Personel TNI dalam penanganan dampak gempa Nusa Tenggara Timur. (Foto: Puspen TNI)
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Nusa Tenggara Timur (NTT) masih melakukan pendataan untuk menghitung dampak ekonomi akibat gempa bumi 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah NTT, khususnya Pulau Flores, Sabtu 15 Agustus 2026.
Ketua BPD PHRI NTT Hansel Liyanto mengatakan, pihaknya belum dapat memperkirakan besaran penurunan pendapatan maupun perputaran ekonomi sektor hotel akibat gempa. Hal itu lantaran kejadian baru berlangsung dan proses pendataan di sejumlah daerah masih berjalan.
“Karena kejadiannya masih sangat baru, kami belum dapat memperkirakan secara pasti berapa besar potensi penurunan pendapatan atau perputaran ekonomi industri hotel. Saat ini kami masih melakukan koordinasi dan pendataan dengan BPC PHRI di wilayah Flores,” kata Hansel kepada RMOL.
Meski demikian, Hansel mengatakan kondisi pascagempa yang berlangsung cukup lama berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi sektor pariwisata.
“Yang menjadi perhatian kami, apabila kondisi pascagempa berlangsung cukup lama, tentu dapat berpengaruh terhadap pergerakan wisatawan, perjalanan dinas, kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), maupun tingkat hunian hotel,” sambungnya.
Terkait kondisi hotel, Hansel mengatakan Nagekeo menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah. PHRI masih mengalami kendala komunikasi dengan BPC PHRI Nagekeo.
“Sampai saat ini komunikasi dengan Ketua BPC PHRI Nagekeo masih agak sulit, sehingga kami masih menunggu informasi lebih lengkap mengenai kondisi anggota hotel dan restoran di sana,” ujarnya.
Sementara itu, beberapa BPC PHRI di Flores yang berhasil dihubungi, yakni Manggarai Barat, Ngada, dan Sikka, melaporkan kondisi hotel di wilayah masing-masing relatif aman dengan beberapa kerusakan ringan.
Khusus Manggarai Barat, terutama Labuan Bajo yang merupakan salah satu destinasi wisata utama NTT, Hansel memastikan aktivitas pariwisata telah kembali normal.
“Tadi memang sempat ada pembatasan terkait aktivitas penerbangan dan pelayaran, namun saat ini pembatasan tersebut sudah dicabut sehingga aktivitas penerbangan, pelayaran, dan kegiatan pariwisata kembali berjalan,” jelasnya.
Meski demikian, PHRI masih memantau tingkat okupansi dan reservasi hotel pascagempa. Hingga saat ini, belum terdapat data yang cukup untuk menyimpulkan adanya penurunan okupansi maupun pembatalan reservasi secara signifikan.
“Untuk okupansi dan reservasi, kami masih memantau perkembangannya karena kejadian baru berlangsung hari ini. Kami belum mendapatkan data yang cukup untuk menyimpulkan adanya penurunan okupansi atau pembatalan reservasi secara signifikan,” tandasnya.