Taufik Hidayat, korban Karhutla di Desa Sungai Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. (Foto: Istimewa)
SAAT ini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi momok menakutkan. Sudah satu jiwa melayang, semoga tak ada lagi.
Malam 4 Agustus 2026, Jalan Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berubah menjadi neraka.
Api menjalar. Asap menggulung. Pandangan menghilang. Di tengah kobaran itu, petugas berjibaku memadamkan api sekaligus mencari dua warga yang belum ditemukan.
Lalu kabar paling menyakitkan datang. Seorang warga ditemukan meninggal dunia dalam kondisi hangus terbakar. Namanya Taufik Hidayat.
Ia bukan sekadar satu korban. Ia seorang suami. Ia seorang ayah. Ia adalah manusia yang pagi harinya mungkin masih menyimpan rencana untuk hari esok.
Kini, ia tidak akan pernah pulang. Pesan belasungkawa beredar dari Hp ke Hp. Taufik meninggalkan seorang istri dan seorang anak.
Nuan bayangkan seorang anak menunggu ayahnya pulang. Mungkin ia belum memahami mengapa malam itu rumah terasa begitu sunyi. Mungkin ia masih percaya pintu akan terbuka, lalu ayahnya muncul seperti biasanya.
Tetapi malam itu, yang pulang bukan ayah. Yang datang adalah kabar duka. Ada kesedihan tidak membutuhkan banyak kata. Cukup membayangkan seorang istri menerima kenyataan, lelaki yang kemarin masih bernapas, hari ini hanya tinggal nama dalam doa.
Sementara itu, langit Ketapang diselimuti asap. Data BMKG Supadio pada 3 Agustus pukul 23.00 WIB mencatat 275 titik panas di Ketapang, tertinggi di Kalimantan Barat saat itu.
Total Kalbar mencapai 884 titik panas di 13 kabupaten. Sehari sebelumnya, Ketapang tercatat 247 titik, setelah sebelumnya 216 titik pada 25 Juli.
Angka-angka itu terdengar dingin. Kita begitu rajin menghitung titik panas dari satelit. Kita punya teknologi, peta, data, petugas, satgas, status siaga, bahkan rapat yang mungkin jumlahnya lebih banyak dari hujan turun.
Namun malam itu, satu manusia tidak berhasil diselamatkan. Ironis sekali. Kita mampu melihat api dari langit, tetapi kadang terlambat melihat manusia terjebak di dalamnya.
Kita mampu menghitung hotspot sampai satuan terakhir, tetapi betapa sulitnya menghitung air mata seorang anak kehilangan ayah.
Itulah tragedi paling pahit. Bagi satelit, Taufik mungkin hanya berada di dekat titik panas. Bagi keluarganya, ia adalah seluruh dunia.
Ia adalah suara di rumah. Ia adalah tempat anaknya memanggil “Ayah”. Ia adalah seseorang mungkin masih ingin melihat anaknya tumbuh dewasa.
Tetapi api tidak mengenal mimpi. Api tidak mengenal keluarga. Api tidak peduli ada seorang anak menunggu. Ketika api padam, tidak berarti semuanya selesai.
Sebab bagi keluarga Taufik, kebakaran itu baru saja memasuki babak paling panjang, menjalani hidup tanpa dirinya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga istri dan anak yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan. Semoga tragedi ini tidak berhenti sebagai berita sehari, lalu hilang ditelan berita berikutnya.
Sebab bagi media, kematian mungkin menjadi berita. Bagi negara, ia mungkin menjadi data. Tetapi bagi seorang anak, kehilangan ayah adalah luka yang bisa dibawa sampai dewasa.
Selamat jalan, Taufik Hidayat. Tubuhmu mungkin telah menjadi abu. Tetapi semoga namamu tetap hidup dalam doa orang-orang yang mencintaimu.
Semoga setelah tragedi ini, ketika kita melihat titik merah di layar satelit, kita tidak hanya bertanya, “Berapa hotspot hari ini?”
Tetapi juga bertanya, “Berapa manusia lagi yang harus kehilangan rumah, kesehatan, bahkan nyawa, sebelum kita benar-benar serius memadamkan apinya?”
Karena yang terbakar bukan hanya lahan. Malam itu, sebuah keluarga ikut terbakar oleh kehilangan. Seorang anak kehilangan ayahnya. Untuk selamanya.
Rosadi JamaniMantan Wartawan