Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Indonesia Jadi Anomali dalam Studi Bank Dunia soal Industri Rokok, Ini Alasannya

JUMAT, 07 AGUSTUS 2026 | 09:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang menjadi pengecualian dalam studi Bank Dunia mengenai dampak ekonomi industri tembakau. 

Berbeda dengan mayoritas negara yang dinilai mengalami kerugian ekonomi akibat industri rokok, Indonesia justru disebut masih memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan risiko yang ditimbulkan.

Pandangan tersebut disampaikan Jurnalis Senior Bambang Harymurti dalam podcast YouTube Shorts "Studi Bank Dunia: Di Indonesia, Manfaat Ekonomi Industri Rokok Lebih Besar dari Risiko Kesehatannya" di kanal Total Politik.


Bambang mengutip laporan Bank Dunia yang menyebut sebagian besar negara dianjurkan mengurangi ketergantungan terhadap industri tembakau karena biaya kesehatan dan dampak ekonominya dinilai lebih besar daripada manfaat yang dihasilkan. Namun, Indonesia bersama beberapa negara lain tidak masuk dalam kesimpulan umum tersebut.

"Di laporan Bank Dunia tahun 1988 itu disebutkan, dampak ekonomi industri rokok lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya untuk hampir semua negara, kecuali empat. Dan yang paling tinggi manfaat ekonominya justru Indonesia," ujar Bambang, dikutip redaksi di Jakarta, Jumat 7 Agustus 2026.

Menurutnya, posisi Indonesia berbeda karena industri hasil tembakau memiliki kontribusi yang besar terhadap sektor manufaktur nasional. Laporan tersebut mencatat sekitar 8 persen output manufaktur Indonesia berasal dari industri tembakau. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain yang juga relatif bergantung pada sektor tersebut, seperti Turki, Bangladesh, Mesir, Filipina, dan Thailand yang berada pada kisaran 2,5 persen hingga 5 persen.

Besarnya kontribusi tersebut membuat perhitungan manfaat dan biaya ekonomi menjadi berbeda dibandingkan negara lain. Industri rokok tidak hanya berkaitan dengan konsumsi masyarakat, tetapi juga menyangkut jutaan tenaga kerja, rantai pasok hasil tembakau, hingga penerimaan negara.

"Rokok di Indonesia bukan hanya soal konsumsi, melainkan soal pekerjaan, penerimaan negara, dan ekosistem ekonomi lokal. Pemerintah tugasnya bukan membunuh industri, tapi mengatur agar transisi berlangsung sehat," katanya.

Bambang menilai kondisi tersebut menjadi alasan mengapa Indonesia tidak serta-merta mengadopsi berbagai protokol pengendalian tembakau internasional yang diterapkan di banyak negara.

Meski demikian, laporan Bank Dunia juga memberikan catatan penting. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa berbagai penelitian menunjukkan kebijakan pengendalian tembakau pada umumnya tidak menyebabkan penurunan lapangan kerja secara keseluruhan karena pengeluaran masyarakat dapat beralih ke sektor ekonomi lain yang juga menciptakan pekerjaan baru. 

Namun, pengecualian berlaku bagi negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap industri tembakau, termasuk Indonesia.

Bambang juga menilai kebijakan terhadap industri hasil tembakau tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekonomi dan geopolitik global.

"Intervensi asing itu tidak tunggal. Ada yang datang dari Amerika, Rusia, Tiongkok. Masing-masing dengan agenda berbeda," ujarnya.


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya