Berita

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan pada Jumat 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat. (Foto: Frans Mendur)

Publika

Hari Ini 81 Tahun yang Lalu

SENIN, 17 AGUSTUS 2026 | 19:46 WIB

TANGGAL 15 Agustus 1945, kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II membuat situasi politik dunia lantas berubah dengan cepat. 

Pada 16 Agustus 1945 dini hari, golongan muda mendesak Soekarno agar proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan di malam itu juga. 

Mereka ingin memanfaatkan situasi status quo karena Jepang telah kalah tetapi Sekutu belum datang ke Indonesia. 


Ini adalah kondisi yang tepat untuk dimanfaatkan sebagai momentum menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Ketika itu, Soekarno menolak keinginan para pemuda karena ingin menunggu kabar resmi dari pihak Jepang. Perdebatan lantas memanas. Bung Hatta yang berusaha menengahi tidak dapat meredam perdebatan itu.

Para pemuda lantas memutuskan membawa Soekarno dan Hatta keluar dari Jakarta ke tempat yang dianggap aman. 

Mereka pun membawa paksa Soekarno dan Hatta ke sebuah rumah milik seorang petani Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok. 

Maksudnya agar Bung Karno dan Bung Hatta aman dari pengaruh Jepang dan segera memproklamasikan kemerdekaan. 

Sebab, para pemuda ketika itu takut kemerdekaan dicap sebagai hadiah dari Jepang dan bukan hasil perjuangan rakyat Indonesia sendiri.

Di Jakarta, Achmad Soebardjo yang tidak melihat kehadiran Bung Karno dan Bung Hatta dalam sidang PPKI lantas mencari tahu keberadaan mereka. 

Setelah diketahui, Achmad Soebardjo segera menyusul ke Rengasdengklok. Pada 16 Agustus 1945 sore, Achmad Soebardjo berunding dengan para pemuda. 

Beliau memberi jaminan bahwa proklamasi pasti terjadi pada 17 Agustus 1945, tetapi beliau minta diizinkan membawa Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta.

Sekembalinya dari Rengasdengklok, rombongan Soekarno-Hatta datang ke rumah Laksamana Tadashi Maeda. Rumah Laksamana Maeda ketika itu berada di Jalan Meiji Dori Nomor 1 (sekarang Jalan Imam Bonjol Nomor 1), Jakarta Pusat. 

Laksamada Tadashi Maeda merupakan seorang panglima penghubung angkatan laut di wilayah darat, sehingga rumah dia memiliki kekebalan diplomatik dan tidak bisa diganggu tentara angkatan darat Jepang yang saat itu masih berkuasa dalam situasi status quo.

Laksamana Maeda menyediakan rumahnya sebagai tempat merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan. Di malam itu, perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pun dilakukan. 

Soekarno atau Bung Karno menuliskan konsep atau draf teks proklamasi didiktekan oleh Mohammad Hatta atau Bung Hatta. 

Bung Hatta juga memberikan ide dan menyempurnakan kalimat pada teks proklamasi, khususnya di bagian Pernyataan/Paragraf kedua mengenai pemindahan kekuasaan. 

Ahmad Soebardjo juga turut dalam perumusan teks proklamasi itu serta memberikan gagasan dan menyusun kalimat pada alinea pertama teks proklamasi yang berisi pernyataan kemerdekaan.

Setelah naskah itu selesai, Bung Karno membacakannya agar disepakati. Di dalam konsep Proklamasi Kemerdekaan tulisan tangan Bung Karno, tercantum "Wakil-wakil Rakjat Indonesia, Soekarno - Hatta." 

Sukarni, mewakili golongan muda, mengusulkan agar teks proklamasi tersebut ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. 

Setelah naskah proklamasi disepakati, Sayoeti Melik mengetik naskah tersebut didampingi B.M. Diah. Di dalam naskah proklamasi hasil ketikan Sayoeti Melik yang lalu dibacakan Bung Karno disaksikan Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945 itu, kalimat terakhirnya berbunyi "Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta."

Keesokan harinya, 17 Agustus 1945, naskah proklamasi yang telah selesai disusun itu dibacakan oleh Bung Karno didampingi Bung Hatta, di halaman rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. 

Pembacaan teks proklamasi dilakukan dalam upacara yang sederhana mulai pukul 10.00 pagi. Setelah teks proklamasi dibacakan, dilakukan pengibaran bendera pusaka Sang Merah Putih.

Pembacaan teks proklamasi dilakukan pukul 10.00 di halaman rumah Soekarno karena pertimbangan keamanan pada saat itu. 

Sebab, ketika itu pihak Jepang sudah mengetahui bahwa proklamasi akan dibacakan dengan rencana lokasi di Lapangan Ikada. 

Para founding fathers ketika itu menimbang, jika proklamasi tetap dibacakan di Lapangan Ikada, dikhawatirkan tentara Jepang akan menghentikannya dan kemungkinannya bisa terjadi kekacauan, bahkan pertumpahan darah.

Para founding fathers memilih rumah sebagai lokasi strategis untuk merumuskan dan membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Karena rumah dipandang sebagai tempat yang privat dan jauh dari hiruk pikuk kegiatan warga kota, sehingga mereka tak terlalu khawatir akan dicurigai pihak Jepang, dan proses perumusan kemerdekaan dapat dilakukan dengan tenang.

Perkembangan selanjutnya pasca kemerdekaan, lokasi rumah Bung Karno yang menjadi lokasi pembacaan teks proklamasi telah dirubuhkan atas perintah Bung Karno sendiri. 

Alasannya belum jelas hingga saat ini. Atas perintah Soekarno pula, di tanah bekas rumah tersebut berdiri lantas dibangun sebuah Tugu Petir. 

Kawasan yang dulu pekarangan rumah itu lalu diubah menjadi sebuah area terbuka dengan patung Soekarno-Hatta dan taman itu dinamakan Taman Proklamator. 

Jadi, generasi saat ini dan generasi-generasi selanjutnya hanya bisa melihat rumah yang menjadi tempat proklamasi dikumandangkan itu melalui foto.

Dan satu-satunya dokumentasi visual autentik saat Bung Karno membacakan naskah proklamasi didampingi Bung Hatta itu adalah foto hasil karya dua bersaudara, Frans Mendur dan Alex Mendur. 

Mendur bersaudara merupakan satu-satunya wartawan/fotografer yang hadir untuk meliput pembacaan proklamasi kala itu. Sayang, setelah proses pengambilan gambar, film dan kamera yang dibawa oleh Alex Mendur disita tentara Jepang dan plat-plat negatif film miliknya juga dihancurkan. 

Sedangkan Frans Mendur berhasil lolos dari incaran tentara Jepang. Plat-plat negatif film miliknya lalu ia sembunyikan dengan cara dikubur di dalam tanah di halaman kantor berita Asia Raya agar tak dimusnahkan tentara Jepang. 

Kala tentara Jepang menggeledah seluruh hasil fotonya, Frans Mendur menyebutkan bahwa negatif film miliknya telah dirampas pihak barisan pelopor pendukung Soekarno. 

Setelah suasana lebih aman dan kondusif, ia mengambil plat-plat negatif film itu dan mencetaknya secara diam-diam di kamar gelap Kantor Berita Domei.

Ketika itu, Frans Mendur yang berbekal kamera Leica dengan satu rol film tersebut membuat tiga foto penting yang bersejarah. 

Pertama, saat Soekarno membacakan teks proklamasi didampingi Mohammad Hatta. Kedua, ketika tiga tokoh yaitu Letkol Raden Mas Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo, dan Surastri Karma (SK) Trimurti, mengibarkan bendera pusaka Sang Merah Putih. 

Ketiga, foto yang memperlihatkan suasana pengibaran Sang Merah Putih dengan latar belakang kumpulan masyarakat yang berkumpul menyaksikan peristiwa itu.

Keesokan harinya, 18 Agustus 1945, berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dimuat di harian Asia Raya

Namun, tak ada satu pun foto yang dimuat di surat kabar tersebut. Hal ini merupakan upaya pihak tentara Jepang untuk menghambat penyebaran berita kemerdekaan Indonesia kepada dunia luar. 

Foto bersejarah karya Frans Mendur akhirnya baru dipublikasikan untuk pertama kalinya pada 17 Februari 1946 dalam edisi penerbitan khusus “Nomor Peringatan Enam Bulan Republik” yang diterbitkan harian Merdeka.

Foto-foto tentang proklamasi dan peristiwa di sekitarnya karya Frans Mendur itu membuktikan, fakta sejarah secara autentik merupakan hal yang tidak bisa terbantahkan mengenai peristiwa penting di masa lalu. 

Lewat foto-foto karya Frans Mendur itu dapat dipahami bahwa proses meraih kemerdekaan hingga terlaksananya pembacaan proklamasi tidaklah mudah dan tidak pula diperoleh secara instan. 

Semua itu adalah proses yang diiringi perjuangan dan pengorbanan seluruh rakyat Indonesia. 

Maka, di momen 81 tahun Indonesia Merdeka ini, sudah sepatutnya kita selalu mengingat, mengenang, dan mensyukuri kemerdekaan itu sebagai rahmat Allah SWT dan hasil perjuangan bangsa Indonesia.

Yogi W Utomo
Wartawan senior

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

PLN Gercep Pulihkan Listrik Pascagempa NTT: Bukti Negara Hadir

Senin, 17 Agustus 2026 | 16:26

Peduli NTT, Pemkab Tuban Batalkan Pesta Kemerdekaan

Senin, 17 Agustus 2026 | 16:15

Tunda Agenda Internal, PDIP Fokus Bantu Korban Gempa NTT

Senin, 17 Agustus 2026 | 16:00

Ketika Emak-emak Mengamuk di Depan Kepala BGN

Senin, 17 Agustus 2026 | 15:50

HUT RI Momentum Bangkit Bersama di Tengah Duka Gempa

Senin, 17 Agustus 2026 | 15:49

Operasional Pelabuhan Marina Disetop Pangkas Pendapatan Daerah Rp11 Miliar

Senin, 17 Agustus 2026 | 15:33

PKS Yakin Rakyat Aceh Konsisten Bersama NKRI

Senin, 17 Agustus 2026 | 15:30

BI Luncurkan Kartu Kredit Indonesia, Bisa Dipakai via QRIS

Senin, 17 Agustus 2026 | 15:27

Bitcoin Menguat Terimbas Sentimen Positif Pasar Kripto Global

Senin, 17 Agustus 2026 | 15:19

HUT Ke-81 RI Diwarnai Duka Gempa NTT: Ada Kesedihan di Tengah Perayaan

Senin, 17 Agustus 2026 | 15:17

Selengkapnya