Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria. (Foto: RMOL/Alifia)
Proses penyehatan perusahaan pelat merah di sektor konstruksi masih menghadapi tantangan besar. Berbagai persoalan yang menumpuk selama bertahun-tahun membuat upaya memperbaiki kinerja BUMN karya tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengaku frustrasi menghadapi proses penyehatan perusahaan-perusahaan pelat merah tersebut. Menurutnya, persoalan yang dihadapi BUMN telah berlangsung lama sehingga membutuhkan energi dan konsistensi untuk menyelesaikannya satu per satu.
"Memang butuh berkesinambungan. Energi kita juga terbatas. Selesai satu, masuk satu lagi (masalah). Baru masuk ke Pos, kondisinya begitu lagi. Baru masuk ke properti, saya juga frustrasi. Bayangkan, bagaimana tidak frustrasi? Kita lakukan repairment (perbaikan), aset tinggal Rp7 triliun, sementara utangnya Rp24 triliun. Mau diapakan?" ujar Dony di Batang, Jawa Tengah, dikutip Kamis, 6 Agustus 2026.
Dony mengaku sengaja berbicara secara terbuka mengenai kondisi sejumlah BUMN yang tengah dibenahi agar masyarakat mengetahui tantangan yang sedang dihadapi.
"Saya orangnya apa adanya. Saya ingin masyarakat tahu bahwa kita sedang memperbaiki kondisi yang memang tidak baik-baik saja," ujarnya.
Pernyataan Dony tersebut sejalan dengan laporan keuangan tahun buku 2025 empat emiten BUMN karya yang telah dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) secara kumulatif membukukan rugi bersih sebesar Rp25,09 triliun. Keempat emiten juga masih dibebani liabilitas yang besar di tengah proses restrukturisasi.
Kerugian terbesar dialami WIKA yang membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp9,70 triliun, melonjak 329,20 persen dibandingkan rugi Rp2,26 triliun pada 2024.
Pelemahan kinerja tersebut dipicu turunnya pendapatan menjadi Rp13,32 triliun dari Rp19,24 triliun. Di sisi lain, beban lain-lain meningkat menjadi Rp6,37 triliun dari Rp3,73 triliun, sedangkan bagian rugi ventura bersama naik menjadi Rp1,44 triliun dari Rp606,66 miliar. Akibatnya, rugi sebelum pajak membengkak menjadi Rp10,12 triliun.
Tekanan juga dialami PTPP yang mencatat rugi bersih Rp6,07 triliun, meningkat sekitar 300 persen dibandingkan rugi Rp1,52 triliun pada 2024.
Pendapatan perseroan turun menjadi Rp16,27 triliun dari Rp19,81 triliun. Sementara itu, kerugian penurunan nilai melonjak hampir 20 kali lipat menjadi Rp7,35 triliun dari Rp356,26 miliar. Kondisi tersebut mendorong rugi sebelum pajak meningkat menjadi Rp7,72 triliun.
WSKT juga masih belum mampu keluar dari tekanan. Perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp3,92 triliun pada 2025, meningkat 51,93 persen dibandingkan rugi Rp2,58 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan menjadi Rp8,81 triliun dari Rp10,70 triliun turut membebani kinerja perseroan.
Sementara itu, ADHI membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,40 triliun, melonjak tajam dibandingkan rugi Rp60,09 miliar pada 2024.
Perseroan menyebut kerugian tersebut terutama dipengaruhi pembukuan biaya non-operasional sebagai bagian dari tiga langkah penyehatan yang dilakukan secara bersamaan. Selain itu, pendapatan turun menjadi Rp9,66 triliun dari Rp13,35 triliun, sementara beban lainnya meningkat menjadi Rp5,04 triliun sehingga rugi sebelum pajak mencapai Rp5,60 triliun.