukaan informasi apabila di kemudian hari terdapat perubahan kepemilikan maupun pengendalian pada perusahaan terbuka.

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus, menekankan bahwa informasi mengenai kemungkinan transaksi tersebut masih berupa rumor dan belum dapat dipastikan sebagai transaksi yang telah berlangsung.

“Yang perlu dilakukan publik bukan menghakimi pembeli maupun penjual. Yang perlu dilakukan adalah memastikan apakah mekanisme pasar modal bekerja sebagaimana mestinya apabila memang terdapat rencana, negosiasi, atau transaksi perubahan pengendalian BYAN,” kata Iskandar dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.


Menurut dia, angka sekitar 62 persen yang beredar menjadi menarik untuk dicermati karena memiliki kemiripan dengan komposisi kepemilikan saham BYAN berdasarkan data perusahaan per 31 Maret 2026. 

Dato' Dr. Low Tuck Kwong tercatat memiliki 40,22 persen saham, sedangkan Elaine Low memiliki 22 persen saham.

Jika kedua kepemilikan tersebut dijumlahkan, porsinya mencapai 62,22 persen dari total 33.333.335.000 saham BYAN. Sementara PT Sumber Suryadaya Prima tercatat memiliki 10 persen dan kelompok publik sebesar 27,78 persen.

“Angka 62 persen dalam rumor sangat dekat dengan 62,22 persen, yaitu gabungan kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Ini belum membuktikan adanya transaksi dan tidak boleh ditafsirkan demikian, tetapi dari sisi analisis angka tersebut menarik untuk dicermati,” ujar Iskandar.

Bayan sendiri mencatat Low Tuck Kwong sebagai pemegang saham utama sekaligus pengendali langsung dengan kepemilikan 40,22 persen saham yang mempunyai hak suara. Namun, menurut Iskandar, data tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya rencana atau transaksi pengalihan saham.

Karena itu, apabila di kemudian hari terdapat transaksi yang berkaitan dengan kepemilikan tersebut, publik dapat memperoleh kepastian melalui keterbukaan informasi resmi perusahaan dan regulator. Hal itu penting agar informasi yang berkembang di ruang publik tidak berhenti pada spekulasi.

Iskandar mengatakan terdapat sejumlah kemungkinan yang perlu dibedakan, mulai dari informasi yang hanya berupa rumor, penjajakan awal yang belum menghasilkan kesepakatan, hingga kemungkinan adanya pembahasan lebih lanjut antara para pihak. Masing-masing tahapan memiliki konsekuensi berbeda dalam konteks keterbukaan informasi.

“Jawabannya harus berasal dari dokumen dan keterbukaan informasi resmi, bukan dari spekulasi,” tegasnya.

Menurut Iskandar, apabila suatu saat terjadi perubahan pengendalian pada perusahaan terbuka, maka ketentuan pasar modal mengenai pengambilalihan perlu diperhatikan. 

POJK Nomor 9/POJK.04/2018 antara lain mengatur ketentuan mengenai pengambilalihan perusahaan terbuka dan Penawaran Tender Wajib sesuai persyaratan yang berlaku.

Dalam konteks pengawasan pasar, publik dapat mencermati informasi yang diumumkan perusahaan, laporan perubahan kepemilikan, serta perkembangan perdagangan saham sesuai data dan informasi yang tersedia secara resmi. Iskandar menilai hal tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kepercayaan terhadap pasar modal.

“IAW tidak mengatakan bahwa Haji Isam membeli BYAN. IAW juga tidak mengatakan Low Tuck Kwong atau Elaine Low menjual sahamnya. Belum ada dasar untuk menyatakan demikian,” ungkap Iskandar.

Ia menegaskan bahwa IAW tidak bermaksud mengarahkan kesimpulan terhadap pihak tertentu. Menurutnya, siapa pun yang melakukan transaksi korporasi sepanjang memenuhi ketentuan hukum memiliki hak yang sama, sementara kepentingan publik adalah memastikan seluruh mekanisme berjalan transparan dan sesuai aturan.

“Pasar modal tidak hanya membutuhkan investor. Pasar modal membutuhkan kepercayaan. Kepercayaan akan tumbuh apabila informasi dan transaksi dapat diuji berdasarkan dokumen, ketentuan yang berlaku, serta mekanisme pengawasan yang tersedia,” pungkas Iskandar.


Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya