Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Laba Tergerus, Saham Lufthansa Anjlok 8 Persen

RABU, 05 AGUSTUS 2026 | 13:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Saham maskapai penerbangan Jerman Deutsche Lufthansa AG anjlok tajam setelah perusahaan memangkas prospek kinerja keuangan tahun ini. 

Berdasarkan data Yahoo Finance, saham Lufthansa yang diperdagangkan di Bursa Xetra ditutup merosot 8,21 persen ke level 8,48 Euro pada Selasa, 4 Agustus 2026. Ini menjadi salah satu penurunan harian terbesar perusahaan dalam beberapa waktu terakhir.

Tekanan terhadap saham muncul setelah Lufthansa mengungkapkan bahwa lonjakan dan fluktuasi harga bahan bakar jet akibat perang di Timur Tengah diperkirakan akan menggerus laba perusahaan. Kondisi tersebut membuat maskapai kesulitan memastikan seluruh kenaikan biaya operasional dapat dibebankan kepada penumpang melalui harga tiket.


Lufthansa kini memperkirakan laba inti (EBIT) tahun 2026 berada di kisaran 1,7 miliar Euro hingga 2,2 miliar Euro (sekitar 2-2,5 miliar Dolar AS). Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan panduan sebelumnya yang menyebut laba tahun ini akan "jauh lebih tinggi" dari capaian tahun 2025 sebesar 1,96 miliar Euro.

Direktur Keuangan Lufthansa, Till Streichert, mengatakan perusahaan masih berupaya mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar dengan menaikkan harga tiket pada paruh kedua tahun ini.

"Tentu saja kami berharap untuk melanjutkan strategi kami di paruh kedua tahun ini dengan menaikkan harga tiket untuk mengimbangi biaya bahan bakar yang lebih tinggi," ujar Streichert dalam konferensi pers usai laporan keuangan.

Namun, ia mengakui prospek tersebut masih diliputi ketidakpastian karena pola pemesanan penumpang berubah.

"Visibilitas di sana agak lebih rendah daripada biasanya karena kami melihat pelanggan memesan lebih sedikit di muka," tambahnya.

Menurut manajemen, ketidakpastian permintaan serta tingginya biaya bahan bakar akibat konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi tantangan utama bagi kinerja Lufthansa hingga akhir tahun. Penurunan prospek laba itu pun langsung memicu aksi jual investor sehingga saham perusahaan terkoreksi lebih dari 8 persen dalam sehari.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya