Berita

Wapres Gibran Rakabuming Raka. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Sayembara Cari Ijazah Gibran Rp100 Juta

SELASA, 11 AGUSTUS 2026 | 04:34 WIB

INDONESIA rupanya sedang menemukan cabang olahraga baru, sayembara nasional. Kemarin kita mengenal sayembara menangkap manusia. Sekarang naik level. Mencari ijazah.

Semua bermula dari Dedi Mulyadi. Ketika Taufik Hidayat menjadi buronan kasus penyekapan dan penganiayaan YTR, KDM membuka sayembara Rp250 juta bagi pihak yang membantu menemukan pelaku. Polisi akhirnya menangkap Taufik. 

Hadiah tersebut kemudian diserahkan kepada keluarga korban. Konsepnya sederhana, “Tangkap orang, dapat hadiah.”


Lalu datang Denny Indrayana. Konsepnya dibalik. “Temukan ijazah, dapat Rp100 juta.”

Nah! Indonesia resmi memasuki babak baru. “Dari berburu buronan menjadi berburu dokumen.” Denny menawarkan Rp100 juta kepada siapa pun bisa menunjukkan atau mendapatkan ijazah SMA atau sederajat milik Gibran Rakabuming Raka.

Katanya, semula mau Rp1 miliar. Tapi istri bilang kebanyakan. Ini berarti persoalannya bukan sekadar ijazah. Ini sudah menyentuh kemampuan finansial keluarga. Bayangkan kalau sayembara ini berkembang.

“Siapa menemukan ijazah SMP, Rp50 juta.”

“Siapa menemukan rapor kelas tiga, Rp25 juta.”

“Siapa menemukan buku tulis matematika Gibran, Rp10 juta.”

“Siapa menemukan penghapusnya, Rp5 juta.”

Lama-lama pasar loak berubah menjadi pusat investigasi pendidikan nasional. Pedagang barang bekas mulai curiga. “Bang, ini map tahun 2000-an ada?” “Buat apa?” “Investigasi negara.”

Menurut Denny, jika Gibran bisa menunjukkan ijazah SMA/sederajat yang asli, ia akan berhenti mendesak Gibran mundur. 

Sebaliknya, jika dokumen tersebut tidak dapat ditunjukkan, Denny meminta Gibran mengundurkan diri. Denny juga mengaitkan persoalan itu dengan syarat pendidikan calon presiden dan wakil presiden.

Di sinilah teori konspirasi warung kopi mulai bekerja. Teori pertama, jjazahnya ada, tetapi sedang cuti. 

Teori kedua, ijazahnya ada, tetapi sedang antre fotokopi. Teori ketiga, ijazahnya ada, tetapi takut keluar rumah karena diburu hadiah Rp100 juta. 

Teori keempat, ijazahnya sebenarnya sedang menyamar menjadi dokumen biasa agar tidak dikenali intelijen media sosial.

Tentu semua itu cuma satire, bukan fakta. Sebab kalau benar ada dokumen menjadi buronan, maka ijazah tersebut mungkin merupakan benda paling terkenal di Indonesia setelah sandal Nabi di acara pengajian.

Yang menarik, polemik ini terjadi ketika isu dokumen pendidikan keluarga Jokowi juga masih menjadi perdebatan publik.

Jadi sekarang publik seperti sedang menonton serial, “Ijazah: The Multiverse.” Episode sebelumnya mencari dokumen ayah. Episode berikutnya mencari dokumen anak. Penonton belum selesai mengunyah cilok, sudah muncul sayembara.

Namun ada satu hal yang lebih absurd. Jika benar angka survei SCMR yang beredar menunjukkan Gibran berada di posisi 17,6 persen, di atas Ganjar 12,4 persen dan Anies 9,7 persen, maka ada paradoks politik yang menarik.

Semakin dibully, semakin terkenal. Dalam politik Indonesia, kadang logikanya seperti warung kopi, “Jangan dibahas.” “Kenapa?” “Nanti naik.” “Kalau dipuji?” “Belum tentu naik.”

Maka muncullah teori paling ngawur, jangan-jangan Indonesia sudah menemukan mesin elektabilitas baru, kontroversi. 

Semakin gaduh, semakin viral. Semakin viral, semakin dikenal. Semakin dikenal, semakin masuk survei. Semakin masuk survei, semakin dibahas.

Semakin dibahas…semakin gaduh lagi. Ini bukan lagi lingkaran setan. Ini roda hamster politik. Orang berlari di dalamnya, publik tertawa dari luar. 

Sekarang, Rp100 juta menjadi pertanyaan pamungkas, siapa yang lebih dulu ditemukan, ijazah Gibran atau calon pemburu hadiahnya?

Kalau ijazahnya muncul besok, satu bangsa mungkin kecewa. Bukan karena ijazahnya ada. 

Tetapi karena…sayembaranya selesai sebelum sempat bikin episode kedua.

Negeri MBG memang luar biasa. Negara lain berlomba mencari teknologi masa depan. Kita? 

Mencari ijazah dengan hadiah. Besok mungkin, “Sayembara Rp500 juta: Siapa Menemukan Skripsi Pejabat yang Hilang?” Nah, kalau itu dibuka…kampus-kampus bakal langsung lockdown.

Rosadi Jamani
Mantan Wartawan

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Seriuskah Kemdiktisaintek Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:22

Anggota Dewan Etik Golkar Diduga Terlibat Dugaan Penipuan Miliaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:11

Membangun Kemandirian Energi Desa Melalui Penguatan Kapasitas Local Hero

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:05

Pertamina Perkuat Kemitraan Strategis Lewat SRM Summit 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31

Kerja Sama KSPSI-UT Perluas Kesempatan Pekerja Raih Pendidikan Tinggi

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:17

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PTPN IV PalmCo Fasilitasi APRC 2026, Perputaran Ekonomi Masyarakat Meningkat

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:58

Isu Wamenhan Baru Jangan Terjebak Kepentingan Bisnis dan Korporasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:55

Paroki Kraksaan Menanti Kejelasan

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:32

Pramono-Erick Thohir Godok Persiapan FIFA ASEAN Cup di Jakarta

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:24

Selengkapnya