Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Kelakuan SPPG di Ketapang: Rumah Wartawan Dikepung, Istrinya Diintimidasi

RABU, 05 AGUSTUS 2026 | 14:02 WIB

KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang lagi bersih-bersih dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tolong sekalian menyasar di Ketapang.

Dapur SPPG yang suka menyajikan makanan basi harus di-suspend seumur hidup. Jangan kasih kendor, sikat sampai ke akar-akarnya. 

Ceritanya begini, Mas. Saya paling emosional bila ada wartawan diintimidasi. Apalagi sampai istri dan anaknya ikut trauma. 


Soalnya, saya pernah mengalami hal serupa. Karena itu, ketika mendengar A. Hamdani, wartawan anggota PWI Ketapang, Kalbar, rumahnya diserbu, istrinya diintimidasi, amarah saya kumat. Ups.

Ini bukan lagi sekadar soal berita. Ini soal akal sehat sedang digorok ramai-ramai. Selasa 4 Agustus 2026 sekitar pukul 14.30 WIB, rumah Hamdani didatangi sekitar 50 orang. Ironisnya, Hamdani sedang tidak berada di rumah. Yang ada hanya istrinya.

Sang istri hendak menjemput anak menggunakan motor. Tetapi dilarang pergi. Menurut keterangannya, jilbabnya sempat ditarik. Ia kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa untuk menjemput anak. Mungkin supaya tidak pergi.

Sidak bayangkan! Seorang ibu tidak punya urusan dengan pemberitaan, tiba-tiba harus berhadapan dengan kerumunan massa hanya karena suaminya bekerja sebagai wartawan.

Hamdani sempat menelepon istrinya. Ia meminta agar diturunkan di depan Polres. Beruntung, menurut keterangannya, istrinya tidak mengalami kekerasan fisik serius dan kemudian dititipkan di Polres untuk menghilangkan trauma.

Hamdani bersama sejumlah anggota polisi mendatangi rumahnya yang masih dikepung. Ia meminta persoalan diselesaikan di Polres, bukan di rumah.

Akhirnya massa membubarkan diri. Tetapi massa bisa bubar. Trauma tidak punya tombol bubar. Sampai sekarang istrinya masih trauma. Anak-anak juga ketakutan karena menyaksikan langsung kejadian tersebut.

Lalu apa dosa Hamdani? Memberitakan dugaan makanan basi.

Pada 29 Juli 2026, dua wartawan menerima laporan masyarakat mengenai dugaan makanan tidak layak konsumsi yang diterima siswa SMA Negeri 1 Ketapang, SMP St. Agustinus, dan RA Al-Ikhlas. Menu sayur labu siam dan jagung pipil disebut beraroma tidak sedap dan diduga sudah basi.

Wartawan tidak asal menulis. Mereka mendatangi SPPG Ketapang Delta Pawan–Mulia Baru untuk meminta konfirmasi. Kepala SPPG Rahmat Agung Perdana melakukan pengecekan. Hasilnya? Memang ditemukan sayur yang sudah basi.

Koordinator Wilayah BGN Ketapang Boby Nur Haliandi juga membenarkan setelah berkoordinasi dengan Kepala SPPG. Berita pun terbit.

Kemudian pihak SPPG meminta klarifikasi. Diberikan. Hak jawab dimuat. Bahkan dalam surat klarifikasi 1 Agustus 2026, Kepala SPPG Rahmat Agung Perdana bersama Ahli Gizi Rewinda Oryza Sativa mengakui terjadi penurunan kualitas menu sayur pada 29 Juli 2026 dan meminta maaf kepada penerima manfaat.

SPPG menjelaskan penurunan kualitas diduga akibat keterlambatan distribusi menyebabkan perubahan suhu selama perjalanan. Lalu BGN melakukan suspend terhadap dapur tersebut.

Nah, di sinilah logika negeri ini seperti sedang salto tanpa matras. Dapur di-suspend, wartawan disalahkan. Seolah-olah wartawan yang memasak. Seolah-olah wartawan yang mengantar. Seolah-olah wartawan pula memasukkan sayur basi ke dalam omprengan.

Kalau logika seperti ini diteruskan, besok kalau ada berita jalan berlubang lalu jalan diperbaiki, wartawannya mungkin dituduh menggali jalan.

Hamdani mengaku kemudian mendapat pernyataan yang dipahaminya sebagai ancaman, rumahnya akan didatangi relawan. Beberapa hari kemudian, sekitar 50 orang benar-benar datang.

Ce Mery disebut berada bersama rombongan, tetapi dugaan mengenai perannya dalam mengoordinasikan massa belum terverifikasi secara independen. 

Ini penting. Kita boleh marah, tetapi fakta jangan dibakar. Kalau wartawan salah, bantah dengan data. Kalau berita keliru, gunakan hak jawab dan hak koreksi. Kalau merasa dirugikan, tempuh jalur hukum.

Bukan mengepung rumah. Bukan menarik jilbab. Bukan membawa seorang ibu masuk mobil. Bukan membuat anak-anak ketakutan. Karena ketika rumah wartawan dikepung, yang sedang dikepung bukan cuma sebuah rumah. Yang sedang dikepung adalah kebebasan pers.

Hari ini Hamdani. Besok siapa? Kalau setiap berita membuat seseorang kehilangan pekerjaan boleh dibalas dengan menggeruduk rumah wartawan, kita sedang membangun negeri yang lucu sekaligus mengerikan.

Makanan basi boleh diperiksa. Berita boleh dikoreksi. Tetapi intimidasi jangan dinormalisasi. Sebab wartawan punya kewajiban mencari fakta. 

Masyarakat punya hak untuk marah. Tetapi semua orang tetap wajib tunduk pada hukum. Jangan sampai negeri ini punya banyak program bergizi, tetapi kekurangan gizi paling dasar, akal sehat.

“Bang, bukankah abang dulu pernah dicekik oknum aparat, diteror penjudi, digeruduk massa malam-malam.” 

“Itu cerita dulu, wak. Risiko jadi wartawan seperti itu, penuh intimidasi. Semua sudah saya alami, hanya mati yang belum.” Ups

Rosadi Jamani
Mantan Wartawan

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya