Berita

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. (Foto: Dok. PDIP)

Politik

Megawati Soekarnoputri:

Cita-cita Indonesia Merdeka Jadi Pekerjaan Sejarah yang Belum Selesai

SENIN, 17 AGUSTUS 2026 | 14:29 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya momentum mengenang masa lalu, tetapi juga mempertanyakan arah dan pemaknaan kemerdekaan di tengah persoalan bangsa hari ini.

Usia 81 tahun Republik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari tetes darah dan pengorbanan para pejuang. Kemerdekaan, bukanlah hadiah instan, melainkan hasil perjuangan panjang yang dibayar mahal selama tiga setengah abad masa penjajahan.

Demikian ditegaskan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam upacara peringatan HUT ke-81 RI di Pelataran Masjid At-Taufiq, Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin 17 Agustus 2026.


“Jangan itu dilupakan! Maukah kalian untuk dijajah kembali?” tanya Megawati.

“Tidak!” sahut peserta upacara kompak. 

Megawati membeberkan catatan sejarah penderitaan politik Proklamator RI sekaligus ayahnya, Ir Soekarno. 

Soekarno harus menghabiskan total 18 tahun hidupnya dalam pengasingan, penjara kolonial, hingga tahanan rumah tanpa proses peradilan pada masa Orde Baru.

Meskipun Ketetapan MPRS Nomor 33 Tahun 1967 kini telah dicabut, Megawati menegaskan bahwa keadilan sejarah tidak berhenti pada dokumen politik, melainkan pada kejujuran nurani bangsa. 

Menurut Megawati, Bung Karno telah mewariskan falsafah Pancasila, ajaran Trisakti, dan penguasaan sains-teknologi agar Indonesia berani meletakkan nasib di tangan sendiri.

"Bangsa yang tidak berani menghadapi sejarahnya sendiri akan selalu menjadi bangsa yang hidup dalam bayang-bayang masa lalu dan menjadi bangsa yang kerdil," tegas Ketua Umum PDIP ini.

Dalam kesempatan tersebut, Megawati menyoroti tajam ketimpangan penegakan hukum yang dinilainya masih jauh dari rasa keadilan. Ia membandingkan nasib rakyat kecil yang diproses hukum karena mencuri buah labu saat kelaparan dengan maraknya skandal korupsi besar.

Di bidang kesejahteraan, Megawati memberikan peringatan keras kepada Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan agar tidak "mengutik-utik" BPJS Kesehatan yang dibidaninya sewaktu menjabat presiden.

Ia berharap pemerintah justru menambah anggaran BPJS Kesehatan untuk rakyat miskin. Ia juga mengaku prihatin dan sedang menelusuri fenomena 1 juta orang berpendidikan tinggi yang kini menganggur.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya