Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) ditutup melemah pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa 4 Agustus 2026.
Saham emiten teknologi tersebut turun Rp10 atau 1 persen menjadi Rp1.950 per saham, dari penutupan sebelumnya di Rp1.960.
Pantauan RMOL dari data perdagangan, sepanjang perdagangan, WIFI bergerak di kisaran Rp1.935 hingga Rp1.990. Saham dibuka pada Rp1.980 dan sempat menyentuh level tertingginya Rp1.990 sebelum akhirnya berakhir di Rp1.950.
Aktivitas perdagangan WIFI tercatat cukup ramai. Sebanyak 183.006 saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sekitar Rp35,7 miliar melalui 4.028 kali transaksi.
Pada harga Rp1.950, WIFI memiliki laba per saham atau earnings per share (EPS) sebesar Rp120,91 dan price to earnings ratio (PER) sekitar 16 kali. Kapitalisasi pasar perseroan mencapai sekitar Rp10,35 triliun.
Namun, pelemahan pada perdagangan Selasa hanya menjadi pergerakan jangka pendek jika dibandingkan dengan perjalanan saham WIFI sejak pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
WIFI resmi melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 30 Desember 2020. Saat itu, perseroan menawarkan 156,56 juta saham kepada publik dengan harga Rp530 per saham dan menghimpun dana sekitar Rp82,98 miliar.
Dengan harga penutupan Rp1.950 pada Selasa, saham WIFI telah naik sekitar 268 persen dibandingkan harga IPO. Artinya, harga saham WIFI saat ini hampir 3,7 kali lipat dibandingkan harga ketika pertama kali ditawarkan kepada investor publik.
Kenaikan tersebut juga menunjukkan perjalanan yang cukup panjang bagi WIFI. Ketika pertama kali diperdagangkan pada akhir 2020, saham perseroan bahkan ditutup di Rp660, atau melonjak 24,53 persen dari harga IPO Rp530.
Seiring perjalanan bisnisnya, WIFI kini memiliki skala usaha yang jauh lebih besar dibandingkan ketika pertama kali masuk bursa. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah saham WIFI mencapai sekitar 5,31 miliar saham per 22 Juli 2026, mencerminkan adanya perubahan struktur modal dan jumlah saham sejak periode IPO.
Di sisi fundamental, kinerja terbaru perseroan juga menunjukkan pertumbuhan. Pada semester I 2026, WIFI membukukan laba bersih Rp331,16 miliar, meningkat 45,3 persen dibandingkan Rp227,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan lonjakan pendapatan usaha yang mencapai sekitar Rp1,57 triliun. Angka itu meningkat sekitar tiga kali lipat dibandingkan pendapatan Rp513 miliar pada semester I 2025.
Selain pendapatan usaha, penghasilan keuangan WIFI juga meningkat tajam menjadi Rp39,99 miliar pada semester I 2026, atau sekitar 22 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan tersebut antara lain berasal dari bunga dan jasa giro serta bunga deposito perseroan.
Perbandingan antara harga saham dan kinerja keuangan ini menjadi menarik. Dalam hampir enam tahun sejak IPO, harga WIFI telah meningkat sekitar 268 persen. Pada saat yang sama, sepanjang semester I 2026, perseroan masih mencatat pertumbuhan laba dan pendapatan yang signifikan.
Dengan demikian, pergerakan WIFI pada perdagangan Selasa lebih tepat dilihat sebagai koreksi tipis setelah perjalanan kenaikan yang panjang. Tantangannya bagi perseroan adalah mempertahankan pertumbuhan bisnis dan laba agar mampu menopang valuasi saham yang kini jauh lebih tinggi dibandingkan ketika WIFI pertama kali masuk bursa.