Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Fitch Ungkap Ketahanan Sukuk Indonesia di Tengah Tekanan Geopolitik

JUMAT, 14 AGUSTUS 2026 | 13:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Likuiditas sukuk yang diperingkat Fitch Ratings terus membaik meski ketegangan geopolitik masih berlangsung. 

Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat likuiditas sukuk tertinggi, bersama Hong Kong, Malaysia, dan Mesir.

Dalam laporan terbarunya, Fitch Ratings menyebut likuiditas sebagian besar sukuk yang diperingkatnya telah mendekati level sebelum konflik. Meski belum sepenuhnya kembali ke posisi pada Januari, rata-rata likuiditas sukuk pada Agustus menjadi yang tertinggi sejak konflik dimulai.


"Likuiditas kemungkinan akan tetap terbatas selama ketegangan geopolitik berlanjut," kata Fitch dalam laporannya pada Rabu 13 Agustus 2026.

Fitch mengukur likuiditas menggunakan Bloomberg Liquidity Assessment (LQA), yang memberikan skor dari 1 hingga 100. Semakin tinggi skor, semakin rendah biaya likuidasi suatu surat berharga dalam kelas asetnya.

Per 4 Agustus 2026, lebih dari 75 persen sukuk yang diperingkat Fitch memiliki skor likuiditas di atas 50. Angka tersebut meningkat dari 64 persen pada 23 Maret, meski masih sedikit di bawah posisi Januari sebesar 81 persen.

Adapun median skor likuiditas sukuk yang diperingkat Fitch mencapai 64 pada 4 Agustus. Angka ini membaik dari titik terendah 55 pada 23 Maret, tetapi masih berada di bawah level sebelum konflik yang mencapai 68.


Sukuk Indonesia Masuk Kelompok Teratas

Fitch mencatat sukuk yang diterbitkan dari Hong Kong, Malaysia, Indonesia, Mesir, serta lembaga supranasional memiliki tingkat likuiditas tertinggi.

Sejumlah negara bahkan telah berhasil melampaui tingkat likuiditas sebelum konflik. Mesir, Oman, Malaysia, dan Irlandia mencatat peningkatan tersebut pada Agustus, dengan Mesir menjadi yang paling menonjol karena skor likuiditasnya sudah 11 poin di atas level sebelum konflik.

Indonesia sendiri masuk dalam kelompok pasar sukuk dengan likuiditas tertinggi, menunjukkan relatif kuatnya daya serap dan aktivitas perdagangan instrumen tersebut di tengah ketidakpastian geopolitik.

Secara umum, sukuk dengan peringkat investment grade memiliki likuiditas lebih tinggi dibandingkan sukuk non-investment grade. Sukuk investment grade yang diperingkat Fitch mencatat rata-rata skor likuiditas 69 pada 4 Agustus, naik dari 64 pada Maret, tetapi masih di bawah 72 pada Januari.

Sementara itu, sukuk non-investment grade memiliki skor rata-rata 40 pada Agustus, meningkat dari 33 pada Maret, namun masih lebih rendah dibandingkan 48 pada Januari 2026. Sukuk dengan peringkat kategori 'A' mencatat perbaikan likuiditas paling kuat antara Juli dan Agustus.


Sukuk Lebih Likuid Dibandingkan Obligasi


Fitch juga mencatat sukuk secara umum memiliki likuiditas lebih tinggi dibandingkan obligasi di berbagai mata uang. Per 12 Agustus, rata-rata skor likuiditas sukuk mencapai 57, dibandingkan 53 untuk obligasi.

Jika sukuk berdenominasi Dolar AS dikeluarkan dari perhitungan, kesenjangan tersebut semakin besar. Skor likuiditas sukuk meningkat menjadi 68, sementara obligasi berada di level 57.

Di kawasan negara-negara Teluk yang tergabung dalam GCC, sukuk memiliki likuiditas lebih tinggi dibandingkan obligasi di Oman, Bahrain, dan Arab Saudi. Sementara di Qatar dan Uni Emirat Arab, keduanya mencatat tingkat likuiditas yang sama. Di Kuwait, justru obligasi memiliki likuiditas lebih tinggi dibandingkan sukuk.

Dari sisi mata uang, sukuk berdenominasi ringgit Malaysia mencatat skor likuiditas tertinggi pada Agustus. Ringgit menjadi satu-satunya mata uang yang telah melampaui tingkat likuiditas sebelum konflik, yang mencerminkan kuatnya basis investor domestik Malaysia.

Sukuk berdenominasi euro juga mencatat likuiditas yang tinggi, sedangkan sukuk dalam Dolar AS masih mengalami pemulihan secara lebih bertahap dan mulai mendekati level sebelum konflik di sejumlah pasar.

Berdasarkan sektor, sekuritas berbasis aset (asset-backed securities) menjadi satu-satunya sektor yang telah melampaui tingkat likuiditas sebelum konflik. Pemulihan berikutnya terjadi pada sektor lembaga keuangan, disusul sovereign, supranasional, infrastruktur dan pembiayaan proyek, serta korporasi dan sektor lainnya.

Sementara itu, sektor keuangan publik internasional menjadi sektor dengan pemulihan likuiditas paling lemah.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Sandy Rio Kuahaty Nakhodai GAMKI Jakut 2026-2029

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:26

Bawaslu Dorong Transformasi Digital dari Administrasi ke Pengawasan Berbasis Risiko

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:23

Kementerian HAM Perluas Akses Pendidikan Tak Hanya untuk ASN

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:14

Reformasi Kelistrikan Penting untuk Capai Ekonomi 8 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:01

Menkop Kukuhkan Yudi Azis sebagai Rektor IKOPIN Periode 2026–2031

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:44

Bahas Keamanan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:42

Meracik Horor Komedi di Film Ghosthing, Ini Pandangan Peter Surya Wijaya

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:41

Tanggapi Survei Celios, Gibran Janji Kerja Lebih Baik

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:35

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bantah Cawe-cawe Pengadaan Bibit Nanas

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:31

APBD DKI 2027 Diusulkan Rp82,89 Triliun, Naik 4,18 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:20

Selengkapnya