Berita

Logo Google (Foto: RMOL/Reni Erina)

Tekno

Google Beri Kebebasan Hapus Watermark AI Gemini Tanpa Hilangkan Transparansi

SENIN, 17 AGUSTUS 2026 | 22:16 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

Google kini memberikan opsi baru yang menarik bagi pengguna untuk menghapus watermark atau tanda air visual pada konten yang dihasilkan melalui ekosistem kecerdasan buatan mereka.

Pembaruan ini tidak hanya berlaku untuk gambar hasil generasi AI yang sebelumnya dikenal melalui teknologi Nano Banana, tetapi juga diperluas ke konten video yang dibuat menggunakan Gemini Omni serta musik yang dihasilkan oleh Lyria dan Flow.

Sebelumnya, hasil karya dari generator AI Google selalu menampilkan tanda air secara kasatmata di bagian sudut.


Dengan kehadiran pengaturan baru ini, para kreator kini memiliki kebebasan serta kontrol yang lebih besar untuk menghasilkan karya yang tampak lebih bersih tanpa gangguan tanda air yang mencolok.

Pengguna dapat menonaktifkan tanda air visual tersebut melalui menu pengaturan yang tersedia di platform Gemini maupun Flow, dan opsi serupa juga akan segera hadir di Google Search melalui AI Mode.

Kendati demikian, opsi penghapusan ini memiliki batasan dan pengecualian. Google tetap akan mempertahankan watermark visual di negara atau wilayah tertentu apabila keberadaannya memang diwajibkan oleh hukum atau regulasi setempat.

Selain itu, hilangnya tanda air yang terlihat secara kasatmata bukan berarti konten AI kehilangan seluruh identitasnya.

Google tetap menyematkan teknologi penanda digital tersembunyi bernama SynthID serta menggunakan metadata C2PA di balik layar.

Kombinasi teknologi ini berfungsi untuk memberikan informasi terperinci mengenai asal-usul serta keaslian sebuah konten digital.

Melalui kebijakan ini, Google berupaya keras untuk menjaga keseimbangan antara memberikan kebebasan kreatif seluas-luasnya bagi para kreator dan tetap mempertahankan mekanisme identifikasi serta transparansi konten AI di tengah perkembangan teknologi yang kian pesat.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya