Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Wall Street Melemah, Investor Kembali Waspadai Risiko Timur Tengah

RABU, 12 AGUSTUS 2026 | 08:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Wall Street kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa 11 Agustus 2026 waktu setempat, setelah optimisme investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai mereda. Ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah membuat investor kembali bersikap hati-hati.

Indeks S&P 500 turun 0,32 persen menjadi 7.728,20, Nasdaq Composite melemah 0,60 persen ke 26.445,45, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,34 persen menjadi 53.791,85.

Tekanan terutama datang dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Saham Alphabet turun 2,1 persen, sementara Amazon juga melemah dan turut menekan S&P 500 serta Nasdaq.


Sebaliknya, sektor energi menguat. Indeks sektor energi S&P 500 naik 1,1 persen seiring harga minyak Brent bertahan di sekitar level tertinggi dalam sepekan. Investor masih mencermati risiko gangguan pasokan energi akibat konflik serta ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sejumlah saham mencatat pergerakan signifikan. Saham Jabil melonjak 5,9 persen setelah UBS menaikkan rekomendasinya menjadi “buy” dari sebelumnya “neutral”. Sebaliknya, saham perusahaan pakaian olahraga On anjlok 20,3 persen setelah penjualan kuartal kedua tidak memenuhi ekspektasi pasar.

Saham Venture Global juga turun 7,3 persen setelah pendapatan kuartal keduanya sedikit di bawah perkiraan analis.

Di sektor keuangan, saham Apollo Global melonjak 6,2 persen, sementara Blackstone menguat hampir 4 persen. Keduanya baru-baru ini bermitra dengan Nvidia untuk membangun platform pembiayaan komputasi yang ditargetkan mampu memobilisasi dana lebih dari Dolar AS 500 miliar.

Meski indeks utama terkoreksi, jumlah saham yang menguat di S&P 500 masih lebih banyak dibandingkan yang melemah, dengan rasio sekitar 1,2 banding 1.

Investor kini mengalihkan perhatian ke data inflasi konsumen dan produsen AS yang akan dirilis dalam dua hari ke depan. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya