Berita

Komut Ethos Group, Mukit Hendrayatno di Auditorium Kantor RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa, 4 Agustus 2026. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Bisnis

Dua Sayap Soemitronomics Harus Dipakai Prabowo Demi Genjot Ekonomi

SELASA, 04 AGUSTUS 2026 | 23:42 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pemikiran begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo, memiliki cabang basis ekonomi yang dapat dipertimbangkan Presiden Prabowo Subianto sebagai upaya menggenjot perekonomian nasional di tengah tantangan hari ini.

Hal itu disampaikan oleh Komisaris Utama (Komut) Ethos Group, Mukit Hendrayatno, dalam Deklarasi Hari Kebangkitan Ekonomi Pancasila sekaligus peluncuran buku berjudul "Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan", di Auditorium Kantor RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa, 4 Agustus 2026.

"Berkaitan dengan Soemitronomics, saya sedikit membaca bahwa ada dua sayap. Sayap pertama adalah pemerataan pembangunan, yang kedua adalah industri gitu ya, industrialisasi," ujar Mukit di awal paparannya.


Dia menjelaskan dari kacamata praktisi pebisnis di sektor teknologi marketing, digital marketing, dengan basis produknya adalah makanan kesehatan dan herbal atau jamu, terdapat tantangan dalam memasarkan produk di masa sekarang ini. 

"Tapi memang sangat tidak mudah menurut saya kalau situasinya seperti ini, maka industri yang hari ini ada maka akan tetap industri masa lalu," ungkapnya khusus berbicara soal industrialisasi. 

Sebagai contoh, dia menyebutkan tren industrialisasi di pasar modal mengenai capaian usaha perusahaan yang masuk kategori bawah yang terbilang mandek, dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang.

"Kalau kita melihat dua tahun lalu IHSG pasar saham kita membuka apa namanya kelas akselerasi. Hampir 30 emiten di-listing di IHSG dengan omzet paling minimal 30 miliar setahun. Which is itu omzet yang kecil lah ya gitu," papar Mukit.

"Tetapi yang gagal berapa rekan-rekan semua? Kalau tidak salah akselerasi hari ini, emiten akselerasi di-suspend, diberhentikan oleh OJK karena apa? Karena dari 30 itu hampir gagal semua. Hampir gagal semua. Mau jualan pisang, gagal. Mau jualan udang, pengepakan ikan, gagal. Jualan kertas, gagal. Jualan apa saja gagal," sambungnya.

Dia memandang, sayap industrialisasi sebagai salah satu pemikiran Soemitro yang merupakan Ayah dari Presiden Prabowo Subianto, masih menjadi pekerjaan yang harus terus digenjot.

"Ini dicita-citakan oleh Pak Soemitro ya, yang kemudian beliau memberikan konsep infant industry, industri yang harus dikungkung, kemudian ada program benteng gitu ya," tuturnya.

"Saya kira ini perlu menjadi pertimbangan serius ya supaya ke depan industri-industri yang baru ini bisa muncul menjadi anchor baru pertumbuhan nasional gitu ya," tambah Mukit.

Lebih lanjut, Mukit memandang perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah terhadap dua hal, yakni pertama adalah policy pemerintah dalam membangun landscape yang bagus, sehat, kompetitif. Kemudian kedua, memberikan kesempatan kepada anak-anak muda hari ini untuk mengembangkan entrepreneurship.

"Berkaitan dengan infant industry dan itu terjadi di industri obat, di industri daging, di industri gandum, di industri macam-macam. Jadi andai kita sebagai bangsa itu bareng-bareng teguh dengan konsepnya Pak Soemitro dengan infant industry, kemudian juga perlu membangun satu ekosistem yang sehat. Sehingga anak-anak muda ini mau menjadi satu entrepreneur-entrepreneur yang sehat," ungkapnya. 

"Menjadi industrialisasi-industrialisasi yang sehat, bukan hanya main saham atau main rente atau mencari anggaran pemerintah. Saya kira ini menjadi jalan yang menarik untuk membaca masa depan Indonesia ke depan," pungkasnya.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya